Sekilas tentang Azhura-Ibliz-Zatan (Mangakoe sabagae Dewa/Dewey)

Sekilas tentang Dewa / Dewi

Mereka adalah :
01. ZHONG LI QUAN
Memiliki nama keluarga Zhongli dan hidup pada masa Dinasti Han, karena itu ia
juga dikenal sebagai Han Zhongli. Zhongli Quan adalah seorang Jenderal dalam
kerajaan pada masa Dinasti Han. Pada hari tuanya dia menjadi petapa dan
mendalami ajaran Tao.Biasa digambarkan sebagai laki-laki gemuk bertelanjang
perut dan membawa kipas bulu yang dapat mengendalikan lautan.

 

02. ZHANG GUO LAO
Zhang Guolao adalah kepala akademi kerajaan, namun dia mengundurkan diri untuk
menjadi petapa di Gunung Chuang Tiao di Shanxi. Memiliki keledai ajaib yang
dapat membawa dirinya berjalan ribuan kilometer setiap hari. Ketika mencapai
tujuan, dia mengubah keledai tersebut menjadi kertas dan Zhang Guolao melipatnya
untuk dimasukkan dalam sakunya. Untuk menghidupkannya dia membuka lipatan
tersebut dan meniupnya. Kaisar Tang Ming Huang ingin mengangkat Zhang Guolao
bekerja di istana, tetapi dia tidak bersedia meninggalkan kehidupan
pengembaraannya. Setelah dua kali menghadap kaisar, pertapa ini pun menghilang
entah kemana. Sering digambarkan sedang menunggangi keledai secara terbalik.
Simbolnya adalah tempat ikan yang terdiri dari batang bambu dengan tabung kecil
yang muncul di ujungnya. Ia dipuja sebagai pembawa keturunan laki-laki.

 

03. LI TIE GUAI

Memiliki nama asli Li Xuan dan hidup pada masa Dinasti Sui. Dia melambangkan
cacat dan keburukan. Dia berusaha untuk meringankan beban penderitaan umat
manusia. Li Tieguai memiliki sebuah tongkat besi dan bermuka hitam. Dia membawa
sebuah labu yang digunakannya untuk menolong umat manusia. Suatu hari, ketika
rohnya pergi ke Huashan, dia memberitahukan muridnya, Lang Ling, untuk menjaga
badannya dan membakarnya apabila dia tidak kembali dalam tujuh hari. Dalam hari
keenam, Lang Ling mendapat kabar bahwa ibunya sakit keras dan sebagai seorang
anak dia harus merawat ibunya. Maka dia membakar badan tersebut satu hari lebih
awal. Ketika roh Li Tieguai kembali keesokan harinya, dia tidak dapat menemukan
badannya sehingga dia memasuki badan seorang tua yang baru saja meninggal.Namun,
orang tua tersebut ternyata cacat. Pada saat pertama, Li ingin meninggalkan
badan tersebut, tetapi Lao Zi / Lao Tze membujuknya dengan mengatakan bahwa
penerapan dari ajaran Tao tidak tergantung penampilan. Lao Zi lalu memberi
tongkat besi kepada Li Tieguai. Li Tieguai kadang digambarkan sedang berdiri di
atas kepiting atau ditemani seekor menjangan.

 

04. CAO GUO JI
Hidup pada masa Dinasti Song dan merupakan putra dari Cao Bin, seorang komandan
militer, dan saudara laki-laki dari Ratu Cao Hou, ibu dari Kaisar Yin Zong. Cao
Guojiu digambarkan memakai jubah kebesaran dan topi pengadilan. Di tangannya ada
kertas catatan kerajaan dan sepasang alat musik kastanyet. Suatu hari Zhongli
Quan dan Lu Dongbin bertemu dengannya dan menanyakan apa yang sedang dia
lakukan. Dia menjawab bahwa dia sedang belajar Tao. “Apakah itu dan dimanakah
itu?”, mereka balik bertanya. Pertama-tama dia menunjuk ke langit dan kemudian
ke hatinya.

 

05. LAN CAI HE
Sering ditampilkan berpakaian biru dengan tidak bersepatu. Sambil melambai-
lambaikan sepasang tongkat, ia mengemis sepanjang jalan. Lan Caihe terus menerus
membacakan syair-syair yang menggambarkan kehidupan yang tidak kekal beserta
kesenangan-kesenangan yang hampa. Ia berkelana ke seluruh negeri sambil menyanyi
dan membawa keranjang bunga. Lan Caihe terkadang terlihat seperti wanita.

 

06. HAN XIANG ZI
Han Xiangzi melambangkan masa muda. Dia adalah keponakan dari Han Yu, seorang
menteri pada pemerintahan Kaisar Hsing Tung dari Dinasti Tang. Simbolnya adalah
sebuah suling. Seorang pecinta kesunyian, mewakili orang ideal yang senang
tinggal ditempat alamiah. Han Xiangzi sering menyusuri desa sambil meniup
seruling dengan merdu sehingga menarik perhatian burung-burung dan binatang
lainnya. Han Xiangzi tidak mengenal nilai uang dan bila diberi uang akan dia
sebarkan di tanah.

 

07. HE XIAN GU
Satu-satunya wanita diantara Delapan Dewa. Berpenampilan halus dan lemah lembut,
dan sering terlihat membawa bunga teratai yang dapat dipakai untuk mengobati
orang sakit. Kadang-kadang dia digambarkan berada di atas kelopak teratai yang
terapung sambil memegang pengusir lalat.

 

Cai Sen Ye
Di antara sekian banyak dewa-dewa, seandainya diadakan pemilihan dengan pemungutan suara: “Dewa apakah yang paling disukai?” Barangkali Cai Shen Ye {Hok Kian = Cai Sin Ya} akan terpilih dengan mendapatkan suara terbanyak. Biar bagaimanapun, realitas hidup di dunia ini, kebutuhan/tuntutan manusia akan uang/harta, selamanya tidak akan ada habis-habisnya. Sementara baik apakah Cai Shen bisa sungguh-sungguh memberikan kekayaan atau tidak, maupun keberadaan Dewa Harta (Dewa Kekayaan) itu sendiri, sedikit banyak dapat memuaskan fantasi orang banyak terhadap kekayaan.

Dewa Harta yang diyakini di kalangan rakyat jelata sangat banyak macamnya, ada Wen Wu Cai Shen {Bun Bu Cai Sin} – Dewa Harta Sipil & Militer, Wu Lu Cai Shen {Ngo Lo Cai Sin} – Dewa Harta dari Lima Jalan, Zheng Fu Cai Shen {Tiam Hok Cai Sin} – Dewa Kekayaan Penambah Rezeki, dan lain-lain. ??? Tu Di Gong {Tho Tek Kong} – Dewa Bumi adalah Cai Shen yang paling dikenal oleh semua orang. Cai Sin Ya memiliki wilayah penghormatan yang luas. Sembahyang kepada Cai Shen, selain terdapat di kelenteng-kelenteng, juga terdapat di rumah-rumah penduduk. Wu Cai Shen (Dewa Kekayaan Militer) adalah Xuan Tan Yuan Shuai Zhao Gong Ming {Hian Tan Gwan Swe Tio Kong Beng} dan ?? Guan Gong {Kwan Kong}.

Latar belakang kisah Cai Shen Ye ada beberapa macam versi. Yang paling terkenal adalah Riwayat Zhao Gong Ming {Tio Kong Beng} yang tertulis dalam Feng Shen Bang (Daftar Penganugerahan Dewa-Dewa). Dalam Feng Shen Bang ini diceritakan sebagai berikut:Kaisar Zhou Wang {Tiu Ong} dari Kerajaan Shang memerintahkan Wen Zhong {Bun Tiong} jendralnya yang terkenal, untuk menyerbu Xi Chi, basis pertahanan pasukan Wen Wang {Bun Ong}. Untuk mencapai tujuannya tersebut, Wen Zhong minta bantuan 6 orang sakti untuk membentuk formasi barisan yang disebut Shi Jue Zhen {Si Ciap Tin} – Sepuluh Barisan Pemusnah. Tapi Jiang Zi Ya berhasil menghancurkan 6 di antaranya. Melihat kekalahan di pihaknya, Wen Zhong meminta bantuan Zhao Gong Ming yang pada waktu itu sedang bertapa di gua Lou Fu Dong, pegunungan E Mei Shan {Go Bi San}.

Zhao Gong Ming menyatakan kesanggupannya untuk membantu. Pada waktu ia turun gunung, seekor harimau besar menerkam. Harimau itu tak berkutik di bawah tudingan 2 jari tangannya. Kemudian ia mengendarai harimau yang telah diikat lehernya dengan angkin (sejenis kain). Pada dahi si raja hutan tersebut ditempelkan selembar Hu (Surat Jimat). Selanjutnya harimau itu menjadi tunggangannya & tunduk pada perintahnya.

Dengan mengendarai harimau, Zhao Gong Ming bertempur dengan Jiang Zi Ya. Setelah beberapa jurus, Zhao Gong Ming mengeluarkan ruyung saktinya & menghajar Jiang Zi Ya hingga roboh & tewas. Tapi, datanglah Guang Cheng Zi {Kong Sheng Cu} yang lalu menolong Zi Ya sehingga ia hidup kembali. Huang Long Zhen Ren {Wi Liong Cin Jin} keluar untuk bertempur dengan Zhao Gong Ming, tapi ia tertawan oleh tali wasiat Zhao Gong Ming. Chi Jing Zi & Guang Cheng Zi juga terpukul jatuh oleh pertapa dengan banyak kesaktian tersebut.

Kemudian Jiang Zi Ya mendapat bantuan dari Xiao Sheng, seorang sakti dari pegunungan Wu Yi Shan. Semua wasiat dari Zhao Gong Ming berhasil dirampas. Karena merasa malu Zhao Gong Ming kabur ke pulau San Xian Dao (Pulau 3 Dewa) untuk menemui Yun Xiao Niang Niang, seorang petapa wanita yang sakti. Zhao Gong Ming meminjam sebuah gunting wasiat kepada Yun Xiao Niang Niang untuk merebut kembali wasiat-wasiatnya yang dirampas musuh.

Ternyata gunting wasiat itu adalah 2 ekor naga yang berubah wujud, dengan kemampuan yang luar biasa. Banyak dewa-dewa sakti dari pihak Jiang Zi Ya terpotong menjadi 2 bagian & tewas karena pusaka ini. Jiang Zi Ya menjadi gelisah, para prajuritnya juga menjadi gentar. Pada saat yang kritis ini datanglah seorang Taoist dari pegunungan Gun Lun Shan {Kun Lun San} yang bernama Lu Ya. Lu Ya menyuruh Jiang Zi Ya membuat boneka dari rumput. Pada tubuh boneka rumput tersebut diletakkan selembar kertas yang dituliskan nama Zhao Gong Ming. Pada bagian kepala & kaki dipasang masing-masing sebuah pelita kecil. Di depan boneka Zhao Gong Ming tersebut diadakan sembahyangan selama 21 hari berturut-turut. Jiang Zi Ya atas nasehat Lu Ya bersembahyang di situ beberapa hari. Ia terus bersembahyang sampai suatu hari Zhao Gong Ming merasakan jantungnya berdebar-debar, badannya terasa panas dingin tak menentu. Semangat & tenaganya lenyap. Pada hari ke-21, setelah mencuci rambutnya, Jiang Zi Ya mementang busur & mengarahkan anak panah ke mata kiri boneka rumput tersebut. Zhao Gong Ming yang berada di kubu pasukan Shang, mendadak merasa mata kirinya sakit sekali & kemudian menjadi buta. Panah Jiang Zi Ya berikutnya diarahkan ke mata kanan boneka Zhao Gong Ming & panah ketiga diarahkan ke jantungnya. Akhirnya Zhao Gong Ming yang sakti ini tewas terpanah oleh Jiang Zi Ya.

Setelah Wen Wang berhasil menghancurkan pasukan Shang & mendirikan dinasti Zhou, Jiang Zi Ya melaksanakan perintah gurunya untuk mengadakan pelantikan para malaikat. Zhao Gong Ming dianugerahi gelar Jin Long Ru Yi Zheng Yi Long Hu Xuan Tan Zhen Jun yang secara singkat disebut Zheng Yi Xuan Tan Zhen Jun {Ceng It Hian Than Cin Kun}. Xuan Tan Zhen Jun mempunyai 4 pengiring yang disebut Cai Shen Shi Zi, Duta Dewa Kekayaan, yaitu :

1. Zhao Bao Tian Zun Xiao Sheng (Malaikat Pemanggil Mestika)
2. Na Zhen Tian Zun Zen Bao (Malaikat Pemungut Benda Berharga)
3. Zhao Chai Shi Zhe Chen Jiu Gong (Duta Pemanggil Kekayaan)
4. Li Shi Xian Guan Yao Shao Si (Pejabat Dewa Keuntungan)

Xuan Tan Zhen Jun bersama 4 pengiringnya ini sering ditampilkan secara bersama-sama dalam bentuk gambar & disebut Wu Lu Cai Shen {Ngo Lo Cai Sin} – Dewa Kekayaan dari Lima Jalan.

Dewa Kekayaan ini sering ditampilkan sebagai seorang panglima perang berwajah bengis dengan pakaian perang lengkap, 1 tangan menggenggam ruyung & tangan yang lain membawa sebongkah emas, mengendarai seekor harimau hitam. Ini merupakan gambaran berdasarkan buku Feng Shen Bang tersebut.

Cao Kun Kong (Dewa Dapur)
Dikisahkan, bahwa Dewa dapur (atau dlm Konghucu disebut Malaikat Dapur), merupakan seseorng yng bernama Thio Teng Hok. Thio teng hok adalah penjudi yang tak pernah mujur (selalu kalah main), hingga seluruh hartanya habis. Selain penjudi, Ia juga seorang pemabuk dan pemalas. Kemudian Ia membujuk isterinya utk menjual diri pada seorang hartawan utk dijadikan gundik/selir, karena mereka sudah tak punya apa-apa lagi. Isterinya pun akhirnya menyetujui hal itu.Uang hasil penjualan isterinya itu pun digunakan pula sbg taruhan di meja judi. Beberapa waktu sekali, ia menghampiri mantan isterinya dirumah sang hartawan, saat sang hartawan sedang tak ada di tempat.

Saat bahan makanan dan uang habis, ia pun menghampiri mantan isterinya. Suatu ketika Ia kembali lagi ke rumah hartawan itu, dan Isterinya memberikannya sejumlah Kue Ang Kui Ko, yang didalamnya disisipkan sejumlah uang emas. Isterinya berharap dengan memberikan uang emas pada Teng Hok, ia akan hidap layak. Namun malahan Teng Hok menjual Kue-kue itu, dan hasil penjualannya dijadikan Taruhan di meja judi. Setelah uang hasil penjualan kue tsb sdh habis utk berjudi, ia kembali lagi ke rumah hartawan itu. Dengan marah, mantan isterinya mengatakan bahwa dalam kue-kue yang tak seberapa harganya itu terselip sejumlah uang emas yang sangat mahal nilainya.

Saat itu, insaflah Thio Teng Hok atas segala kesalahannya. Ia pun takut dan tak tega bila mantan isterinya yang baik dan bijak itu dituduh berzinah. Sekonyong-konyong, Teng Hok Membenturkan kepalanya ke Tembok dapur di rumah sang Hartawan. Otak dan isi kepala Teng Hok hancur, dan berceceran ke mana-mana. Untung pada saat itu tak ada orang yang melihatnya. Kemudian Mantan isterinya menguburkan Jenazah Teng Hok di dapur sang hartawan. selain itu, iapun membuatkan papan nama (papan abu) untuk Almarhum mantan suaminya dengan tulisan “Teng Hok Sien Ci”. Setiap hari-hari Uposata (Ce it – Cap Go) dan menjelang Tahun Baru Imlek, ia menyembahyangi Almarhum Mantan Suaminya.

Para tetangga yang heran mengapa selir sang hartawan rajin bersembahyang, menanyakan siapa yang ia semabhyangi. Dengan cerdik, ia mengatakan bahwa ia menyembahyangi Dewa Dapur. Para tetangga yang puas mendengar jawaban selir sang hartawan hanya berkata ” Pantas, Orang itu semakin kaya, ternyata ia memuja Dewa Dapur.

Men Shen (Dewa Pintu)
Asal usul keberadaan Men Shen {Hok Kian = Mui Sin} Dewa Pintu sudah sangat lama. Hal ini membuktikan bahwa dari zaman dulu, rakyat sangat menaruh perhatian pada keamanan pintu. Fungsi Dewa Pintu walaupun tidak bisa dibandingkan dengan sistem keamanan berteknologi canggih seperti zaman sekarang, namun peranan yang bisa dikembangkan yaitu memberikan rasa tenang & tentram, bahkan tidak bisa diharapkan dari sistem keamanan. Biar bagaimanapun rakyat Tionghoa percaya bahwa Dewa Pintu bisa mengusir hantu atau setan. Hal ini juga tidak dapat dilihat atau dihadapi bahkan oleh sistem keamanan dengan teknologi canggih sekalipun.Dewa Pintu ada beberapa macam: ada Wu Jiang Men Shen (Dewa Pintu Militer), Wen Guan Men Shen

(Dewa Pintu Sipil), Qi

Fu Men Shen (Dewa Pintu Memohon Rezeki), dan lain-lain. Di berbagai tempat Dewa Pintu yang dihormati tidak sama.

Selain Dewa Pintu ?? Shen Tu & Yu Lei yang paling kuno dikenal orang, Qin Shu Bao {Hok Kian = Cin Siok Po} alias Qin Qiong {Cin Kiong} & Yu Chi Gong {Ut Ti Kiong} alias Yu Chi Jing De {Ut Ti Keng Tek} adalah Dewa Pintu yang pengaruhnya paling besar, & tersebar paling luas.

Qin Shu Bao {Cin Siok Po} & Yu Chi Gong {Ut Ti Kiong} adalah salah satu dari Dewa Pintu Militer. Cin Siok Po & Ut Ti Kiong adalah 2 Jendral terkenal pada masa Dinasti Tang [618 ? 907 M] yang membantu Kaisar Tang Tai Zong {Tong Thai Cong} ? Li Shi Min {Li Se Bin} mendirikan Dinasti Tang {Tong}. Bagaimana mereka berdua bisa menjadi Dewa Pintu

Berdasarkan buku Li Dai Shen Xian Tong Jian, pada masa-masa awal Kaisar Li Se Bin naik tahta, beliau sering kali merasa tidak enak badan, pada malam hari sering bermimpi bertemu dengan hantu/setan yang datang mengganggu. Mungkin hal ini disebabkan karena pada masa awal berjuang mendirikan kekuasaan negara, beliau telah membunuh banyak orang.

Dalam buku tersebut diceritakan : ?Di luar pintu kamar tidur dilempar batu bata & genteng, setan & siluman berteriak-teriak, 36 bangunan istana, 72 pekarangan, tiada malam yang tenang?. Kaisar Tong Thai Cong diganggu sampai makan tak enak, tidur tak nyenyak.

Setelah Jendral Cin Siok Po & Jendral Ut Ti Kiong mengetahui peristiwa ini, lalu memohon untuk dapat menjaga keamanan dengan berdiri di kedua sisi pintu istana dengan memakai pakaian militer. Pada malam tersebut, benar-benar tidak terjadi apapun, tidak ada suara-suara dari roh-roh jahat yang mengganggu. Kaisar Tong Thai Cong merasa amat gembira. Namun kalau menyuruh mereka berdua berdiri sepanjang malam di depan pintu sampai langit terang (pagi hari), juga terlalu meletihkan (kasihan juga mereka berdua).

Kaisar Tong Thai Cong lalu menitahkan ahli lukis untuk menggambar mereka berdua dalam ujud ?Memakai baju besi & memegang tombak bersabit, nampak berwibawa dengan sorot mata yang tajam.? Setelah selesai, kedua gambar tersebut digantung di kedua daun pintu istana. Sejak itu, Kaisar Tong Thai Cong ? Li Se Bin tidak diganggu lagi oleh roh-roh halus itu lagi. Peristiwa ini tersebar luas di kalangan masyarakat. Oleh orang-orang pada generasi kemudian, Cin Siok Po & Ut Ti Kiong menjadi Dewa Pintu yang dihormati di rumah-rumah penduduk.

Khusus kelenteng yang bercorak Buddhisme, sering memakai gambar 2 orang Bodhisatva yang berpakaian perang lengkap, sebagai Dewa Pintu yaitu Qie Lan Pu Sa & Wei Tuo Pu Sa.

Pemasangan gambar Dewa Pintu ini, kemudian tidak terbatas hanya pada pintu kelenteng saja, tapi sudah umum terdapat di tiap bangunan, baik itu rumah penduduk maupun kantor-kantor. Sekarang hal ini dapat kita lihat di Taiwan, Hongkong & Singapura, bahkan di Jepang & Korea. Di antara beberapa macam Dewa Pintu, dewasa ini yang sering dipasang gambarnya di rumah-rumah penduduk, adalah Cin Siok Po & Ut Ti Kiong. Cin Siok Po & Ut Ti Kiong ini pulalah yang gambarnya kita lihat sekarang pada daun pintu sebagian besar kelenteng yang ada.

Bao Shen Da Di/ Po Sin Ta Te

Bao Sheng Da Di disebut juga Da Dao Gong [Tao Too Kong], Hua Qiao Gong [Hoa Kio Kong], atau Wu Zhen Ren [Go Cin Jin] yang berarti Dewa Wu.Ada dua pendapat yang sama-sama mempunyai dasar mengenai asal usul dari Bao Sheng Da Di.

Pendapat pertama mengatakan bahwa Wu Zhen Ren memiliki nama asli Ben [Pun]. Wu Ben adalah seorang yang dilahirkan di desa Bai Jiao (Karang Putih), kabupaten Tong-an, wilayah Quan Zhou [Coan Ciu], propinsi Fujian. Ia lahir pada pemerintahan Kaisar Tai Zong, tahun Xing Guo ke-empat bulan tiga tanggal 15 Imlek pada masa Dinasti Song. Sejak masih kecil Wu Ben telah tertarik pada masalah pengobatan. Seorang pertapa, karena tertarik akan bakat anak ini, mengajarkan bermacam-macam ilmu pengobatan dan memberikan kitab yang berisi kumpulan obat-obat. Setelah dewasa, ia terkenal sebagai seorang tabib dewa. Ia pernah mengikuti ujian sastra dan lulus. Kemudian ia memangku jabatan sebagai Yu Shi, jabatan di istana yang mengurus pencatatan sejarah.

Nama Wu Ben menjadi terkenal setelah ia berhasil mengobati penyakit yang diderita permaisuri Kaisar Ren Zong. Setelah mengundurkan diri, Wu Ben berkelana mengobati penyakit. Kemudian Wu Ben memiliki beberapa murid, antara lain Huang Yi Guan (Huang si Menteri Tabib), Cheng Zhen Ren (Cheng si Manusia Dewa) dan Yin Xian Gu (Yin si Dewi). Rakyat, karena mengingat budi baik Wu Ben, banyak yang mendirikan kelenteng dan diberi nama Ci Ji Gong yang berarti “Kuil Penolong Yang Welas Asih”.

Para kaisar juga tidak ketinggalan menganugerahkan gelar kepadanya. Kaisar Song Gao Zong menganugerahkan gelar Da Dao Zhen Ren yang berarti “Dewa Jalan Nan Agung”. Gelar ini menyebabkan Bao Sheng Da Di terkenal dengan sebutan Da Dao Gong yang berarti “Paduka Jalan Nan Agung”.Kaisar Song Ning Zong memberikan gelar kehormatan Zhong Xian Hou yang berarti “Pangeran Teladan Kesetiaan”. Kaisar Ming yang pertama, Ming Tai Zu, memberikan gelar Hao Tian Yu Shi Yi Ling Zhen Jun [Ho Thian Gi Su It Leng Cin Kun] yang berarti “Dewa Sejati Ahli Pengobatan dan Menteri Pencatat Sejarah”.

Pendapat yang satu lagi mengatakan bahwa Bao Sheng Da Di adalah Wu Meng [Go Beng] yang hidup pada masa Dinasti Jin, penduduk asli dari Henan. Wu Meng sejak kecil terkenal karena baktinya kepada orang tua. Setelah dewasa ia berkelana dan melakukan pengobatan kepada penduduk yang tidak mampu. Kemudian ia dipanggil dengan nama Wu Zhen Jun [Go Cin Kun] yang berarti “Wu Si Dewa Sejati”. Jika ditinjau dari sudut sejarah, maka Wu Meng lebih terkenal dari pada Wu Ben, sebab Wu Ben meskipun memiliki reputasi sebagai tabib yang hebat, tetapi ia hanya dipuja di sekitar propinsi Fujian saja. Namun jika ditinjau dari tempat asalnya, maka Wu Ben lebih mendekati kenyataan, karena Wu Ben di propinsi Fujian dipuja sebagai Bao Sheng Da Di.

Kuil Bao Sheng Da Di di propinsi Fujian yang terkenal terdapat di dusun Bai Jiao, tempat Wu Ben berasal. Di kuil itu terdapat papan yang dihadiahkan oleh Kaisar Yong Le dari Dinasti Ming. Kisah-kisah kehebatan Wu Ben di kalangan rakyat memang banyak beredar, terutama di propinsi Fujian dan sekitarnya. Diceritakan pada suatu hari, ia sampai di sebuah jalan pegunungan. Ia berjumpa 4 orang memanggul sebuah peti jenasah. Peti jenasah itu sangat sederhana, terbuat dari papan kayu yang sudah lapuk, menandakan bahwa keluarga si jenasah adalah keluarga yang melarat. Darah tampak mengalir dari celah-celah peti jenasah itu, menandakan bahwa orang dalam peti jenasah itu belum lama meninggal. Wu Ben melihat hal itu lalu berpikir sebentar, ia yakin bahwa yang di dalam peti belum meninggal. Ia meminta iring-iringan tersebut berhenti dan bersedia membuka tutup peti mati itu. Seorang wanita terbaring di dalamnya dan usianya sekitar 30 tahun.

Sekilas Wu Ben mengetahui bahwa wanita itu baru saja melahirkan dan mengalami pendarahan. Wu Ben meminta bantuan agar wanita tersebut diangkat keluar dari peti jenasah. Setelah dirawat dengan seksama akhirnya beberapa hari kemudian wanita yang sudah dianggap meninggal itu menjadi sehat kembali. Kejadian ini tersebar dari mulut ke mulut dan meluas ke seluruh pelosok negeri. Semua menganggap bahwa Wu Ben dapat menghidupkan orang mati. Ketenarannya sampai ke telinga Kaisar Ren Zong, yang sedang risau karena permaisurinya sedang sakit dan sudah banyak tabib tersohor yang didatangkan namun penyakit tidak kunjung sembuh. Tanpa memperdulikan jarak, Wu Ben datang ke istana untuk memenuhi panggilan kaisar.

Karena kebiasaan waktu itu yang melarang orang awam menyentuh tubuh kaisar atau keluarganya, maka Wu Ben memeriksa denyut nadi permaisuri dengan bantuan seutas tali sutera yang diikat pada pergelangan tangan sang permaisuri. Setelah yakin akan penyakit yang diderita sang permaisuri, Wu Ben menulis resep. Berkat obat itulah, tidak lama kemudian sang permaisuri sembuh kembali. Ketika kaisar menanyakan hadiah apa yang diinginkannya, Wu Ben mengatakan bahwa ia ingin memakai jubah kebesaran yang pernah dipakai ayahnda kaisar. Kaisar Ren Zong mengabulkan permintaan tersebut. Saat Wu Ben memakai jubah tersebut, Kaisar Ren Zong lalu berlutut. Wu Ben buru-buru mencegah dan menolak kehormatan itu. Sejak itulah Wu Ben dikenal sebagai Bao Sheng Da Di atau Maharaja Pelindung Kehidupan.

Bersama dengan menyebarnya imigran dari Quan Zhou, pemujaan terhadap Bao Sheng Da Di tersebar ke Taiwan, lalu ke Asia Tenggara. Di Taiwan, karena imigran Quan Zhou banyak jumlahnya, maka kelenteng yang memuja Bao Sheng Da Di terdapat dimana-mana.Yang tertua adalah yang didirikan pada masa Dinasti Ming, saat pemerintahan Kaisar Wan Li, yaitu Kaisar Kai Shan Gong [Khai San Kong]. Masih ada juga yang lebih besar yaitu Xing Ji Gong, Yuan He Gong, Liang Huang Gong, Fu Long Gong, Guang Ji Gong, Miao Shou Gong, dan lain-lain. Di Singapura pemujaan Bao Sheng Da Di terdapat di kelenteng Tian Fu Gong [Thian Hok Keng] di Telok Anyer Street.

Kutipan dari :

http://vincentspirit.blogspot.com/2012/05/sejarah-roh-suci-dewa-dewi.html

Advertisements

About Tjoapoetra

Suatu perbuatan yang menguntungkan makhluk lain dan diri sendiri maka perbanyak lakukanlah. Suatu perbuatan yang merugikan makhluk lain dan menguntungkan diri sendiri jangan dilakukan. Suatu perbuatan yang merugikan makhluk lain dan diri sendiri maka hindarilah dan jangan dilakukan. Fav : Bernapaslah dengan Cinta, Bernapaslah dengan Kasih, Bernapaslah dengan Kejujuran. Berjalanlah dengan Kebenaran, Berjalanlah dengan Kedamaian, Berjalanlah dengan Kesetiaan. Berusahalah dengan Giat, Berusahalah yang Terbaik, Berusahalah setiap Waktu. Harapan Semua Makhluk Bahagia, Harapan Semua Makhluk Sejahtera, Harapan Semua Makhluk Terlepas dari Penderitaan Dan Sukses Selalu dalam Kebajikan. Pada Tiap Kehidupan : Lakukanlah yang terbaik untuk kebaikan dalam kebenaran apapun yang terjadi pada diri sendiri. Tetap fokus pada Kebajikan sehingga menciptakan Kedamaian, Kebahagian dan Kesejahteraan bagi semua Makhluk.

Posted on October 20, 2013, in Communiz - Sam Poo Kong - Catholic, Christien, Pantecostal - Izlam (malzI) - NaZi - Tzu Chi. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: