Nasib Baik Berasal dari Kebajikan, bukan Keberuntungan

Nasib Baik Berasal dari Kebajikan, bukan Keberuntungan

Selama masa dinasti Ming, ada seorang pria bernama Zhang Weiyan dari provinsi Jiangsu. Dia adalah seorang penulis yang terampil dan cukup terkenal. Pada tahun Jiawu, Dia mengikuti ujian di pengadilan tapi gagal. Sambil berdiri di tempat pengumuman dia memaki-maki para hakim yang mengeluarkan hasil ujian itu, merasa para hakim tidak bisa mengenali mereka yang memiliki bakat.

Bersamaan saat itu, ada seorang Pendeta Tao lewat dan mendengarnya. Sambil tersenyum Dia berkata, “Saya bisa memastikan bahwa tulisan Anda sangatlah buruk.” Mendengar itu, Zhang kemudian melampiaskan kemarahannya pada Pendeta Tao.

“Mengapa menertawakan tulisanku, Anda belum membacanya bagaimana bisa tahu kalau itu buruk?“ Pendeta Tao menjawab, “Kunci untuk menulis adalah hati harus tenang dan terus menjaganya untuk tetap tenang. Sekarang Anda memaki-maki Hakim dan sangat marah, bagaimana bisa menghasilkan karya yang baik?“ Zhang sangat terkejut dan menyadari kesalahannya, akhirnya dia meminta bantuan kepada Pendeta Tao itu.

“Tulisan tentu harus baik, tapi jika ditakdirkan untuk gagal, keterampilan sebaik apapun tidak akan membantu Anda. Jalan terbaik adalah mengubah sikap dan perilaku,” jelas Pendeta Tao.

Zhang bertanya, “Bagaimana cara untuk mengubahnya? ”Pendeta Tao menjawab, “Jika mengikuti ajaran Sang Pencipta dan melakukan perbuatan baik, apa yang tidak bisa Anda dapatkan?“

Zhang sambil mendesah berkata, “Saya hanya seorang sarjana miskin. Di mana bisa menemukan cukup uang untuk melakukan perbuatan baik?“

Pendeta Tao menjawab, “Jadilah orang yang penuh belas kasih dan mengultivasi sifat baik. Hal yang paling penting adalah hati. Setiap saat menanamkan kebaikan dalam hati. Rendah hati dan selalu siap membantu orang lain dengan hati yang benar-benar tulus. Ikuti ajaran Tuhan, orang tidak perlu uang untuk melakukan perbuatan baik. Mengapa tidak sebaiknya intropeksi diri daripada memaki hakim tersebut.” Zhang Weiyan mengerti, sambil mengucapkan terima kasih lalu dia pergi.

Sejak saat itu Zhang Weiyan sangat baik pada semua orang dan ketat mematut dirinya. Berkultivasi kebaikan dan menjadi orang yang bermoral tinggi. Dia mendirikan sekolah, menghimbau penduduk untuk bersekolah. Mengajar tiap orang tidak melakukan perbuatan menyimpang dan melakukan perbuatan baik tak peduli betapa kecil situasinya. Dia sangat dipuji oleh penduduk.

Tiga tahun berlalu, suatu hari Zhang Weiyan bermimpi memasuki sebuah rumah besar. Ada sebuah buku, di dalam buku tersebut ada daftar nama dan halaman kosong. Dia bertanya pada orang di dekatnya mengenai buku tersebut. Orang itu menjawab, ”Dalam buku ini ada daftar nama-nama yang diterima pada musim gugur ini. Jika nama muncul dan orang tersebut tidak melakukan kesalahan, namanya akan tetap disimpan. Halaman kosong adalah mereka yang terhapus namanya karena mereka telah melakukan kesalahan. Nama Anda telah tersimpan di buku ini karena tiga tahun terakhir ini Anda baik terhadap semua orang.”

Tahun itu Zhang Weiyan lulus ujian pengadilan. Dia tetap rendah hati, membantu orang yang membutuhkan dan terus mengultivasi hati dengan prinsip-prinsip langit .

Nasib Baik Berasal dari Kebajikan, bukan Keberuntungan

Selama masa dinasti Ming, ada seorang pria bernama Zhang Weiyan dari provinsi Jiangsu. Dia adalah seorang penulis yang terampil dan cukup terkenal. Pada tahun Jiawu, Dia mengikuti ujian di pengadilan tapi gagal. Sambil berdiri di tempat pengumuman dia memaki-maki para hakim yang mengeluarkan hasil ujian itu, merasa para hakim tidak bisa mengenali mereka yang memiliki bakat.

Bersamaan saat itu, ada seorang Pendeta Tao lewat dan mendengarnya. Sambil tersenyum Dia berkata, “Saya bisa memastikan bahwa tulisan Anda sangatlah buruk.” Mendengar itu, Zhang kemudian melampiaskan kemarahannya pada Pendeta Tao.

“Mengapa menertawakan tulisanku, Anda belum membacanya bagaimana bisa tahu kalau itu buruk?“ Pendeta Tao menjawab, “Kunci untuk menulis adalah hati harus tenang dan terus menjaganya untuk tetap tenang. Sekarang Anda memaki-maki Hakim dan sangat marah, bagaimana bisa menghasilkan karya yang baik?“ Zhang sangat terkejut dan menyadari kesalahannya, akhirnya dia meminta bantuan kepada Pendeta Tao itu.

“Tulisan tentu harus baik, tapi jika ditakdirkan untuk gagal, keterampilan sebaik apapun tidak akan membantu Anda. Jalan terbaik adalah mengubah sikap dan perilaku,” jelas Pendeta Tao.

Zhang bertanya, “Bagaimana cara untuk mengubahnya? ”Pendeta Tao menjawab, “Jika mengikuti ajaran Sang Pencipta dan melakukan perbuatan baik, apa yang tidak bisa Anda dapatkan?“

Zhang sambil mendesah berkata, “Saya hanya seorang sarjana miskin. Di mana bisa menemukan cukup uang untuk melakukan perbuatan baik?“

Pendeta Tao menjawab, “Jadilah orang yang penuh belas kasih dan mengultivasi sifat baik. Hal yang paling penting adalah hati. Setiap saat menanamkan kebaikan dalam hati. Rendah hati dan selalu siap membantu orang lain dengan hati yang benar-benar tulus. Ikuti ajaran Tuhan, orang tidak perlu uang untuk melakukan perbuatan baik. Mengapa tidak sebaiknya intropeksi diri daripada memaki hakim tersebut.” Zhang Weiyan mengerti, sambil mengucapkan terima kasih lalu dia pergi.

Sejak saat itu Zhang Weiyan sangat baik pada semua orang dan ketat mematut dirinya. Berkultivasi kebaikan dan menjadi orang yang bermoral tinggi. Dia mendirikan sekolah, menghimbau penduduk untuk bersekolah. Mengajar tiap orang tidak melakukan perbuatan menyimpang dan melakukan perbuatan baik tak peduli betapa kecil situasinya. Dia sangat dipuji oleh penduduk.

Tiga tahun berlalu, suatu hari Zhang Weiyan bermimpi memasuki sebuah rumah besar. Ada sebuah buku, di dalam buku tersebut ada daftar nama dan halaman kosong. Dia bertanya pada orang di dekatnya mengenai buku tersebut. Orang itu menjawab, ”Dalam buku ini ada daftar nama-nama yang diterima pada musim gugur ini. Jika nama muncul dan orang tersebut tidak melakukan kesalahan, namanya akan tetap disimpan. Halaman kosong adalah mereka yang terhapus namanya karena mereka telah melakukan kesalahan. Nama Anda telah tersimpan di buku ini karena tiga tahun terakhir ini Anda baik terhadap semua orang.”

Tahun itu Zhang Weiyan lulus ujian pengadilan. Dia tetap rendah hati, membantu orang yang membutuhkan dan terus mengultivasi hati dengan prinsip-prinsip langit .

Kutipan dari :

Advertisements

About Tjoapoetra

Suatu perbuatan yang menguntungkan makhluk lain dan diri sendiri maka perbanyak lakukanlah. Suatu perbuatan yang merugikan makhluk lain dan menguntungkan diri sendiri jangan dilakukan. Suatu perbuatan yang merugikan makhluk lain dan diri sendiri maka hindarilah dan jangan dilakukan. Fav : Bernapaslah dengan Cinta, Bernapaslah dengan Kasih, Bernapaslah dengan Kejujuran. Berjalanlah dengan Kebenaran, Berjalanlah dengan Kedamaian, Berjalanlah dengan Kesetiaan. Berusahalah dengan Giat, Berusahalah yang Terbaik, Berusahalah setiap Waktu. Harapan Semua Makhluk Bahagia, Harapan Semua Makhluk Sejahtera, Harapan Semua Makhluk Terlepas dari Penderitaan Dan Sukses Selalu dalam Kebajikan. Pada Tiap Kehidupan : Lakukanlah yang terbaik untuk kebaikan dalam kebenaran apapun yang terjadi pada diri sendiri. Tetap fokus pada Kebajikan sehingga menciptakan Kedamaian, Kebahagian dan Kesejahteraan bagi semua Makhluk.

Posted on October 4, 2014, in TAO'ES. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: