Pekerja Seks Bersuara di Media Sosial

News / Internasional

Ketika Pekerja Seks Bersuara di Media Sosial

Sabtu, 4 April 2015 | 09:05 WIB
BBCMadison Messina, PSK dari Australia, mengatakan artikel mengenai perdagangan manusia membungkam suara PSK.

KOMPAS.com — Penilaian bahwa realitas hidup pekerja seks komersial (PSK) amat buruk membangkitkan amarah sejumlah PSK asal Australia. Beberapa di antara mereka kemudian menggerakkan aksi protes di dunia maya.

“Mahasiswi. Bercita-cita menjadi pengacara. Aktivis. Anak perempuan, adik, pekerja seks. Saya tidak perlu diselamatkan.”

Kata-kata yang muncul pada biodata akun jejaring sosial seorang PSK di Australia itu hanyalah sekelumit dari pernyataan sikap ratusan perempuan berprofesi serupa yang memunculkan tanda pagar #facesofprostitution di jagat Twitter.

Tagar itu diciptakan Tilly Lawless, seorang PSK berusia 21 tahun, pada akun Instagram miliknya, 29 Maret lalu. Penyandang gelar sarjana bidang sejarah itu merespons artikel majalah perempuan Australia, Mamamia, yang khusus membahas nasib PSK guna memperingati 25 tahun dirilisnya film Pretty Woman.

Dalam artikel itu, penulis berargumen bahwa nasib PSK sebenarnya jauh lebih buruk jika dibandingkan dengan nasib tokoh PSK yang diperankan Julia Roberts dalam film tersebut.

Tilly Lawless mengaku marah dengan isi artikel tersebut yang “menyamaratakan semua PSK” dan “membayangkan profesi PSK sebagai sesuatu yang membahayakan”.

Didorong oleh kemarahannya, Tilly memutuskan untuk menampilkan foto dirinya pada jejaring Instagram untuk menunjukkan wajah lain prostitusi. Tilly mengaku telah bekerja sebagai PSK di Sydney secara legal sejak dua bulan lalu.

Beberapa saat kemudian, Tilly dihubungi Scarlett Alliance, Asosiasi Pekerja Seks Australia. Lembaga itu meminta Tilly memunculkan tagar khusus di Twitter.

Menyebar luas

Dalam tempo singkat, #facesofprostitution menyebar luas dan dipakai sebagai pernyataan sikap para PSK di Australia. Mereka mengunggah foto wajah mereka secara terang-terangan di Twitter, bahkan ada yang untuk pertama kali mengaku berprofesi sebagai PSK.

“Saya benar-benar kaget dan gembira,” ujar Tilly kepada BBC. Sebab, menurut dia, “PSK amat jarang diperlakukan sebagai manusia dan kerap kali hanya tubuh kami yang dibicarakan. Namun, menaruh wajah kami di media sosial pengaruhnya sungguh kuat.”

Senada dengan Tilly, Holly, yang juga berprofesi sebagai PSK, mengaku amat keberatan dengan foto yang sering dipakai untuk menggambarkan nasib PSK, yakni foto-foto perempuan asal Eropa Timur korban perdagangan manusia.

“Itu bukan wajah kami, bukan pengalaman hidup kami,” kata Holly kepada BBC.

“Artikel itu menggunakan argumentasi perdagangan manusia untuk membungkam suara kami dan pada saat bersamaan membungkam suara-suara para korban perdagangan,” timpal Madison Messina, seorang PSK di Australia.

Menghapus perbudakan seks

Tulisan yang membandingkan nasib para PSK dengan tokoh PSK dalam film Pretty Woman pertama kali muncul pada situs organisasi Kristen bernama Exodus Cry. Pada situs daringnya, organisasi itu menyatakan berkomitmen menghapuskan perbudakan seks.

Adapun penulis tulisan tersebut ialah Laila Mickelwait. Dia menyatakan film Pretty Woman telah membujuk perempuan-perempuan muda ke dunia pelacuran yang membuat mereka mengalami pelecehan dan trauma.

Meski dihadapkan pada argumentasi Tilly Lawless dan tagar #facesofprostitution, Mickelwait mengatakan kepada BBC bahwa dia tetap dengan pendiriannya. Bahkan, menurut dia, legalisasi prostitusi justru menciptakan perdagangan manusia bertumbuh subur.

“Hanya karena ada segelintir perempuan dan pria yang mengunggah foto di Twitter dan mengatakan profesi mereka memberi kekuatan, tidak berarti industri seks benar. Mereka punya suara, tetapi suara mereka ialah suara minoritas yang punya keistimewaan beredar di Twitter dan bisa mengunggah segala macam foto,” kata Mickelwait.

Kutipan dari :

http://internasional.kompas.com/read/2015/04/04/09053531/Ketika.Pekerja.Seks.Bersuara.di.Media.Sosial

Tambahan Komentar :

Mengapa selalu orang (Makhluk) menyudutkan PSK (Wanita Penghibur)? 

– Harapan ke depan tiada yang menyudutkannya, merupakan tantangan Publik (masyarakat) merangkul membantu memberikan tempat di masyarakat dengan mencarikan jalan bekerja (bukan sebagai wanita penghibur) sebagai orang (makhluk) yang pantas di segala bidang. Bukan menyudutkan.

Siapakah yang bersalah dalam hal tunbuhnya wanita penghibur?

– Pada pemerintahan suatu Negara, dengan Makmurnya Negara tersebut 100% tidak akan memunculkan wanita penghibur. Berarti Negara mempunyai andil kesalahan terbesar dengan munculnya wanita penghibur, karena tidak mampu menyekolahkan (pendidikan layak), mensejahterakan dan membahagiakan Rakyatnya. Apalagi bila Negara tersebut penuh dengan Koruptor (Penjahat yang paling bertanggung jawab baik dalam segi moral maupun materil).

Siapakah yang ingin menjadi wanita penghibur?

– Cobalah tanyakan pada mereka siapa yang ingin menjadi wanita penghibur? Jawabannya, pasti tidak ada yang ingin menjadi wanita penghibur jikalau Kesejahteraan (Moral, pendidikan, pangan, Kesehatan) tercukupi untuk mereka.

Bagaimanakah mengenai hukuman pada pelecehan pada wanita dan gadis (di bawah umur bahkan Balita) di mata Hukum.

Kenyataan menjawab bahwa banyak OKNUMISASI dari pejabat menjadi pelaku utama dalam kejadian tersebut, bagaimana menindaknya jikalau hukum tidak di tegakkan. Tidak menindaknya maka Pemerintahan tersebut mempunyai Moral terbejat di semua alam, malah membuat Rakyat menderita lahir dan batin sehingga sulit terlupakan.

– Hukum harus di tegakkan, para pelaku, siapapun pelakunya (Raja, Presiden, Aparatur, Bangsawan atau apapun) semua harus di tindak, bahkan untuk aparatur maupun Bangsawan harus di beri 3 x lipat dari Hukuman Rakyat Biasa karena mereka tidak mampun memberikan teladan yang bagus untuk Rakyatnya.

Bagaimanakah para Koruptor (OKNUMISASI).

– Oknumisasi merupakan Aparatur daru suatu Negara, maka perlu di tindak lebih tegas karena hasil Korupsi mereka membuat Negara tidak mampu memberikan Kesejahteraan (Moral, pendidikan, pangan, Kesehatan) sehingga terjadi ketimpangan lebar pada kehidupan masyarakat (Kaya dan Miskin) dan Perekonomian yang lebih merusak dari Obat-Obatan terkontrol (Drug).

– Hukuman Publik sudah sepantasnya di berikan dengan memajang mereka di lapangan yang terikat pada kaki maupun tangan sehingga menjadikan pelajaran Moral membangun bangsa akan rasa malu dalam perbuatan yang telah mereka lakukan (menyengsarakan Rakyat) sehingga di kemudian hari para Aparatur maupun bangsawan akan berpikir ribuan kali untuk melakukan Pelecehan Seksual, Korupsi, Kejahatan Ekonomi dan Teroris atau Kejahatan apapun.

.

Harapan semua Negara mampu memberrantas segala Kejahatan dan memberikan Kesejahteraan (Moral, pendidikan, pangan, Kesehatan), Keadilan dan Kebahagian pada Rakyatnya.

 

 

Dengan Berdasarkan UUD yang menjadi Pedoman Hukum dan Pelayanan pada Warga, sudah sepantasnya Warga tidak mampu di berikan Makan, Sekolah, Kesehatan, Pekerjaan dan Tempat tinggal (Bagi Warga di atas 50 Tahun bagi yang tidak mampu, Rumah Jompo, Bebas Biaya).

Dengan UUD yang mengatur untuk warga tidak mampu mengenai Makan, Sekolah, Kesehatan dan Pekerjaan, maka :

Perihal Prostitusi merupakan Larangan dan di atur dalam Peraturan Pemerintah. (di Pidanakan).

Peraturan tersebut di buat dengan tujuan tidak mempermalukan Pemerintah pada masalah Prostitusi (Sangat memalukan tidak dapat mengajarkan Moralitas yang baik pada Warga).

Mark Mamangkey Tjost

Tjoaputra

Tujuan dari Facebook membuat Media Sosial di mana kita dapat belajar bersama, meningkatkan Kwalitas diri pada pengertian melalui Media. (malu Bertanya Sesat di Jalan).

Saya tidak percaya pada tuhan atau Allah, yang saya percaya/bersandar pada Yang Maha Kuasa. (tuhan dengan Dewa adalah berbeda)

Dalam Bahasa Indonesia tidak mengenal kata Agama yang ada adalah Ajaran, tiada asal usul kata Agama. Dalam Bahasa Inggris tertulis Religius adalah Ajaran/Kerpercayaan.

Tuhan / Allah (Bibel/Quran) adalah Kebohongan terbesar di Dunia. Siap menerima Debat depan TV, Media, Elektronik secara langsung tanpa ada editan.

Mengajar/memberitakan/menyiarkan/membawa/menyebarkan Ajaran melalui Media Cetak/Elektronik/Radio/Internet memakai/menggunakan nama/kitab Allah/Tuhan/Agama/ilahi/Jibril/Bibel/Quran, di Pidana Minimal 10 Tahun, bertingkat. (Pasal 378, in Indonesia).
Alasan silahkan baca :

https://tjoaputra.wordpress.com/2015/07/24/ajaran-bersih-benar-jujur-terbuka-bertanggung-jawab-dan-transparan/

Merupakan tugas saya sebagai warga Dunia memperlihatkan Kebohongan terbesar di Dunia untuk di ungkap sehingga tidak berkepanjangan.

https://tjoaputra.wordpress.com/2015/01/18/mengapa-tuhan-membiarkan-anak-anak-jadi-pelacur/

 

 

 

Advertisements

About Tjoapoetra

Suatu perbuatan yang menguntungkan makhluk lain dan diri sendiri maka perbanyak lakukanlah. Suatu perbuatan yang merugikan makhluk lain dan menguntungkan diri sendiri jangan dilakukan. Suatu perbuatan yang merugikan makhluk lain dan diri sendiri maka hindarilah dan jangan dilakukan. Fav : Bernapaslah dengan Cinta, Bernapaslah dengan Kasih, Bernapaslah dengan Kejujuran. Berjalanlah dengan Kebenaran, Berjalanlah dengan Kedamaian, Berjalanlah dengan Kesetiaan. Berusahalah dengan Giat, Berusahalah yang Terbaik, Berusahalah setiap Waktu. Harapan Semua Makhluk Bahagia, Harapan Semua Makhluk Sejahtera, Harapan Semua Makhluk Terlepas dari Penderitaan Dan Sukses Selalu dalam Kebajikan. Pada Tiap Kehidupan : Lakukanlah yang terbaik untuk kebaikan dalam kebenaran apapun yang terjadi pada diri sendiri. Tetap fokus pada Kebajikan sehingga menciptakan Kedamaian, Kebahagian dan Kesejahteraan bagi semua Makhluk.

Posted on April 5, 2015, in Umum. Bookmark the permalink. 10 Comments.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: