Jangan Menduakan Yang Maha Kuasa

Jangan Menduakan Yang Maha Kuasa
(dikutip dari buku “
Kisah-Kasih Spiritual –  Wisnu Prakasa“)

10565119_674622489254422_122140300470759287_n

Kesadaran Sejati adalah  Tunggal, tetapi pikiran tidak  Tunggal. Dengan memahami alamiah ke tunggalan akan akan kesadaran sejati, para mahluk dapat bersatu pada Yang Maha  Kuasa.

 

Yang Maha  Kuasa tidak dapat dinamakan, karena nama apapun tidak dapat mewakili, melambangkan maupun menggambarkannya. Saya menyebut dengan Yang Maha Kuasa (para mahluk lain dari berbagai Ajaran  menyebut dan melambangkan kebesaran Yang Maha  Kuasa dengan bermacam-macam nama: Yang Maha Pencipta, Yang Maha Tunggal, Yang Maha Mulia, Sang Pencipta, Tuhan, Allah, Thien, Tao, Hyang Widhi, dsb.). Walaupun menurut saya pribadi, penyebutan dengan nama apapun, tetap tidak pantas untuk menyatakan Ke-Agung-an dari Yang Maha  Kuasa. Pikiran manusia sangat terbatas, sehingga tidak ada nama dan kata-kata yang benar-benar dapat menggambarkan Keagungan dan Kemuliaan dari   Yang Maha Kuasa.

 

Kebiasaan yang timbul untuk menyebut dengan nama dan kata-kata, cenderung membuat manusia menciptakan sendiri akan gambaran Yang Maha  Kuasa. Manusia hanya mampu menggambar sebatas gambaran pikirannya. Kelemanan dan keterbatasannya pikiran manusia sendiri, tanpa disadari justru membuat mereka cenderung menduakan Yang Maha Kuasa.

 

Manusia di zaman ini secara tidak langsung telah mengukur Ke-Agungan dan Ke-Muliaan dari Yang Maha Kuasa hanya sebatas dengan apa yang dapat mereka lihat, dengar, dan rasakan. Manusia cenderung membatasi kekuasaan Yang Maha Kuasa hanya sebatas pengetahuan yang telah mereka pelajari saja.

 

Akhirnya mereka cenderung menganggap bahwa kuasa Yang Maha Kuasa hanya sebatas logika dan ilmu pengetahuan manusia. Manusia tidak lagi menyadari bahwa kekuasaan dari Yang Maha  Kuasa, sebenarnya adalah tanpa batas dan jauh melampau segala pencapaian ilmu pengetahuan dan logika dari pikiran manusia.

 

Guru Besar Tao, master Lao-Tzu juga tidak bermaksud menyebutnya dengan nama dan sebutan apapun. Walaupun akhirnya Master Lao-Tzu menyebutnya dengan “Tao”, tetapi sesungguhnya beliau hanya ingin menunjukan kepada para mahluk akan adanya Yang Maha Kuasa sebagai awal dari segala. Guru Besar Lao-Tzu telah menjelaskan bahwa sifat alamiah dari Yang Maha  Kuasa adalah tanpa batas.

 

Para umat Bunda Mulia memahami bahwa Yang Maha Kuasa adalah awal dari segala. Dengan pemahaman ini, para umat Bunda Mulia dalam pembinaannya sangat tidak boleh menduakan Yang Maha Kuasa. Dimana Yang Maha Kuasa adalah Yang Maha Kuasa, dan bukan Yang Maha  Kuasa adalah bukan Yang Maha Kuasa. Inilah dasar kebenaran mutlak dari pemahaman dasar Yang Maha Kuasa.

 

Umat Bunda Mulia berlatih dan membina dengan giat segala macam ajaran Bunda Mulia, agar Kesadaran Sejati dapat bersatu kembali pada Yang Maha Kuasa. Mereka mengetahui bahwa pada awalnya kesadaran sejati para mahluk telah menyatu dengan Yang Maha Kuasa, tetapi karena ketidak-tahuan dan kebodohan para mahluk sendiri yang menjerumuskan para mahluk ke alam pikiran yang terpisah dari Yang Maha Kuasa.

 

Umat Bunda Mulia memahami bahwa kehidupan para mahluk tidak abadi, tetapi Yang Maha Kuasa merupakan sumber keabadian. Para umat Bunda Mulia giat membina kesadaran sejati dan roh sejati, karena hanya dengan Kesadaran Sejati yang jernih dan Roh Sejati yang suci maka dapat bersatu kembali pada Yang Maha Kuasa.

 

Bilamana Kesadaran Sejati dan Roh Sejati telah dapat bersatu kembali pada Yang Maha Kuasa, maka Kesempunaan Sejati akan dicapai sehingga sumber awal penderitaan yang berawal dari lingkaran kelahiran dan kematian tidak lagi dapat mempengaruhinya. Bersatu kembali pada Yang Maha Kuasa berarti telah mencapai tingkat kesempunaan sejati dimana kehidupan abadi (immortal) tercapai dengan sendirinya.

 

Umat Bunda Mulia memahami bahwa Yang Maha Kuasa tidak akan pernah sedikitpun menjauh ataupun meninggalkannya, sehingga mereka membina kehidupan spiritual untuk memahami kembali keseluruhan tentang jati-diri yang sebenarnya dari tubuh, kesadaran sejati, dan roh sejati. Oleh karena itu, para umat Bunda Mulia tidak akan mencari sifat alamiah Yang Maha Kuasa di luar dari jati-dirinya. Hanya dengan memahami jati-diri yang sebenarnya, maka para mahluk dapat menyatu kembali pada Yang Maha Kuasa dimana sebenarnya Yang Maha Kuasa memang tidak pernah menjauh ataupun meninggalkannya.

Kutipan dari :

http://www.goldenmother.org/info/Kisah-Kasih/C-J/Jangan%20Menduakan%20Yang%20Maha%20Tunggal.htm

Advertisements

About Tjoapoetra

Suatu perbuatan yang menguntungkan makhluk lain dan diri sendiri maka perbanyak lakukanlah. Suatu perbuatan yang merugikan makhluk lain dan menguntungkan diri sendiri jangan dilakukan. Suatu perbuatan yang merugikan makhluk lain dan diri sendiri maka hindarilah dan jangan dilakukan. Fav : Bernapaslah dengan Cinta, Bernapaslah dengan Kasih, Bernapaslah dengan Kejujuran. Berjalanlah dengan Kebenaran, Berjalanlah dengan Kedamaian, Berjalanlah dengan Kesetiaan. Berusahalah dengan Giat, Berusahalah yang Terbaik, Berusahalah setiap Waktu. Harapan Semua Makhluk Bahagia, Harapan Semua Makhluk Sejahtera, Harapan Semua Makhluk Terlepas dari Penderitaan Dan Sukses Selalu dalam Kebajikan. Pada Tiap Kehidupan : Lakukanlah yang terbaik untuk kebaikan dalam kebenaran apapun yang terjadi pada diri sendiri. Tetap fokus pada Kebajikan sehingga menciptakan Kedamaian, Kebahagian dan Kesejahteraan bagi semua Makhluk.

Posted on October 1, 2014, in TAO'ES. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: