KISAH ARAHAT BERALIS PANJANG

KISAH ARAHAT BERALIS PANJANG (Jia-nuo-jia-fa-she Zun-zhe atau Kanaka Vatsa)

(ARAHAT = seorang pemeluk ajaran Buddha atau Jainisme yang telah terbebas belenggu tanha (hawa nafsu), dengan jalan mencapai penerangan sempurna.)

Pada suatu hari Arahat Beralis Panjang pergi pindapatta(Menerima persembahan makanan) Di tengah jalan beliau bertemu dengan seorang wanita penjual roti bakpao yang sangat kikir.

Beliau berhenti di sana untuk minta sedekah. Wanita tersebut tidak senang dengan Arahat Beralis Panjang maka ia mengusir beliau, “Hai bhiksu, jangan berdiri disitu, mengganggu dagangan saya.” Arahat Beralis Panjang tidak menghiraukannya,menutup kedua mata dan duduk bersamadhi. Wanita itu menjadi marah tetapi tidak berdaya mengusir beliau. Kemudian ia mengupah tiga orang yang kuat untuk menggusur Arahat Beralis Panjang, namun mereka bertiga tetap tidak dapat menggeser beliau.

Arahat Beralis Panjang duduk bagaikan gunung tak bergeming. Wanita itu menjadi gusar, kemudian diketahui bahwa Arahat Beralis Panjang tidak bernapas lagi.
Wanita itu panik dan mohon kepada Arahat Beralis Panjang, “Saya akan memberi bakpao, tapi jangan duduk di sana lagi.” Setelah itu Arahat Beralis Panjang membuka matanya dan berdiri.

Wanita penjual roti itu tidak ikhlas memberikan bakpao, maka dibuatnya bakpao yang sangat kecil agar Arahat Beralis Panjang cepat pergi. Arahat Beralis Panjang dapat membaca pikiran wanita yang kikir itu, maka dengan kekuatan batinnya beliau membuat bakpao kecil itu menempel dengan bakpao lainnya. Wanita itu dengan kekuatan apapun tidak dapat memisahkan bakpao kecilnya.

Akhirnya wanita yang kikir itu sadar bahwa Arahat Beralis Panjang itu bukanlah manusia biasa. Kemudian Arahat Beralis Panjang berkata, “Aku sebenarnya telah mencapai tingkat Arahat, tidak makanpun tidak menjadi masalah. Tetapi teman-teman
seperguruan saya, mereka menderita sakit dan sangat lemah serta tidak dapat pergi pindapatta. Saya bermaksud agar bakpao tersebut diberikan kepada mereka, agar mereka sehat kembali dan dapat melakukan latihan dengan baik sehingga mencapai
tingkat kesucian.”

Setelah mendengar kata-kata dari Arahat Beralis Panjang, wanita itu sadar atas sifat buruknya, tergerak hatinya dan timbul rasa suka cita, kemudian mendanakan semua bakpaonya. Sebelum meninggalkan tempat, Arahat Beralis Panjang memberkati
wanita tersebut, semoga di kelahiran yang akan datang akan terlahir di alam yang penuh suka cita.

RENUNGAN:
Berdana, kelihatannya seperti ‘mengeluarkan’. Tetapi sebenarnya ‘memperoleh’.
Kalau seseorang tidak dapat melepaskan kekikiran yang ada di dalam dirinya,bagaimana dia dapat memperoleh rasa tenang yang tidak lagi dihinggapi rasa kuatir dan gelisah?

Berdana tanpa pamrih dapat membuat seseorang menjadi mulia.
Berdana tanpa merasa menyesal akan membuat seseorang dapat menyingkirkan kebiasaan buruknya.

Cerita tentang Arahat yang beralis panjang dengan bakpao tersebut mengajarkan kepada kita agar gemar berdana serta berdana tanpa pamrih.

Kutipan dari :
http://allabout-buddhist.blogspot.com/2012/12/kisah-arahat-beralis-panjang-jia-nuo.html
Advertisements

About Tjoapoetra

Suatu perbuatan yang menguntungkan makhluk lain dan diri sendiri maka perbanyak lakukanlah. Suatu perbuatan yang merugikan makhluk lain dan menguntungkan diri sendiri jangan dilakukan. Suatu perbuatan yang merugikan makhluk lain dan diri sendiri maka hindarilah dan jangan dilakukan. Fav : Bernapaslah dengan Cinta, Bernapaslah dengan Kasih, Bernapaslah dengan Kejujuran. Berjalanlah dengan Kebenaran, Berjalanlah dengan Kedamaian, Berjalanlah dengan Kesetiaan. Berusahalah dengan Giat, Berusahalah yang Terbaik, Berusahalah setiap Waktu. Harapan Semua Makhluk Bahagia, Harapan Semua Makhluk Sejahtera, Harapan Semua Makhluk Terlepas dari Penderitaan Dan Sukses Selalu dalam Kebajikan. Pada Tiap Kehidupan : Lakukanlah yang terbaik untuk kebaikan dalam kebenaran apapun yang terjadi pada diri sendiri. Tetap fokus pada Kebajikan sehingga menciptakan Kedamaian, Kebahagian dan Kesejahteraan bagi semua Makhluk.

Posted on May 7, 2014, in Pelajaran Boeddha - Hynddhoe. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: