Manakah Yang Benar

Manakah Yang Benar
(dikutip dari buku “Kisah-Kasih SpiritualBagian 14 –  Wisnu Prakasa“)

75918_10151861876996714_1468976777_n

Seorang umat yang sudah berumur diatas 50 tahun, mengunjungi saya di rumah. Kedatangan umat ini untuk bertukar pengalaman tentang Ajaran-ajaran spiritual yang telah didapatnya dari Guru-Guru spiritualnya yang berasal dari berbagai aliran dan kepercayaan. Setelah hampir setengah jam, umat ini dengan serius menceritakan pengalaman dan pembinaan spiritualnya, saya tetap saja banyak berdiam diri, karena tidak berniat untuk memberikan komentar apapun padanya. Walaupun beberapa kali saya ditanya akan pandangan saya terhadap Ajaran tertentu, dengan singkat saya hanya dapat memberikan jawaban yang sama “Sangat bagus sekali.”

Setelah hampir satu jam penuh, umat ini baru mulai menyadari bahwa saya tidak berniat sedikitpun akan mengomentari setiap pertanyaannya yang menyinggung Ajaran-Ajaran masing-masing aliran dan kepercayaan.

Dan akhirnya umat ini berkata kepada saya, “Kali ini saya mohon petunjukan yang sebenar-benarnya. Walaupun saya banyak mempelajari pengetahuan agama dan spiritual, saya tetap saja bingung akan kebenarannya, karena setiap aliran memiliki pandangan yang berbeda-beda……….” dan masih panjang lagi kata-kata yang diucapkannya, yang intinya menyatakan kebingungan akan kehidupan spiritualnya, sehingga dirinya akhirnya berpindah-pindah dari satu aliran ke aliran lainnya.

Umat ini kemudian mengemukakan keraguannya, “…………. Manakah yang benar, karena Aliran Kepercayaan menyatakan bahwa Sang Hyang yang menciptakan segalanya, Umat Budha mengatakan bahwa ‘Mind’ yang menjadikan segalanya, Di dalam Sutra menyatakan bahwa seluruhnya berasal dari Kekosongan. Para Philosophi mengatakan bahwa ‘Consciousness’ yang membuat segalanya. Mohon jawablah pertanyaan saya yang satu ini, karena apa yang saya pelajari selama ini tidak dapat menjelaskan keraguan saya ini.” pintanya kepada saya dengan nada dan wajah yang sangat memelas.

Melihat raut muka umat ini yang demikian memelas, dan mempertimbangkan umur beliau yang sudah tidak muda lagi. Saya akhirnya terpaksa mempertimbangkan untuk memberikan  komentar juga atas pertanyaannya.

Dengan sedikit perlahan agar umat ini dapat lebih memahami ucapan saya, saya berkata:
“Jika anda ingin mencari Kebenaran akan siapa yang menjadikan segalanya, anda harus memahami dasar dari segala Kebenaran. Dan ini telah tertulis dalam Kalimat Pertama dari Bab Pertama dalam Tao Te Ching: ‘Tao yang dapat dijelaskan, adalah bukan Tao yang sebenarnya.
Jadi jika ada Kebenaran yang dapat dijelaskan akan ‘Siapakah yang menjadikan segalanya’, sudah pasti bukan Kebenaran yang sesungguhnya, dan berarti bukan yang menjadikan segalanya yang sebenarnya.
Jika anda dapat memahami kebenaran ucapan saya, inipun berarti bukan Kebenaran yang sesungguhnya pula. Jadi manakah yang benar ?”

Mendengar jawaban yang cukup panjang lebar dan sangat membingungkan dari saya, umat ini terdiam dan membisu saja selama kurang lebih 3 menit. Tiba-tiba dirinya berkata, “Betapa bodohnya saya selama ini!”,  sehingga saya agak terkejut dengan kata-katanya ini. Kemudian, umat ini langsung bangkit dari kursinya dan menghormati saya seketika itu juga, sambil berkata, “Terima kasih…terima kasih…atas bantuannya.”

Sekarang, giliran saya yang tidak memahami, mengapa jawaban saya yang sangat membingungkan itu, menjadi sedemikian besar maknanya bagi dirinya. Mungkin ketidak pahaman saya akan apa yang baru saja saya katakan dan ketidak tahuan saya dengan apa yang umat ini pahami dari jawaban saya yang demikian, menjadi dirinya merasa adanya Kebenaran dalam pemahaman kehidupan spiritualnya.

Ternyata Kebenaran itu memang:
sangat sulit dijelaskan,
sangat sulit diterima,
sangat sulit dilihat,
sangat sulit dirasakan,
sangat sulit dipahami,
apalagi dibuktikan.

Kutipan dari :

http://www.goldenmother.org/info/Kisah-Kasih/L-M/Manakah%20Yang%20Benar.htm

Tambahan :

Jika Yang Maha Kuasa, tidak berupa/berbentuk dan di Rasakan oleh Makhluk, apakah pantas sebagai Makhluk membanding/memperkirakan/mengira/memikirkan segala sesuatu apa atau siapa Yang Maha Kuasa.

Sebagai Makhluk kita hanya dapat mengucapkan Sujud Syukur pemberian Yang Maha Kuasa, tanpa perlu mencari tahu siapa maupun apa dan memperkirakan sifat dari Yang Maha Kuasa. Karena Yang Maha Kuasa tidak berupa/berbentuk dan tidak mempunyai sifat atau dapat di pikirkan oleh Makhluk.

Jika masih dapat di pikirkan maka masih Makhluk nama-nya.

Advertisements

About Tjoapoetra

Suatu perbuatan yang menguntungkan makhluk lain dan diri sendiri maka perbanyak lakukanlah. Suatu perbuatan yang merugikan makhluk lain dan menguntungkan diri sendiri jangan dilakukan. Suatu perbuatan yang merugikan makhluk lain dan diri sendiri maka hindarilah dan jangan dilakukan. Fav : Bernapaslah dengan Cinta, Bernapaslah dengan Kasih, Bernapaslah dengan Kejujuran. Berjalanlah dengan Kebenaran, Berjalanlah dengan Kedamaian, Berjalanlah dengan Kesetiaan. Berusahalah dengan Giat, Berusahalah yang Terbaik, Berusahalah setiap Waktu. Harapan Semua Makhluk Bahagia, Harapan Semua Makhluk Sejahtera, Harapan Semua Makhluk Terlepas dari Penderitaan Dan Sukses Selalu dalam Kebajikan. Pada Tiap Kehidupan : Lakukanlah yang terbaik untuk kebaikan dalam kebenaran apapun yang terjadi pada diri sendiri. Tetap fokus pada Kebajikan sehingga menciptakan Kedamaian, Kebahagian dan Kesejahteraan bagi semua Makhluk.

Posted on January 4, 2015, in TAO'ES. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: