Dhammapada … Verses 388

388 Brahmana

Verse 388. He Who Had Discarded All Evil Is Holy

By barring-out badness a ‘brahmin’ one’s called
and one is a monk by conduct serene,
banishing blemishes out of oneself
therefore one’s known as ‘one who has left home’.

Explanation: One who has got rid of sinful action is called brahmana. One of serene senses is called samana. A person is called pabbajita because he has done away with all his faults.

Note: brahmano, samano, pabbajito: a brahmin, a monk a wandering ascetic. These are all categories of priests in the religious landscape of the Buddha’s day. They pursued a multitude of religious paths. Here the Buddha explains who a real priest, monk or a brahmin is.

Excerpt from :

http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/brahmana-vagga/

XXVI. BRAHMANA

Karena telah membuang kejahatan,
maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’;
karena tingkah lakunya tenang,
maka ia Kusebut seorang ‘pertapa’ (samana);
dan karena ia telah melenyapkan noda-noda batin,
maka ia Kusebut seorang ‘pabbajjita’
(orang yang telah meninggalkan kehidupan berumah tangga).

Kisah Seorang Pertapa Brahmana
Wednesday, October 27th, 2010 at 12:24 pm

Kisah Seorang Pertapa Brahmana

Suatu ketika hiduplah seorang pertapa di Savatti. Suatu peristiwa berkesan pada dirinya, ketika Sang Buddha menggunakan istilah panggilan bagi semua bhikkhu pengikutNya yang meninggalkan keduniawian dengan kata : ‘pabbajita’. Karena ia juga seorang pertapa, maka ia seharusnya disebut juga seorang pabbajita (yang meninggalkan keduniawian). Jadi ia pergi menemui Sang Buddha dan bertanya mengapa ia tidak disebut seorang pabbajita.

Jawaban Sang Buddha terhadap pertanyaannya adalah demikian : “Hanya karena seseorang adalah pertapa, seseorang tidak dapat begitu saja disebut seorang pabbajita; seorang pabbajita juga harus mempunyai persyaratan lain.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 388 berikut :

Karena telah membuang kejahatan,
maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’ ;
karena tingkah lakunya tenang,
maka ia Kusebut seorang ‘pertapa’(samana);
dan karena ia telah melenyapkan noda-noda batin,
maka ia Kusebut seorang ‘pabbajita’
(orang yang telah meninggalkan kehidupan berumah tangga).

Pertapa tadi mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Kutipan dari :

http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/kisah-seorang-pertapa-brahmana/

Advertisements

About Tjoapoetra

Suatu perbuatan yang menguntungkan makhluk lain dan diri sendiri maka perbanyak lakukanlah. Suatu perbuatan yang merugikan makhluk lain dan menguntungkan diri sendiri jangan dilakukan. Suatu perbuatan yang merugikan makhluk lain dan diri sendiri maka hindarilah dan jangan dilakukan. Fav : Bernapaslah dengan Cinta, Bernapaslah dengan Kasih, Bernapaslah dengan Kejujuran. Berjalanlah dengan Kebenaran, Berjalanlah dengan Kedamaian, Berjalanlah dengan Kesetiaan. Berusahalah dengan Giat, Berusahalah yang Terbaik, Berusahalah setiap Waktu. Harapan Semua Makhluk Bahagia, Harapan Semua Makhluk Sejahtera, Harapan Semua Makhluk Terlepas dari Penderitaan Dan Sukses Selalu dalam Kebajikan. Pada Tiap Kehidupan : Lakukanlah yang terbaik untuk kebaikan dalam kebenaran apapun yang terjadi pada diri sendiri. Tetap fokus pada Kebajikan sehingga menciptakan Kedamaian, Kebahagian dan Kesejahteraan bagi semua Makhluk.

Posted on April 20, 2014, in Dhammapada. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: