THE FEMALE GUAN YIN ( WUJUD WANITA AVALOKITESVARA )

THE FEMALE GUAN YIN ( WUJUD WANITA AVALOKITESVARA )

 

Bahan cerita dikutip dari :

http://dhammacitta.org/perpustakaan/kategori/ebook/page/7/

 

Dirangkum oleh:

Upasaka Vimala Dhammo / Yeshe Lhagud [Hendrick]

[The Siddha Wanderer]

rigsden_gandalf@yahoo.com

Mohon ijin menulis, mengedit ( beberapa kata ) dan meringkas :

Pengedit : Mark Mamangkey Tjost ( 081808035878 )

Di mana alur cerita pada jaman dahulu yang tertulis dan di teliti oleh beberapa pakar.

Kata – kata yang di edit :

Aku menjadi saya

Baiyi Dashi [Guanyin] menjadi Baiyi Da Shi [Guan Yin], Baiyi Guanyin Jing menjadi Baiyi Guan Yin Jing

Tian menjadi Yang Maha Kuasa

Di mana alur cerita pada jaman dahulu yang tertulis dan di teliti oleh beberapa pakar.

Clip

 

“Jika wanita yang rajin belajar dan berkeinginan untuk meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menjalankan sila-sila yang suci, maka saya akan muncul di hadapan mereka dalam wujud seorang Bhiksuni dan mengajarkan Dharma kepada mereka, membuat mereka dapat memenuhi harapan mereka.”

“Jika para gadis ingin tetap suci dan tidak berkeinginan untuk menikah, maka saya akan muncul di hadapan mereka dalam wujud gadis suci dan mengajarkan Dharma kepada mereka, membuat mereka dapat memenuhi harapan mereka.”

[Shurangama Sutra]

 

“Kepada mereka yang harus diselamatkan dengan tubuh seorang Bhiksu, Bhiksuni, Upasaka, dan Upasika, maka ia (Avalokitesvara) akan muncul sebagai seorang dari itu dan mengajarkan Dharma kepada mereka. Kepada mereka yang harus diselamatkan dengan tubuh seorang istri dari Grhapati, Kulapati, Menteri Negara ataupun istri Brahmana, maka ia akan muncul sebagai seorang wanita tersebut dan mengajarkan Dharma kepada mereka.Kepada mereka yang harus diselamatkan dengan tubuh seorang pemuda atau gadis suci, maka ia akan muncul sebagai pemuda atau gadis suci dan mengajarkan Dharma kepada mereka.”

[Saddharmapundarika Sutra]

 

Pandasini Bodhisattva Tara

Pandasini Bodhisattva Tara

“This work is dedicated for the happiness of all beings”

OM MANI PADME HUM

 

ASAL MUASAL AVALOKITESVARA BODHISATTVA

 

Siapakah sesungguhnya Avalokitesvara Bodhisattva itu? Seorang Dewi atau tokoh khayalankah? Mungkin banyak dari kita yang akan bertanya-tanya demikian. Namun tentu, Avalokitesvara bukanlah seorang Dewi dan juga bukan tokoh khayalan. Beliau adalah seorang Mahasattva, Sang Makhluk Agung, yang merupakan suatu adaptasi simbolis Buddhis yang terbaik dan terindah.

Avalokitesvara Sebagai Perwujudan Sakyamuni Buddha

 

Beliau adalah perwujudan dan simbolisasi welas asih [karuna] dari Sang Buddha Sakyamuni. Karuna dipandang sebagai salah satu aspek yang terpenting dari Bodhi [pencerahan]. Menurut paham Mahayana, Bodhisattva Avalokitesvara sebagai Dhyani Bodhisattva beremanasi menjadi Sakyamuni Buddha, yaitu Samyaksambuddha ke-4 pada masa Kalpa Keberuntungan (Bhadrakalpa) ini.

Clip_2

Asal muasal Avalokitesvara di India ditemukan dalam teks-teks agama Buddha awal, bahkan sebelum kemunculan Mahayana. Yang pertama dari teks Mahavastu (abad 2 SM) yang berasal dari sekte Mahasanghika Lokottaravadin. Ada 2 sutra dalam Mahavastu yang diberi nama Avalokita Sutra. Nama “Avalokita” ini menjadi cikal bakal terbentuknya nama “Avalokitesvara”. Alkisah Sutra ini juga dibabarkan oleh para Buddha masa lampau. Avalokita Sutra yang pertama mengisahkan tentang Sang Bodhisattva [bakal Buddha] menaklukkan Mara. Sang Buddha dalam sutra tersebut berkata:

“Bagi para bhiksu, mendengarnya dari bibir Sang Bhagava, menjalankannya sebagai sebuah kebenaran. Ini dapat menjadi manfaat dan kesejahteraan banyak makhluk, karena welas asih pada dunia, untuk kepentingan banyak makhluk dan untuk manfaat dan kesejahteraan para deva dan manusia.” ……

“O para bhiksu, ketika Bodhisattva berdiri di pantai ini mengamati (avalokita) pantai seberang, kondisi-kondisi dari peninjauan tersebut berada pada masa kini, para deva dengan kekuatan yang besar memuja Tathagata dengan penghormatan yang tertinggi dan menghormati-nya dengan penghormatan yang tertinggi.” ……“Makhluk seperti-nya (Petapa Gotama) memiliki welas asih agung (mahakaruna).”

 

Selanjutnya dalam Avalokita Sutra yang kedua disebutkan:

“Biarlah Sang Bhagava memperlihatkan apa yang Ia lihat, ketika masih sebagai seorang Bodhisattva, Ia datang ke pohon bodhi dan berdiri di tahta bodhi, dan untuk manfaat dan kesejahteraan seluruh dunia, maka Ia mengamati dunia [avalokita]. Ini dilakukan bagi kebaikan dan kebahagiaan umat manusia, memberikan cinta kasih (karuna) pada dunia”

“Ia (Bodhisattva) akan menjadi mata dunia, cahaya yang akan melenyapkan kegelapan. Ia terus menerus memberikan manfaat dan welas asih pada dunia.”

 

Sang Bodhisattva disebut sebagai “cahaya dunia” (lokapradyota).

Semua ciri-ciri Sang Bodhisattva [Bakal Buddha] yang disebutkan dalam Avalokita Sutra seperti “mengamati” (avalokita) dan “welas asih” (mahakaruna), bergabung menjadi satu dan akhirnya dipersonalisasikan menjadi Avalokitesvara.

Yang kedua ada dalam Lalitavistara Sutra (abad 3 SM – abad 2 M) dari sekte Sarvastivada, di mana disebutkan ada seorang Bodhisattva yang bernama Mahakarunacandin, “Mahakaruna” adalah sebutan bagi Avalokitesvara Bodhisattva.

 

Dalam Valahassa Jataka, dikisahkan kelahiran lampau Pangeran Siddharta sebagai seekor kuda terbang [pegasus] yang menyelamatkan para pelaut dari cengkraman para iblis rakshasi [goblin]. Uniknya, dalam Karandavyuha Sutra, dikatakan bahwa kuda terbang tersebut [yang bernama Balaha] adalah kelahiran lampau dari Avalokitesvara Bodhisattva. Dari sini kita dapat melihat jelas bahwa Avalokitesvara adalah perwujudan dari cinta kasih sempurna yang dimiliki oleh Bodhisattva Siddharta, yang kelak akan menjadi Buddha Sakyamuni.

Avalokitesvara = Dewa Agama Hindu?

Seiring perjalanan waktu, sifat welas asih dari Sang Buddha ini menjadi suatu bentuk personal yaitu Avalokitesvara Bodhisattva. Beberapa perwujudan personal dari Avalokitesvara ini tampaknya dipengaruhi oleh beberapa Dewa Hindu. Nilakantha Avalokitesvara dipengaruhi oleh Dewa Siva [Nilakantha]. Ekadasamukha Avalokitesvara dipengaruhi oleh Dewa Ekadasa Rudra. Cundi Avalokitesvara dipengaruhi oleh Dewi Cunda [Parvati], istri Dewa Shiva. Hayagriva Avalokitesvara [Avalokitesvara Kepala Kuda] dipengaruhi oleh Dewa Hayagriva, avatar dari Vishnu. Banyak orang salah kaprah mengira bahwa Avalokitesvara berasal dari dua dewa kuda kecil, padahal sebenarnya dua dewa kuda kecil tersebut hanya berpengaruh terhadap satu perwujudan Avalokitesvara saja, yaitu Hayagriva, dan sama sekali tidak mempengaruhi perwujudan Avalokitesvara yang lain. Bahkan perwujudan Hayagriva bukanlah merupakan perwujudan Avalokitesvara yang awal, Ia muncul di masa yang lebih kemudian, oleh karena itu mengatakan bahwa Avalokitesvara berasal dari dewa kuda sungguh tidak berdasar.

Buddha Dewi Kwan Im ( Guan Yin)

Buddha Dewi Kwan Im ( Guan Yin)

Dalam Maha Karuna / Nilakantha Dharani [suatu dharani yang berhubungan dengan Sahasrabhujasahasranetra Avalokitesvara] beberapa kali disebutkan panggilan bagi Dewa Shiva [Nilakantha, Siddha Yogeshvara, Sankara] dan Vishnu [Varaha, Narasimha], bahkan Hari-hara [gabungan antara Vishnu dengan Shiva]. Sahasrabhujasahasranetra Avalokitesvara [Qian Shou Qian Yan Guan Yin] adalah suatu perwujudan Guan Yin yang dipengaruhi oleh Dewa Indra, Shiva dan Vishnu yang konon dalam kitab-kitab Veda dikatakan juga memiliki 1000 lengan dan 1000 mata. Namun_tidak berarti bahwa Avalokitesvara adalah seorang Dewa Hindu yang diadaptasi menjadi Bodhisattva, karena hanya beberapa perwujudan dari Avalokitesvara saja yang berasal dari ajaran Hindu.

Perwujudan asli Avalokitesvara yang bernama Arya–Avalokitesvara Bodhisattva adalah perwujudan yang asli Buddhis, tidak dipengaruhi oleh Dewata Hindu manapun. Bahkan sebelumnya kita telah melihat bahwa Avalokitesvara sebenarnya berasal dari perwujudan cinta kasih Sang Buddha sendiri, yang disimbolisasikan sebagai Bodhisattva Yang Maha Welas Asih, yang selalu siap dan sigap dalam menolong semua makhluk.

Lagipula, dalam Sutra-sutra Buddhis memang dikatakan bahwa Avalokitesvara dapat berwujud sebagai Dewata Hindu karena upaya kausalya-nya untuk menolong para makhluk. Saddharmapundarika Sutra dan Karandavyuha Sutra menyebutkan bahwa Avalokitesvara dapat mewujudkan diri-Nya sebagai Mahesvara (Shiva), Brahma, Narayana [Vishnu] maupun Indra. Di dalam Sutra Karandavyuha juga disebutkan bahwa Narayana terlahir dari hati Avalokitesvara dan Mahesvara terlahir dari dahi Avalokitesvara. Maka dari itu, bukanlah sesuatu yang mengherankan apabila ada beberapa perwujudan Avalokitesvara yang berasal dari agama Hindu, karena perwujudan tersebut adalah upaya dari Sang Bodhisattva untuk menyebrangkan semua makhluk sampai ke Pantai Nirvana.

Ada perkataan bagus dari Ven. Piyasilo Mahathera mengenai hal ini:

“Seiring dengan berlalunya waktu, karuna ditekankan dan Avalokitesvara sebagai perwujudannya menjadi jalan tertinggi dalam Hinduisme pada Buddhadharma….. Avalokitesvara tidak boleh disalahartikan sebagai dewa ‘Hindu’ yang ditemukan oleh bhiksu yang putus asa agar bisa menyelamat-kan ajarannya yang sedang sekarat. Dia mewakili jawaban bagi kebutuhan yang menekan dan pengalaman hidup bagi orang kebanyakan yang melihat Buddhadharma lebih dari sekadar kitab suci dan pengetahuan, atau lebih buruk daripada itu, sebagai komersialisasi religius dan apatis spiritual Orang-orang yang percaya hanya perlu memohon langsung kepada Sang Avalokitesvara dalam salah satu bentuknya yang tak terhingga banyaknya. Seseorang hanya perlu mengutarakan kesulitannya dan laksana seorang Penasihat Agung, Sang Avalokitesvara selalu siap mendengarkan dengan penuh perhatian. Jika ada yang berpikir bahwa hal ini bernada ke-Tuhanan, dia harus ingat bahwa meditasi Avalokitesvara juga muncul dalam bentuk metoda visualisasi dengan realisasi tanpa ke-aku-an yang menghasilkan pandangan terang (vipassana) sebagai tujuannya.”mencapai pembebasan spiritual. Selama kurun waktu inilah Avalokitesvara melewati proses ‘adaptasi simbolis’ dengan mengasimilasi sifat dewa Brahmanis sambil tetap mempertahankan sifat Buddhis hakiki —dengan demikian menetralkan pengaruh Hinduisme pada Buddhadharma.”

 

 

Asal Muasal Nama “Guan Yin”

Guan Yin (Avalokitesvara Bodhisattva)  masuk ke Tiongkok pada akhir abad 1 M, pada zaman Dinasti Han. Guan Yin sudah ada di Tiongkok sejak diterjemahkannya Maha Sukhavativyuha oleh Lokaksema dan Kang Seng Kai pada abad 2 M serta Sanghavarman pada tahun 252 M. Pada tahun 266 M dan 270 M, Dharmaraksa menerjemahkan Saddharmapundarika Sutra dan Karandavyuha Sutra yang merupakan dua sutra penting Avalokitesvara. Oleh karena itu, dapat dipastikan Guan Yin Pusa adalah Bodhisattva Buddhis dan penghormatannya di Buddhis memang mengawali dan mempelopori segala bentuk penghormatannya di berbagai ajaran dan kepercayaan di Tiongkok.

Kata-kata “Guan Yin” sendiri juga merupakan sebuah sebutan yang bersifat Buddhistik. Sering orang salah kaprah mengatakan bahwa Avalokitesvara di India berubah menjadi seorang dewi bernama Guan Yin. Ini merupakan suatu hal yang amat konyol, mengingat kata-kata “Guan Yin” didapat dari terjemahan Sansekerta “Avalokitesvara”. Nama terjemahan Avalokitesvara yaitu “Guan Yin” muncul seawal-awalnya pada tahun 185 M yaitu pada terjemahan Sutra Cahaya Kesempurnaan Samadhi (成具光明定義經) oleh Zhi Yao (支曜). Terjemahan “Guan Shi Yin” muncul paling awal pada terjemahan liturgi kebaktian yang diterjamahkan pada masa Dinasti Han Akhir (25-220 M).

Buddha Dewi Kwan Im ( Guan Yin)

Buddha Dewi Kwan Im ( Guan Yin)

‘Guan Shi Yin (觀世音)’, berarti “Ia yang mendengar suara dunia”. Cheng Kuan (738-839) menulis dalam komentarnya, ia menunjukkan bahwa dalam naskah original Sansekertanya sendiri terdapat dua nama yang berbeda, yang dilihat dari manuskrip tua (ditemukan tahun 1927 di Sin Kiang, Xin Jiang, Tiongkok) yang berasal dari abad ke-5 M. Di manuskrip tua tersebut nama Avalokitasvara (Guan Yin) muncul sebanyak 5 kali, sehingga akhirnya Mironov menyimpulkan bahwa kata “Avalokitasvara” adalah bentuk aslinya namun akhirnya diganti dengan Avalokitesvara. Profesor Murray B Emeneau pun juga mengatakan bahwa “Avalokitasvara” berarti “Ia Yang Mendengar Suara”. Bahkan murid Xuan Zang yang terkenal yaitu Gui Zhi ( 窺基 632-82 M), menggunakan lagi kata “Guan Yin” dalam menerjemahkan Prajnaparamita Hrdaya Sutra. Kumarajiva (344-413 M), yang dikritik oleh Xuan Zang karena menggunakan kata “Guan Yin” dalam menerjemahkan Saddharmapundarika Sutra dan Prajnaparamitahrdaya Sutra, ternyata Beliau juga telah mengatakan bahwa “Guan Shi Yin” (觀世音) bisa juga disebut Guan Zi Zai (觀自在)..

Tara Bodhisattva

Tara Bodhisattva

ASAL MUASAL AVALOKITESVARA WANITA

Saddharmapundarika Sutra menjelaskan bahwa Avalokitesvara dapat mengambil wujud pria maupun wujud perempuan. Namun, Avalokitesvara sendiri bukanlah keduanya karena Beliau telah terbebas dari segala konsep dualisme. Oleh karena itu sebenarnya dari kutipan sutra di atas, tidak ada lagi pertanyaan apakah Avalokitesvara itu pria atau perempuan.

Sayangnya, dunia berkata lain. Berbagai sejarawan mulai mempertanyakan dan mendiskusikan tentang gender sang Bodhisattva. Banyak sekali yang menganggap bahwa Avalokitesvara di India berwujud pria dan Avalokitesvara di Tiongkok berwujud perempuan. Sebenarnya pendapat mereka tersebut ada benarnya. Di India sendiri, Avalokitesvara memang sering sekali digambarkan sebagai sesosok pria, sedangkan Avalokitesvara yang kita kenal di kalangan masyarakat Tionghoa adalah Avalokitesvara yang digambarkan sebagai sesosok perempuan yang sangat cantik dan anggun dengan jubah putihnya yang dikenal dengan sebutan Bai Yi Guan Yin / Bai Yi Dashi (Hok: Pek Ie Tai Su). Di kalangan masyarakat, juga dikenal sebutan Bai Yi Niang Niang pada Guan Yin.

Sampai pada akhirnya timbullah hipotesa bahwa Guan Yin di Tiongkok sebenarnya adalah Dewi Tiongkok kuno yang kemudian diadopsi oleh ajaran Buddha. Hal ini sempat menjadi sangat kontroversial di kalangan umat Buddha, karena bukankah Guan Yin adalah sesosok yang sangat dihormati oleh umat Buddha khususnya di kalangan umat Mahayana? Lantas bagaimana nasib keyakinan umat Buddha kalau mengetahui bahwa Bodhisattva yang dihormatinya sebenarnya berasal dari ajaran lain? Oleh karena itu, penting sekali untuk mengetahui bahwa di India dan Nepal, di tanah kelahiran Sang Buddha sendiri, telah dikenal sosok perempuan dari Avalokitesvara. Siapakah sosok perempuan Avalokitesvara itu? Beliau adalah Tara dan Pandaravasini Bodhisattva?

 

 

Tara Pandaravasini apakah Feminine Avalokitesvara?

Banyak sekali sejarawan ternama yang mengatakan bahwa Pandaravasini di India adalah pelopor adanya Baiyi Guan Yin di Tiongkok, di antaranya adalah H.Maspero, Kenneth Chen dan Profesor Lokesh Chandra.

Henri Maspero dan Kenneth Chen mengatakan bahwa Baiyi Guan Yin adalah Pandaravasini – 白衣女神 (berjubah putih) dan juga wujud Tionghoa, consort dari Avalokitesvara dan merupakan Bodhisattva yang sangat penting dalam tradisi Tibetan. Ketika Pandaravasini pertama kali diperkenalkan ke Tiongkok pada masa Dinasti Tang, menurut pandangan ini, Ia berubah menjadi Dewi Kesuburan karena Pandaravasini termasuk dalam Garbhadhatu (Mandala Rahim). Kata-kata rahim tersebut membuat Beliau juga dijadikan Dewi Pemberi Anak oleh masyarakat Tiongkok, yang dikenal dengan nama Song Zi Guan Yin.

Namun akhir-akhir ini Rolf A Stein tidak setuju bahwa Pandaravasini dihubungkan dengan Tara. Argumennya terdiri dari 2 poin: Baiyi Guanyin pertama kali diperkenalkan melalui teks Dharani Tantrik yang diterjemahkan pada abad ke-6 M daripada 8 M seperti yang disebutkan Maspero. Oleh karena itu, Baiyi Guan Yin telah diperkenalkan lebih awal, sehingga tidak dibawa dari Tibet. Seperti dalam teks-teks Tantra yang membutuhkan visualisasi, perwujudan Baiyi Guan Yin digambarkan dengan jelas dalam teks yang berasal dari abad ke-6 M tersebut. Wujud Baiyi Guan Yin dalam teks tersebut, tanpa menyebutkan gender, adalah memakai jubah putih dan duduk di atas teratai dengan memegang teratai (bukan dahan willow) dan tangan lainnya memegang vas. Rambut-Nya disanggul ke atas. Teks Tantrik ini diduga yang menjadi basis dari perwujudan Baiyi Guan Yin.

Pandaravasini Bhiksuni Laksmi

Pandaravasini Bhiksuni Laksmi

Bodhisattva Avalokitesvara

Bodhisattva Avalokitesvara

Pandaravasini memiliki arti “Yang Berjubah Putih”. Dalam konsep Mahayana dan Tantra, Beliau adalah prajna dari Amitabha Buddha, salah satu dari 5 Prajna dari Dhyani Buddha. Bersama-sama dengan Amitabha dan Avalokitesvara, mereka adalah Sambhogakaya dari Buddha Sakyamuni. Lantas bagaimanakah Pandaravasini ini dihubungkan dengan Avalokitesvara dan Tara?

Dalam Mahavairocana Sutra / Tantra disebutkan bahwa Pandaravasini berada dalam Garbhadhatu Mandala (Mandala Rahim). Pandaravasini_duduk berdekatan dengan Tara. Yang menarik adalah, bahwa Pandaravasini dan Tara terletak dalam barisan kelompok Avalokitesvara dalam Garbhadhatu Mandala tersebut. Pandaravasini adalah Ibu dari keluarga Teratai (salah satu keluarga Buddha) dan pemimpin dari keluarga Teratai tersebut adalah Avalokitesvara. Ia diberi nama “Kediaman Putih” (Bai Chu) karena Ia tinggal di teratai yang putih suci. Disimpulkan Avalokitesvara, Tara dan Pandaravasini terdapat keterkaitan yang amat erat.

“Dalam Garbhadhatu Mandala, Bodhisattva “Kediaman Putih”, “Tubuh Putih’ dan “Tubuh Putih Maha Terang” (Daming Baishen) yang berada di barisan Guan Yin, semuanya berjubah putih dan dapat disebut Baiyi. Putih adalah simbol dari pikiran yang tercerahkan, yang ‘melahirkan’ semua Buddha dan Bodhisattva. Oleh karena itu para Bodhisattva perempuan yang berada dalam

barisan Avalokitesvara_kebanyakan berjubah putih, karena mereka adalah Ibu dari Buddha dan Bodhisattva.”

Dalam Mahavairocana Sutra yang diterjemahkan ke dalam bahasa Tionghoa dan Tibet pada abad ke-7-8 M dikatakan bahwa Tara Bodhisattva  juga memakai jubah putih: “Di kanan-Nya (Avalokitesvara) duduklah Sang Dewi, yang dikenal dengan nama Tara Agung. Ia sangat berkebajikan dan mampu melenyapkan ketakutan. Warna tubuhnya hijau muda dengan wujud yang beraneka ragam. Ia mengambil wujud sebagai seorang remaja perempuan. Di tangan-Nya yang saling menutup, dibawanyalah sebatang teratai biru. Ia dikelilingi oleh cahaya dan memakai jubah putih.”

Buddhaguhya (sekitar 700 M), seorang Bhiksu Vajrayanis yang berdiam di India dan menerima ajaran Mahavairocana dari Lilavajra. Ia memberikan komentarnya mengenai Tara dalam Mahavairocana Sutra:

“Memakai jubah putih: Ini menyimbolkan keagungannya. Seperti tubuh seseorang yang ditutupi dan menjadi tampak sederhana oleh pakaian, maka dari itu keagungan adalah simbol kesederhanaan, maka dari itu Beliau teragungkan. Putih menyimbolkan kesucian dari keagungan. Mengapa Ia teragungkan? Karena keagungan adalah kualitas dari para Bodhisattva.”

Tara Bodhisattva 00007Dalam Sutra Mahavairocana tersebut juga disebutkan tentang Pandaravasini yang berpakaian putih: “Dekat dengan Tara, yang bijak seharusnya menggambar Pandaravasini. Ia memiliki rambut ikal yang dijalin dan memakai pakaian berwarna putih. Di tangan-Nya ia memegang setangkai bunga teratai.”

Buddhaguhya memberikan komentarnya: “Pandaravasini: Namanya memiliki arti “Ia yang berdiam dalam putih” atau “Ia yang memakai jubah putih” karena Ia berada di kesucian dharmadhatu. Ia digambarkan dekat dengan Tara dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa Dewi Tara tidak hanya melakukan tindakan penyelamatan bagi semua makhluk hidup, tetapi Ia juga berlindung pada kesucian dharmadhatu.”

Seperti kita tahu, Tara merupakan figur perempuan yang paling terkenal di kalangan Buddhis Vajrayana. Pemujaan-Nya sangat populer baik di India, Nepal, Tibet ataupun di tanah air kita sendiri yaitu Indonesia. Beliau berikrar untuk mencapai Ke-Buddhaan dalam wujud seorang perempuan dan merupakan simbol dari aktivitas semua Buddha. Beliau terlahir dari air mata Avalokitesvara. Tara putih terlahir dari air mata yang terjatuh dari mata kiri, sedangkan Tara Hijau dari mata kanan Avalokitesvara. Tara sendiri adalah consort dan prajna dari Avalokitesvara, menandakan bahwa pada hakekatnya Tara dan Avalokitesvara adalah sama, demikian juga dengan Pandaravasini.

Sekte Shingon di Jepang mengenal delapan manifestasi Guan Yin. Ini berasal dari Mahavairocana Sutra, di mana telah disebutkan di atas bahwa Pandaravasini dan Tara berada dalam barisan kelompok Avalokitesvara.

Bahkan dalam adalah Baiyi Dashi [Guan Yin] Wu Yinxin Tuoluoni Jing (Pancamudra Dharani

Pandaravasini Mahasattva [Avalokitesvara] Sutra), yang merupakan sebuah Sutra mengenai

Guan Yin perempuan yang berbaju putih, terdapat mantra dari Bodhisattva Guan Yin yaitu : OM MANI PADME HUM sedangkan Tara yaitu: Tare Tuttare Ture Svaha.

*

Baiyi Dashi [Guan Yin] Wu Yinxin Tuoluoni Jing dicetak sejak zaman Dinasti Ming, paling awal pada tahun 1428 M dan mayoritas pada masa periode Wanli, sekitar 1600 M. Ada juga

teks yang disebut Baiyi Guan Yin Jing atau Zhou (Sutra atau Mantra Avalokitesvara). Sutra-sutra tersebut sangat pendek namun mencakup suatu mantra. Pelafalan dan pengingatan Sutra ini dianggap sangat manjur. Salah satu yang paling terkenal bernama Baiyi Guan Yin (Dashi) Shen Zhou (Mantra Pandaravasini dari Avalokitesvara atau Makhluk Agung). Sutra tersebut sudah digunakan sejak abad 11 M dan masih banyak dicetak dan disebarkan gratis pada zaman sekarang. Mantra dari teks tersebut adalah: “Tadyatha Om Gharavatto Gharavatto Raghavatto Raghavatto Svaha!”

Teks terkenal yang lain, yaitu Guan Yin Shi Ju Jing (Sutra Guan Yin 10 Kalimat), terkadang digabungkan dengan Baiyi Guan Yin Shen Zhou dan disebut sebagai Guan Yin Meng Shou Jing (Sutra Avalokitesvara yang ditransmisikan melalui mimpi), Guan Yin Baosheng Jing (Sutra Avalokitesvara Pelindung Kehidupan) atau Guan Yin Jiusheng Jing (Sutra Avalokitesvara Menyelamatkan kehidupan). Teks-teks tersebut juga berasal; dari abad 11 M. kedua teks tersebut diduga ditansmisikan oleh Baiyi Guan Yin kepada umatnya. Pelafalan sutra tersebut diyakini dapat membebaskan umat dari penderitaan, namun tidak spesifik pada pemberian anak.

Masih mengenai Pandaravasini, di Tiongkok juga muncul teks bernama Miao Ying Bao Juan. Miao Ying Bao Juan adalah sebuah teks biografi dari Baiyi Guan Yin. Sebagaimana judulnya, maka tokoh utamanya adalah Miao Ying. Sampai sekarang masih 4 macam edisi yang masih eksis, di mana paling awal tahun 1860 M. Teks tersebut juga dikenal dengan nama Baiyi Bao Juan (Bab Berharga dari Guan Yin Berjubah Putih) dan Baiyi Cheng Zheng Bao Juan (Bab Berharga dari Pencapaian Sempurna Guan Yin Avalokitesvara).

Berdasarkan ceritanya, yang bertempat di Luoyang pada masa pemerintahan Taizong (976-96) dari Song, dikisahkan seorang bernama Tuan Xu berusia 40 tahun ketika istrinya melahirkan Miao Ying, anak satu-satunya. Miao Ying mulai bervegetarian sejak umur 7 tahun dan ketika beranjak dewasa, menghabiskan hidupnya dengan melafalkan Saddharmapundarika Sutra. Orang tuanya mencarikan suami untuknya, namun Miao Ying menolaknya karena ia tidak ingin menikah. Miao Ying berkata bahwa menikah dan anak-anak hanyalah menambah beban karma dan penderitaan seseorang. Namun orang tuanya secara diam-diam menunangkannya dengan Wang Cheng Zu, seorang putra dari keluarga baik-baik dan membuat rencana dengan keluarga Wang untuk pernikahannya dengan Miao Ying. Orang tuanya kemudian mengakali Miao Shan agar keluar untuk melihat-lihat barang pada saat Festival Lampion. Begitu keluar, ia diculik oleh 200 pria yang dikirim oleh keluarga Wang, yang telah menunggu untuk menyergapnya. Ia berdoa kepada Yang Maha Kuasa dan menggerakkan hati Buddha (dipanggil Ling Shan Jiao Zhu, Guru Agung dari Puncak Burung Nasar). Beliau memerintahkan Caturmaharajadeva, para dewa pelindung dan dewa petir, hujan angin untuk menimbulkan badai dan ketika semuanya kacau balau, para dewa membawa Miao Ying ke Gunung Baiyun. Ketika badai sudah lenyap, para penculik menemukan bahwa Miao Ying telah hilang dan hanya meninggalkan satu salinan Saddharmapundarika Sutra di dekat pintu.

Orang tua Miao Ying menuntut Wang dengan tuntutan pembunuhan. Ia dipenjara dan disiksa, karena tidak kuat lagi, ia melakukan pengakuan palsu atas tuduhan yang dikenakan padanya. Karena tragedi tersebut, Wang menyadari hidup yang selalu berubah, tidak kekal, sehingga ia mulai melafalkan nama Buddha. Ia berikrar untuk menjadi seorang Buddhis apabila ia dilepaskan dan diizinkan untuk pulang ke rumahnya. Ketika Raja merayakan ulang tahun yang ke-16, ia mengajukan amnesti dan raja kemudian mengirim Wang ke pengasingan. Wang melakukan pengasingan beserta 2 narapidana lainnya. Suatu malam ketika mereka berada disebuah gunung, mereka mendengar suara dari kuil yaitu suara gong kayu yang berbentuk ikan. Mereka akhirnya menemukan Miao Ying, yang selalu berlatih di kuil tersebut. Setelah Miao Ying menceritakan pada Wang apa yang terjadi, Wang memutuskan untuk menjadi muridnya dan mempraktekkan ajaran Buddha juga. Miao Ying memberikan Tisarana dan Pancasila padanya. Ketika kedua narapidana lainnya yang bersama Wang kembali ke rumah mereka, berita tersebut dengan cepat tersebar, orang tua Miao Ying dan Wang, Gubernur dan 18 orang lainnya memutuskan untuk mendatangi Miao Ying. Orang-orang dan keluarga yang mengunjungi Miao Ying semuanya mendengarkan ceramahnya dan melafalkan nama Buddha bersama-sama. Akhirnya, pada tanggal 3 bulan 1 Lunar Imlek, dengan tahun yang tak diketahui, Miao Ying “naik ke langit di siang hari dan menjadi Makhluk Agung Berjubah Putih Yang Menolong Para Makhluk terbebas dari Kesedihan dan Penderitaan (Baiyi Dashi Jiuku Jiunan).

Oleh karena itu, bukanlah suatu yang mengherankan apabila Avalokitesvara di Tiongkok ditampilkan sebagai perempuan muda yang berjubah putih. Hal tersebut disebutkan dengan jelas di Mahavairocana Sutra. Namun tak disangka, wujud perempuan Guan Yin yang berjubah putih menjadi sangat terkenal di Tiongkok mulai abad ke 10-11 M, kira-kira 400 tahun setelah Mahavairocana Sutra selesai diterjemahkan. Menurut para sejarawan, memang mulai abad ke-11 M, Avalokitesvara mulai banyak digambarkan sebagai sesosok perempuan di Tiongkok, ditandai dengan munculnya kisah Putri Miao Shan.

 

 

Avalokitesvara (Guan Yin), Apakah seorang Dewi Taois (Tiongkok kuno)?

Ada lagi yang mengatakan bahwa sebutan Taois untuk Guan Yin adalah Guan Yin Da Shi. Namun sebenarnya istilah “Guan Yin Da Shi” atau “Baiyi Da Shi” adalah terjemahan dari bahasa Sansekerta ke dalam bahasa Tionghoa. “Guan Yin Da Shi” berarti “Avalokitesvara Mahasattva” dan “Baiyi Da Shi” (Pek Ie Tai Su) berarti “Pandaravasini Mahasattva. “Da Shi” (大士) adalah terjemahan bahasa Tionghoa dari Sansekerta “Mahasattva” (Makhluk Agung). Jadi istilah “Guan Yin Da Shi” dan “Baiyi Da Shi” sebenarnya adalah sebutan yang bersifat Buddhis.

Sundari

Sundari

Lagi-lagi ada yang mengatakan bahwa dahan willow yang dipegang Avalokitesvara berasal dari pengaruh Taois. Namun sebenarnya dahan willow ini disebutkan dalam Sutra Dharani Memohon Bodhisattva Avalokitesvara Untuk Mengatasi dan Melenyapkan Racun yang Mematikan (Qing Guan Shi Yin Pu Sa Fu Du Tuo Luoni Jing) yang diterjemahkan oleh Zhunan Ti dari bahasa Sansekerta pada masa Dinasti Jin Timur (317-420 M). Sutra ini menjadi perhatian oleh pendiri Tian Tai Zhi Yi dan master-master Tian Tai lainnya dari Dinasti Song. Sutra ini dibuka dengan utusan kerajaan Vaisali yang datang kepada Sang Buddha dan meminta pertolongan atas musibah penyakit menular yang menimpa masyarakat Vaisali yang diakibatkan oleh Yaksha. Sang Buddha kemudian menuruh mereka untuk menghormat pada Avalokitesvara dengan mempersembahkan dahan willow dan air suci yang dapat mensucikan dan menyembuhkan. Avalokitesvara kemudian muncul di depan Sang Buddha dan melafalkan sebuah Dharani. Ketika seseorang melafalkan nama Avalokitesvara tiga kali dan Dharani-nya, maka seseorang akan terbebas dari segala mara bahaya. Dharani tersebut juga dapat mengunci mulut berbagai binatang buas dan iblis sehingga mereka tidak lagi berbahaya. Selain itu Dharani tersebut dapat menyelamatkan seseorang dari kebakaran (hujan yang diturunkan oleh raja naga akan memadamkan api), menyelamatkan seseorang dari kelaparan dan hukuman mati serta dari para pencuri dan racun. Bagi para perempuan, Dharani tersebut dapat membantu ketika seseorang kesulitan melahirkan. Ketika seseorang dengan tulus melafalkan Dharani tersebut, maka ia akan terbebas dari segala karma buruknya dan tidak akan terjatuh ke dalam 4 alam apaya. Jadi jelas bahwa botol dan dahan willow yang dipegang oleh Avalokitesvara adalah murni Buddhis. Bahkan di Nepal, Avalokitesvara Seribu Lengan [Sahasrabhujasahasranetra] digambarkan memegang dahan willow. Ini semakin menunjukkan bahwa dahan willow ini adalah pengaruh dari India, bukan Taois.

Menurut para Taois, Guan Yin telah dikenal di Tiongkok sejak zaman dahulu sebelum ajaran Buddha masuk. Konon Guan Yin pada saat itu dikenal dengan nama Ci Hang Da Shi. Ci Hang Da Shi (Ci Hang Dao Ren) adalah Pendeta Penyelamat Pelayaran yang hidup pada masa Dinasti Yin-Shang dan salah satu dari 12 murid Yuan Shi Tian Zun, begitulah menurut kitab Feng Shen Yan Yi. Di novel Feng Shen diceritakan bahwa Ci Hang Dao Ren membantu pihak Wu Wang dan Jiang Zi Ya dalam menumbangkan Kaisar jahat bernama Zhou Wang. Ci Hang Dao Ren digambarkan duduk di atas singa emas berkepala sembilan. Hari rayanya ada tiga yang pertama tanggal 19 bulan 2 Lunar (Ia berdoa agar para makhluk yang telah meninggal terbebas dari neraka dan berkah bagi yang masih hidup), tanggal 19 bulan 6 Lunar (ia mengalahkan Ning Bo Xian Zi) dan tanggal 19 bulan 9 Lunar di mana Ci Hang mencapai keabadian (pencerahan).

Karena latar belakang kisah Ci Hang adalah Dinasti Yin-Shang yaitu ribuan tahun SM (Sebelum Masehi), maka banyak orang yang menganggap bahwa Ci Hang Da Shi telah ada sedari dulu di Tiongkok sebelum masuknya Guan Yin ke Tiongkok. Dan Ci Hang Da Shi oleh banyak orang sering dianggap sebagai cikal bakal Guan Yin perempuan.

Namun apa benar kisah Ci Hang Da Shi setua itu? Apabila dilihat lagi, maka jelas bahwa kisah Ci Hang Da Shi sangatlah tidak tua. Kisah Ci Hang Da Shi baru muncul pada kitab Li Dai Shen Xian Tong Jian yang berasal dari Dinasti Ming (1368-1644 M). Kisah Ci Hang Da Shi juga ada dalam novel Feng Shen Yan Yi yang juga berasal dari Dinasti Ming. Maka dari itu dapat dipastikan bahwa kisah Ci Hang Da Shi baru muncul pada masa Dinasti Ming. Kisah Ci Hang Da Shi dalam Li Dai Shen Xian Tong Jian-pun juga diragukan keakuratan sejarahnya.

Kaisar Song Hui Zong pada tahun 1119 M, tahun Xuan He, memberikan gelar Taois pada Avalokitesvara dengan nama Dewi “Ci Hang Pu Du Yuan Tong Zi Zai” (慈航普渡圆通自在天尊). Ini adalah asal muasal nama “Ci Hang” diberikan pada Guan Yin. Bandingkan dengan Guan Shi Yin Pu Sa yang sudah muncul di Tiongkok pada abad ke-8 M (sekitar empat abad sebelum “Ci Hang Da Shi” eksis !!)

Ratu Yang Gui Fei , selir Kaisar Tang Xuan Zong

Ratu Yang Gui Fei , selir Kaisar Tang Xuan Zong

Kisah Ci Hang Da Shi juga muncul setelah/sesudah wujud perempuan Guan Yin menjadi terkenal di Tiongkok. Jadi tidak mungkin bagi Ci Hang Da Shi untuk mempengaruhi Guan Yin sehingga berwujud perempuan. Bahkan kisah Miao Shan (1100 M) lebih awal daripada nama dan kisah Ci Hang Da Shi.

Di Tiongkok, Guan Yin telah digambarkan dalam wujud perempuan secara luas pada saat Dinasti Tang dan Song, sedangkan kisah Ci Hang Da Shi baru muncul pada masa Dinasti Ming (Kaisar Song Hui Zong hanya memberikan gelar), yang merupakan Dinasti sesudah Tang dan Song. Bagaimana mungkin Ci Hang Da Shi mempengaruhi Guan Yin sehingga berwujud perempuan? Hal itu mustahil.

Yang lebih mengejutkan lagi, dalam kitab Taois berjudul ‘Tai Shang Dong Xuan Ling Bao

Yuan Tong Tian Zun Ci Hang Yuan Jun Ben Xing Miao Jing’ (太上洞玄靈寶圓通天尊慈航元君本行妙經) yang ditulis setelah Kaisar Hui Zong menganugrahkan gelar Taois pada Avalokitesvara, mengisahkan tentang Putri Xing Yin (Miao Shan), anak dari Raja Miao Zhuang versi Taois:

“Engkau [Xing Yin] bukanlah manusia biasa, sebenarnya engkau adalah Pejabat Surgawi. Pada waktu itu Yu Huang Da Di mengutusmu untuk terlahir kembali. Dan maka dari itu engkau turun menuju dunia manusia dan berwujud fisik sebagai seorang perempuan, ini untuk membantumu dalam tindakan penyelamatanmu di masa depan.”

Secara mengejutkan bahwa naskah Taois-pun mengatakan bahwa putri Xing Yin asalnya bukanlah seorang Dewi, tetapi seorang Dewa [laki-laki] bernama Yuan Tong Ci Hang. Maka dari itu lebih-lebih tidak mungkin apabila dikatakan bahwa wujud perempuan Guan Yin adalah pengaruh Taois. Yang malah lebih terlihat adalah pengaruh Buddhis pada naskah Taois tersebut, mulai Tindakan Penyelamatan Universal yang khas Buddhis, dahan willow, kisah yang mirip dengan Miao Shan dan bahkan nama “Miao Zhuang” disebutkan dalam naskah Taois tersebut, padahal “Miao Zhuang” adalah terjemahan dari Sansekerta “Subhavyuha” (dari Saddharmapundarika Sutra).

Guan Yin berasal dari agama Buddha. Sejak Kaisar Song Hui Zong memerintahkan integrasi antara ajaran Tao dan Buddha (Zhao Fo Gui Dao), Guan Yin menjadi seorang Dewi Taois dan dihormati sebagai perempuan agung (Da Shi) oleh para Taois [disadur dari buku Dao Jiao Zong Miao]. Sejak saat itu diketemukan altar Guan Yin di kuil-kuil Taois.

Berdasarkan tulisan Yu Chun Fang, sejarawan Guan Yin yang terkemuka, disebutkan bahwa warna putih adalah karakteristik dari seorang umat Buddhis awam. Sedangkan warna kuning adalah karakteristik dari ajaran Tao. Sebagaimana kita tahu, umat Buddhis awam (upasaka, grhapati) sejak zaman Sang Buddha selalu digambarkan memakai baju putih dan tradisi ini masih berlanjut sampai sekarang di Srilanka, Thailand. Menurut kitab Tao berjudul Tao Chiao Ling Yen Chi yang disusun oleh Tao Kuang Ting (850-933 M), “orang berbaju kuning” sering muncul dalam mimpi ataupun penglihatan. Hal ini mirip dengan penampakan “orang berbaju putih” yang dialami oleh umat-umat Buddhis di Tiongkok kuno, yang tak lain adalah Baiyi Guan Yin. Oleh karena itulah, menurut Yu Chun Fang, Guan Yin yang Berjubah Putih (Baiyi Guan Yin) menunjukkan bahwa Guan Yin berasal dari ajaran Buddha. Apalagi warna putih dalam kebudayaan Tionghoa sering diasosiasikan dengan kematian. Sedangkan Guan Yin dengan jubah putihnya lebih sering diasosikan dengan kehidupan (Pemberi Anak, dsb).

Ada lagi yang mengatakan bahwa Avalokitesvara yang berwujud perempuan adalah pencampuran dengan Dewi Niang Niang, Dewi Ma Zu atau Wu Sheng Lao Mu yang ada di Tiongkok. Marilah kita kaji ulang hipotesa ini. Yang dimaksud Niang Niang sebenarnya

adalah Tai Shan Niang Niang atau Song Zi Niang Niang yang bernama Bi Xia Yuan Jun. Bi Xia Yuan Jun merupakan Tian Xian Niang Niang, yaitu Yang Tertinggi di antara para Niang Niang lainnya. Nama lainnya adalah Yu Nu Niang Niang. Sampai sekarang banyak orang mengklaim kalau pemujaan Niang-Niang  ini sangat tua. Tapi kenyataan tidak berkata demikian. Pemujaan Niang-Niang baru muncul pada masa Dinasti Song sampai Ming.

Pemujaan Bi Xia Yuan Jun sendiri baru muncul pada tahun 1008 M (Culture & State in Chinese

History: Conventions, Accommodations, and Critiques) ketika Raja Song Zhen Zong datang ke

Gunung Tai. Bi Xia Yuan Jun baru muncul pada masa Dinasti Song (Daoism Handbook). Bi Xia

Yuan Jun juga tidak muncul sama sekali dalam teks-teks sebelum abad ke-15 M (The Encyclopedia of Taoism), sebuah teks mengisahkan tentang Bi Xia Yuan Jun bertajuk tahun 1635 M. Bi Xia Yuan Jun biasa ditemani oleh Zi Sun Niang-Niang  dan Yan Guang Niang-Niang . Baru pada periode Ming, kisah Bi Xia Yuan Jun bercampur dengan kisah Guan Yin yang sudah ada sebelumnya [mis: kisah Miao Shan].

Ada yang mengatakan bahwa Tai Shan Niang-Niang  sudah ada sejak zaman Dinasti Zhou periode pemerintahan Raja Wen. Namun kisah ini berasal dari kitab Shou Shen Ji versi Dinasti Ming, sehingga tentu kisah ini kurang dapat dijadikan rujukan sejarah dan keotentikan sejarah yang dicatatnya sangat diragukan.

Ratu Yang Gui Fei , selir Kaisar Tang Xuan Zong

Ratu Yang Gui Fei , selir Kaisar Tang Xuan Zong

Demikian juga Ma Zu [Tian Shang Sheng Mu / Tian Houw Niang-Niang] yang lahir pada tahun 960 M, kisahnya baru ditulis pada masa Dinasti Ming (1368-1644 M) yaitu dalam kitab Tian Fei Xian Sheng Lu. Konon Lin Mo Niang (Ma Zu) adalah seorang perempuan yang taat memuja Avalokitesvara, dan sebelumnya ibunya sendiri mengandungnya oleh karena berkah dari Avalokitesvara.

Wu Sheng Lao Mu muncul pada masa Dinasti Ming yaitu dalam tulisan Luo Qing, orang Shan Dong yang hidup pada tahun 1443-1527 M serta sebuah teks yang muncul pada tahun 1212 M (Heterodoxy in Late Imperial China). Oleh orang-orang pada Dinasti Ming, Wu Sheng Lao Mu dianggap sebagai ibu dari Guan Yin dan Xi Wang Mu. (Carnival in China: A Reading of the Xingshi).

Sedangkan Guan Yin dalam wujud perempuan telah muncul di Tiongkok sejak diterjemahkannya Mahavairocana Sutra pada tahun 724 M, sekitar 300 tahun sebelum munculnya penghormatan terhadap Bi Xia Yuan Jun, Ma Zu maupun Wu Sheng Lao Mu. Dalam

Mahavairocana Sutra disebutkan mengenai Pandaravasini sebagai “Ibu Avalokitesvara”. Bodhisattva perempuan tersebut berada dalam bagian Avalokitesvara (Guan Yin) dalam Mandala Garbhadhatu. Sedangkan Pandaravasini dan Cundi sebagai “Ibu Wilayah Teratai”

“Wilayah teratai” adalah Dewan Keempat yang terdiri dari 21 bentuk Avalokitesvara dalam

Garbhadhatu Mandala. Maka dari itu jelas sekali disebutkan dalam Mahavairocana Sutra

bahwa Pandaravasini dan Cundi adalah perwujudan dari Avalokitesvara (Guanyin) sendiri dalam wujud perempuan dan Ibu. Bahkan kisah Putri Miaoshan di Tiongkok pun sudah ada sebelum Bi Xia Yuanjun, Ma Zu dan Wu Sheng Laomu muncul.

Oleh karena itu tidaklah mungkin bagi Bi Xia Yuan Jun, Ma Zu maupun Wu Sheng Lao Mu untuk dijadikan alasan perubahan gender Guan Yin, karena sebenarnya Guan Yin dalam wujud perempuan telah ada sekitar 300 tahun sebelum kemunculan Dewi-dewi Taois tersebut atau bahkan lebih lama lagi.

Kenapa bisa lebih lama lagi? Karena sebelum diterjemahkannya Mahavairocana Sutra ke dalam bahasa Tionghoa, sebenarnya sudah ada kejadian di mana Avalokitesvara muncul dalam wujud perempuan di Tiongkok. Pertama kali Avalokitesvara dalam wujud perempuan muncul di mimpi Raja Qi Utara yang bernama Wen Cheng (561-565 M). Yang kedua tercatat dalam kitab Fa Yuan Zhu Lin (668 M) yang mengatakan bahwa Avalokitesvara dalam wujud perempuan menyelamatkan Peng Zu Jiao pada tahun 479 M. Loh, kalau begitu di Tiongkok sudah ada kisah tentang Avalokitesvara perempuan sebelum hadirnya Mahavairocana Sutra?

Sundari

Sundari

Satu-satunya Dewi Tiongkok dan agama Tao yang berasal dari zaman Sebelum Masehi dan yang terkenal hanyalah Xi Wang Mu, yang sudah ada sejak zaman Dinasti Shang (1600 SM-1046 SM). Buku-buku dari era Bai Jia [Seratus Aliran Pemikiran] – (abad 5 SM – 221 SM) ada menyebutkan karakter dari Xi Wang Mu, di antaranya di kitab-kitab Zhuang Zi, Xun Zi, dan Kitab Gunung dan Samudra yang merupakan bagian dari San Hai Jing. Namun kita melihat bahwa hampir tidak ada hubungan antara Avalokitesvara dengan Xi Wang Mu (baik dari segi kisah, perwujudan dan sebagainya), maka dari itu tidak mungkin Xi Wang Mu mempengaruhi wujud perempuan Avalokitesvara. Bahkan Xi Wang Mu sendiri baru dipanggil sebagai “Niang Niang” yaitu Wang Mu Niang Niang pada masa Dinasti Ming (Handbook of Chinese Mythology), dengan kata lain beratus-ratus tahun setelah Mahavairocana Sutra hadir di Tiongkok.

Ada lagi Niang Niang bernama Chen Shi Si Niang Niang (Chen Jing Gu, Lin Shui Fu Ren). Asal muasalnya adalah seorang gadis yang lahir pada tahun 766 M. Kuil pertama dibangun untuknya pada tahun 792 M. Namun pemujaan resminya baru ada pada masa Dinasti Song (1241-1253 M). Kisahnya ada dalam Sou Shen Ji versi Dinasti Ming. Maka dari itu juga tidak mungkin kisah Lin Shui Fu Ren mempengaruhi Guan Yin, karena Mahavairocana Sutra telah diterjemahkan berpuluh-puluh tahun sebelum kelahiran Lin Shui Fu Ren. Bahkan dalam kisah Lin Shui Fu Ren, juga disinggung tentang Guan Yin.

Kaisar Tang Xuan Zong

Kaisar Tang Xuan Zong

Mengutip dari karya Ven. Piyasilo Mahathera:

“Para pemeluk Tao mencoba lebih jauh dalam menyaingi Buddhadharma dengan menyerap tata cara peribadatan dan metoda meditasi Buddhis…… Salah satu perkembangan yang paling menarik adalah adopsi Guan Yin lewat pemujaan setempat terhadap Dewi Niang-Niang. Di zaman dulu, ada dua bentuk dewi tersebut, dewi Cina Utara (Tai Shan Niang Niang) dianggap sebagai pelindung gunung, dan yang selatan (Tian Hou Niang Niang) adalah pelindung laut. Guan Yin pemberi anak dari Saddharmapundarika Sutra mirip dengan Taishan Niang Niang. Guan Yin dari Avatamsaka Sutra, yang dikenal sebagai Nan Hai Da Shi (Guan Yin Laut Selatan), Ci Hang Da Shi (Guan Yin Karuna Batas Lautan), dan Pu Tuo Da Shi (Guan Yin Pulau Putuo), mirip dengan Tian Hou Niang Niang. Akhirnya, kedua bentuk Niang Niang itu melebur jadi satu dan sekarang ini kita bisa menemukan kuil Niang Niang, Guan Yin anak diapit oleh Niang Niang Cahaya Mata (Yan Kuang Niang Niang) di kanan dan Niang Niang Cacar (Dou Zhen Niang Niang) di kiri.”

 

Tara Bodhisattva

Tara Bodhisattva

Taishan Niang Niang tak lain adalah Dewi Bi Xia Yuan Jun dan Tian Hou Niang Niang adalah Dewi Ma Zu [Tian Shang Sheng Mu].

Malah dalam buku Latter Days of the Law dikatakan: “Proses adaptasi dan feminisasi Avalokitesvara ‘menjadi’ Guan Yin memegang peranan kunci pada bangkitnya pemujaan dewi-dewi di Tiongkok.” Unik sekali, karena semakin diteliti, bukan Dewi-dewi Tiongkok yang mempengaruhi Avalokitesvara, tetapi justru Avalokitesvara perempuanlah yang mempengaruhi bangkitnya pemujaan para Dewi (Niang Niang, Lao Mu, Sheng Mu) di Tiongkok.

Bahkan website Tao terkemuka yaitu Taoism.org.hk pun mengakui bahwa Guanyin berasal dari ajaran Buddha dan kemudian diadopsi oleh ajaran Tao untuk memenuhi kebutuhan para umat serta konsep Tri Dharma yang sudah banyak dianut zaman tersebut. Maka dari itu pandangan yang menyatakan Guan Yin berasal dari Tiongkok adalah salah kaprah.

Ada yang mengatakan bahwa pendamping Guan Yin yaitu Shan Cai dan Long Nu berasal dari Jin Tong dan Yu Nu, pendamping Yu Huang Da Di. Apakah benar demikian? Mungkin memang ada pengaruh. Namun Shan Cai sendiri sebanarnya adalah Sudhana dalam Gandavyuha Sutra (Avatamsaka Sutra) dan Long Nu adalah Nagini dari Saddharmapundarika Sutra. Jadi Shancai dan Longnu keduanya berasal dari dan ada dalam Tri Pitaka Buddhis, bukan sekedar cerita Tionghoa saja.

Baiyi Guan Yin

Baiyi Guan Yin

Selain itu, ada pula yang berkata bahwa “Guan Yin versi Buddhis” memiliki wajah keibuan sedangkan “Guan Yin versi Dewi Tiongkok” memiliki wajah seorang perempuan muda. Perbedaan wajah inilah yang membedakan keduanya [antara ‘Guan Yin Buddhis’ dengan Guan Yin Dewi Tiongkok’]. Namun ketika kita melihat Tara, jelas sekali bahwa pendapat tersebut sangat tidak masuk akal. Kenapa? Karena Tara adalah salah satu perwujudan Guan Yin, di mana perawakannya masih muda (16 tahun). Dan Tara ini juga ada di India dan Nepal. Jadi jelas bahwa Guan Yin yang berwajah perempuan muda adalah bercirikan Buddhis. Mahavairocana Sutra juga menyebutkan Tara sebagai perempuan muda dan berjubah putih.

Kesimpulam

Kalau masih meragukan keotentikan Tara maupun Pandaravasini, silahkan pergi ke Nepal dan India, tempat kelahiran Pangeran Siddharta sendiri, untuk melihat dan membuktikan apakah Tara dan Pandaravasini benar-benar ada. Dari sana akan membuka mata semuanya bahwa Baiyi Guan Yin atau Tara itu berasal dari India dan ada di Buddhis India.

Namun kalau tidak sempat, seseorang bisa melihat sendiri Tara dan Pandaravasini di Indonesia ini lewat Candi Kalasan, candi yang diperuntukkan bagi Tara yang dibangun pada tahun 778 M. Sedangkan Pandaravasini dapat ditemukan dalam naskah Sanghyang Kamahayanikan yang berasal dari 929-947 M:

“Demikianlah tentang Panca Tathagatadevi, yaitu: Bharali Datiswari, Bharali Locana, Bharali

Mamaki, Bharali Pandarawasini, Bharali Tara……Bharali Pandaravasini adalah istri [consort]

Bhatara Amitabha. Bharali Tara adalah istri Bhatara Amoghasiddhi. Demikianlah tentang Bhatara Panca Tathagata berikut dewi-Nya.”

 

Selain itu, di India, banyak dikenal pula wujud feminin [perempuan] Avalokitesvara yang lain seperti Bhrkuti, Svetabhagavati, Parnashavari dan Cundi Bodhisattva. Dalam Mahavairocana Sutra, Bhrkuti digambarkan bertubuh Putih. Sedangkan dalam tradisi Tibet, wujud Shadakshari Avalokitesvara (Chenrezig Empat Lengan) juga digambarkan dengan tubuh putih. Tampaknya warna putih memang adalah karakteristik warna dari Sang Bodhisattva yang Maha Pengasih. Tara dan Pandaravasini (Baiyi Guan Yin) adalah wujud nyata dari kesetaraan gender, di mana kaum perempuan diyakini bahkan dapat mencapai Anuttara Samyaksambodhi (sammasambodhi).

Selain Guan Gong, Guan Yin dapat juga dikatakan sebagai simbol pemersatu bangsa Tionghua. Tak dapat disangkal lagi, bahwa Guan Yin adalah sosok yang paling banyak dihormati dan paling dikenal dalam khazanah kedewataan bangsa Tionghoa. Mayoritas kelenteng di Indonesia pastilah terdapat altar Beliau. Tidak hanya umat Buddha, umat Tao dan Khong Hu Cu-pun salut dan hormat pada Guan Yin. Mungkin orang Tionghoa bisa saja tidak mengenali Sakyamuni Buddha atau beragam Dewa Dewi lainnya, namun mereka pastilah mengenal Guan Yin. Tidak heran, karena dalam Ksitigarbha Purva Pranidhana Sutra disebutkan bahwa Avalokitesvara dan Ksitigarbha memiliki jodoh karma yang sangat erat dengan Dunia Saha kita ini. Welas asih Bodhisattva Avalokitesvara sudah terpatri di dalam hati masyarakat Tionghoa.

Namo Avalokitesvara Bodhisattva Mahasattva Mahakarunikaya

Namo Avalokitesvara Bodhisattva Mahasattva Mahakarunikaya

Namo Avalokitesvara Bodhisattva Mahasattva Mahakarunikaya!

BAB III

KISAH PUTRI MIAO SHAN YANG ASLI

Legenda Miao Shan

Legenda Miao Shan

Setelah membaca uraian sebelumnya, sebenarnya masih tersisa pertanyaan, yaitu bagaimanakah dan dari manakah asal muasal kisah Putri Miao Shan?

Sebenarnya legenda Miao Shan yang tertua berasal dari ajaran Buddha dan mungkin juga mendapat pengaruh dari ajaran Tao. Tapi kalau dibilang legenda Miao Shan berasal dari ajaran Tao, maka hal itu tidaklah tepat. Rujukan utama dalam menjawab pertanyaan ini adalah buku The Legend of Miaoshan Oleh Glen Dudbridge.

Legenda Miao Shan termaktub dalam kitab suci ajaran Tao baru pada saat Dinasti Ming (1368-1644 M) yaitu kitab Sou Shen Ji. Memang kitab Sou Shen Ji disebutkan dikarang oleh Gan Bao pada tahun 320 M, namun Sou Shen Ji diedit lagi pada Dinasti Ming dan jumlahnya menjadi 20 volume (chinaculture.org). Oleh para sejarawan diduga beberapa kisah dari Sou Shen Ji tidak ditulis sendiri oleh Gan Bao. Versi Sou Shen Ji 8 Juan pertama kali muncul pada masa Dinasti Ming periode Wan Li (1573-1619 M), oleh Shang Jun (Classical Chinese Supernatural Fiction: A Morphological History).

Sou Shen Ji yang muncul pada saat Dinasti Ming ada 2 macam yaitu Zeng Bu Sou Shen Ji dan Sou Shen Da Quan. Sou Shen Da Quan menyebutkan bahwa Miao Shan adalah reinkarnasi dari Shi Shan, anak ketiga dari Grhapati Shi Qin di Jiu Ling Gu Zhu.

Dalam versi Sou Shen Guang Ji dari Dinasti Yuan yang lebih awal sama sekali tidak ada kisah mengenai Guan Yin. Kisah Ini merupakan indikasi bahwa kisah Miao Shan tidak ditemukan di kitab-kitab Sou Shen Ji yang lebih tua. Maka dari itu dapat dipastikan bahwa dalam kitab Sou Shen Ji yang dikarang Gan Bao tidak ada kisah Miao Shan.

Guan Yin sebagai Miao Shan hanya dan baru ada dalam Zeng Bu Sou Shen Ji dan Sou Shen Da Quan dari zaman Dinasti Ming. Kisah Guan Yin (Miao Shan) dalam Zeng Bu Sou Shen Ji didasarkan pada kisah yang dituturkan oleh Guan Dao Sheng dan Xiang Shan Bao Juan. Sou Shen Da Quan juga mirip dengan Nan Hai Guan Yin Zhuan Quan. Boleh dibilang Nan Hai Guan Yin Zhuan Quan didasarkan atas Sou Shen Da Quan dan Xiang Shan Bao Juan.

Sedangkan kisah Miao Shan sendiri telah muncul pada masa Dinasti Song. Hal ini bisa dilihat pada inskripsi teks yang menceritakan kisah Miao Shan yang ditulis pada tahun 1100 M di Vihara Xiang Shan oleh Jiang Zhi Qi. Pada tahun 1100 M juga, perdana menteri Cai Jing (1046-1126) mengkopi isi teks tersebut pada sebuah batu dan menjadi sebuah inskripsi. Jiang Zhi Qi mendengar kisah Miao Shan tersebut dari Huai Zhou, Bhiksu Kepala Vihara Xiang Shan. Tahun 1104, Bhiksu dari Vihara Tian Zhu bernama Dao Yu mendirikan inskripsi dengan kisah yang sama dengan yang ditulis oleh Jiang Zhi Qi tersebut di Vihara Tian Zhu.

Selain itu salah satu teks tertua tentang kisah Miao Shan ada dalam Long Xing Fo Jiao Bian Nian Tong Lun yang ditulis oleh Bhiksu Zu Xiu pada tahun 1164 M. Adapun kisah yang ditulis dalam kitab Long Xing, Xiang Shan Bao Juan serta inskripsi Jiang Zhi Qi semuanya berkaitan dengan kisah pertemuan Bhiksu pendiri aliran Lu (Vinaya) yaitu Dao Xuan (596 – 667 M) dengan seorang deva, di mana Bhiksu Daoxuan menanyakan riwayat Bodhisattva Avalokitesvara pada deva (dewa) tersebut.

Pada tahun 1306 M, Dinasti Yuan, Guan Dao Sheng, istri dari Zhaou Meng Fu, menulis Guan Shi Yin Pusa Zhuan Luo, satu lagi biografi Miao Shan. Xiang Shan Bao Juan (Kitab Pusaka dari Xiang Shan) yang ditulis sebelum 1500 M sendiri mengambil dasar cerita Miao Shan dari inskripsi yang ditulis oleh Jiang Zhi Qi dan Long Xing Fo Jiao Bian Nian Tong Lun. Perlu diketahui juga bahwa kisah Miao Shan yang sekarang ini banyak didasarkan pada kisah yang ada dalam Xiang Shan Bao Juan.

Maka dari itu ketika bersinggungan dengan kisah Miao Shan, maka Xiang Shan Bao Juan lah yang paling banyak disebut-sebut. Bahkan orang yang masih belum mengerti akan mengatakan bahwa Xiang Shan Bao Juan (Kitab Pusaka dari Xiang Shan) membuat asal muasal Guan Yin semakin tidak jelas. Tentu saja, pernyataan tersebut kurang memiliki dasar. Ini disebabkan karena Xiang Shan Bao Juan merupakan produk buatan abad 16-18 M, sehingga tentu saja, tidak dapat dijadikan rujukan asal muasal Guan Yin di Tiongkok, karena Xiang Shan Bao Juan adalah suatu produk yang sangat telat. Bahkan kisah Miao Shan yang ada di kitab Xiang Shan Bao Juan ini sendiri merupakan perkembangan dari kisah Miao Shan yang sudah ada sebelum-sebelumnya.

Selama ini kita mengenal kisah Putri Miao Shan yang sudah tercampur aduk dan sudah mengalami berbagai perubahan. Kisah yang disajikan tentang Miao Shan lewat televisi televisi ataupun berbagai macam buku seringkali dimodifikasi dan tidak menceritakan bagaimanakah kisah aslinya. Banyak Dewa Dewi Taois yang ditambahkan pada versi kisah Miao Shan yang lebih kemudian, sehingga kisah Miao Shan ini seolah-olah menjadi sebuah kisah yang bukan dari ajaran Buddha.

Hal ini dapat dilihat pada kisah Miao Shan dalam Xiang Shan Bao Juan (abad 16 M), di mana kisah Miao Shan sudah tercampur aduk dengan para Dewa Dewi Taois. Xiang Shan Bao Juan juga menyebutkan bahwa Miao Shan berasal dari Dinasti Zhou. Tapi ini tidak mungkin, karena Xiang Shan Bao Juan ditulis sekitar 2000 tahun setelah Dinasti Zhou berakhir. Oleh karena itu Xiang Shan Bao Juan bukanlah sumber yang valid. Namun sayang sekali, banyak orang yang ingin mengetahui kisah Miao Shan malah merujuk pada Xiang Shan Bao Juan, padahal jelas-jelas kisah Miao Shan yang ada dalam kitab tersebut sudah dimodifikasi alias sudah tidak murni lagi, apalagi kalau dijadikan acuan sejarah Guan Yin, sungguh tidak berdasar sama sekali. Lalu bagaimanakah kisah aslinya? Marilah kita simak:

Kisah Miao Shan yang tertua ada pada inskripsi tahun 1100 M. Long Xing Fo Jiao Bian Nian Tong Lun, sebuah catatan tradisi Buddhis di Tiongkok dari tahun 64 M sampai 957 M yang ditulis oleh Bhiksu Zu Xiu dari Long Xing Fu pada tahun 1164 M juga mencatat versi kisah tertua tersebut. Demikianlah kisah tertua tersebut:

Pada suatu waktu di masa lampau, Master Lu [Vinaya] Dao Xuan tinggal di Vihara Linggan di

Pegunungan Zhongnan. Kesucian tindakannya menyebabkan seorang deva datang kepadanya.

Master Dao Xuan bertanya pada deva tersebut suatu hari: “Aku telah mendengar bahwa Mahasattva Avalokitesvara memiliki jodoh karma dengan tanah ini, namun aku tidak tahu di manakah tempat emanasi Avalokitesvara paling banyak berada.”

Deva tersebut berkata: “Perwujudan Avalokitesvara tidak terikat oleh tempat, namun perwujudan fisiknya, memiliki jodoh karma yang sangat kuat di Pegunungan Gandhamadana (Xiang Shan).”

Master berkata: “Gandhamadana (Xiang Shan) – di manakah pegunungan tersebut berada?”

Deva tersebut berkata: 200 li ke selatan Gunung Song terdapat tiga bukit yang sejajar. Bukit yang tengah bernama Xiang Shan dan di tempat itulah Sang Bodhisattva mencapai pencerahan.

Di tenggara bukit tersebut hiduplah seorang raja di masa lampau, bernama Raja Subhavyuha (Miao Zhuang Yan). Ia mempunyai istri bernama Bao De (Jingde-Vimaladatta). Pikiran sang raja berada dalam ketidaktahuan dan tidak menghormati Triratna. Ia tidak memiliki pangeran (anak laki-laki), hanya memilki 3 orang putri, yang tertua bernama Miao Yan, yang kedua Miao Yin (Gadgadasvara) dan yang paling muda Miao Shan. Dari tiga putrinya ini, dua telah menikah. Hanya yang ketiga […] Pada saat Miao Shan masih berada dalam kandungan, ibunya bermimpi menelan bulan. Ketika malam kelahiran tiba, seluruh bumi bergetar, bau harum yang tidak dikenal memenuhi ruangan, cahaya bersinar baik di dalam maupun di luar. Masyarakat di kerajaan tersebut menjadi terkejut dan kagum, berpikir bahwa ada kebakaran di istana.

Di malam ia lahir, tubuhnya telah bersih tanpa dimandikan, tanda-tanda sucinya (laksana) agung dan mulia, dipayungi oleh awan warna warni. Masyarakat di kerajaan tersebut berkata bahwa mungkin seorang suci telah muncul di kerajaan mereka. Sang raja ayahnya juga berpikir demikian dan memberinya nama Miao Shan.

Ketika ia tumbuh, perilaku dan sikapnya jauh melampaui orang biasa, Ia selalu memakai pakaian lusuh dan tidak memakai perhiasan sama sekali, ia hanya makan sekali dalam sehari dan tidak pernah makan makanan yang rasanya sangat kuat. Ia tidak pernah berbicara omong kosong dan ketika ia berbicara, selalu untuk menasehati. Ia banyak berbicara mengenai sebab akibat, ketidak kekalan, ilusi dan ketidaktahuan. Di kerajaan ia dikenal memiliki “hati Buddha”. Mereka yang mengikuti ajarannya semuanya berubah menjadi baik. Mereka masuk ke dalam kehidupan pengendalian diri dan disiplin religius tanpa melanggar keputusan mereka.

Ketika sang raja mendengar ini, ia berkata pada istrinya: “Anak perempuan termuda kita mendevosikan hidupnya pada kebaikan [Dharma]. Di kerajaan ia mengajar para pelayan wanitaku untuk menjalani kehidupan religius dan menanggalkan perhiasan. Ini sangat dekat dengan […].” […] Ia kemudian berkata pada anak perempuannya: “Engkau sekarang telah tumbuh besar. Engkau harus menuruti instruksiku, tidak menciptakan kebingungan terhadap para pelayan wanitaku di dalam istana. Ayahmu sebagai pemimpin kerajaan tidak senang dengan hal ini. Aku dan ibumu akan mencarikan suami untukmu. Mulai dari sekarang engkau harus mengikuti tradisi kerajaan, tidak belajar ajaran salah yang dapat merusak kebiasaan dari kerajaanku.”

Miao Shan mendengar perintah ayahnya sang raja dan menjawab dengan senyuman, “Ayahku sang raja melihat […]. Sungai nafsu deras ombaknya, lautan penderitaan tidak memiliki dasar. […] datang, tidak ada jalan untuk menghindar darinya. Aku tidak akan pernah, hanya untuk kepuasan dalam satu kehidupan saja, jatuh ke dalam penderitaan selama berkalpa-kalpa lamanya. Ketika aku merefleksikan hal ini, menyebabkan aspirasi yang kuat muncul dalam diriku. Aku berikrar untuk mencari cara menjadi bhikshuni, untuk menempuh disiplin Dharma dan belajar Dharma, untuk mendapatkan kebijaksanaan agung Sang Buddha, untuk membalas budi cinta kasih kedua orang tuaku dan membebaskan semua makhluk dari penderitaan mereka. Jika engkau memerintahkanku untuk menikah, aku tidak dapat memberanikan diri untuk mematuhinya. Aku memohon padamu, berikanlah welas asihmu!”

Ketika ayahnya sang raja mendengar kata-kata ini ia berkata pada istrinya: “Anak perempuan termuda kita tidak akan […].” Istrinya dikirim untuk pergi ke anaknya dan mencoba untuk membujuknya. Namun Miao Shan berkata: “Kenapa engkau dengan susah payah mencoba untuk membuat anak perempuanmu menikah? Aku akan mematuhi perintah ibuku jika itu dapat menghalangi datangnya tiga ketidakberuntungan”. Ibunya berkata: “Apa yang kamu maksud dengan tiga ketidakberuntungan?”

Anak perempuannya berkata: “Yang pertama adalah ini: ketika laki-laki di dunia ini masih muda, wajah mereka tampan, setampan bulan giok, namun ketika usia tua datang, rambut menjadi putih, wajahnya mengkerut, segala gerakan mereka memburuk tidak seperti ketika mereka masih muda. Yang kedua adalah ini: otot seorang pria bisa sehat dan kuat, ia dapat berjalan bagaikan terbang di udara, namun ketika penyakit datang padanya, ia berbaring di tempat tidur tanpa satupun kenikmatan hidup. Yang ketiga adalah ini: seorang pria mungkin memiliki sekelompok besar teman, dapat mempunyai mereka yang paling dekat dan paling dikasihinya berada di sampingnya, namun ketika suatu hari ketidakkekalan (anitya) datang, bahkan kerabat dekat seperti ayah maupun anak laki-laki tidak dapat menggantikan tempatnya. Jika seorang suami dapat menolak/menghalau tiga ketidak beruntungan ini, aku akan menikahinya. Jika ia tidak bisa, aku berikrar untuk tidak menikah.

Aku kasihan kepada manusia di dunia ini, terjerumus ke dalam penderitaan seperti itu. Jika kita menghendaki untuk menghindari hal-hal tersebut, maka hanya bisa dilakukan lewat ajaran Dharma Sang Buddha. Tujuanku adalah menjadi seorang bhiksuni dengan harapan mendapatkan, melalui disiplin Dharma, terwujudnya pencegahan dari ketiga ketidakberuntungan semua manusia. Dengan alasan ini, aku dengan pengertian benar, berikrar […].

Sang raja menjadi semakin marah. Ia mengusir keluar anak perempuannya ke halaman [taman kerajaan], di bawah jerami […], makanan dan minuman tidak diperbolehkan lagi untuk diberikan padanya dan tidak ada pelayan wanita satupun yang diperbolehkan untuk pergi ke dekatnya. Dengan rasa kasih dan perhatian, ibunya sang ratu secara diam-diam memberitahu para pelayan istana untuk menyajikan makanan dan minuman. Sang raja berkata: “Aku melihat bahwa meskipun aku mengusirnya keluar ke halaman, ia tidak takut akan kematian dan [bahkan] melakukan segala sesuatu tanpa makanan. Engkau harus membawa kedua kakak perempuannya, Miao Yan dan Miao Yin untuk pergi dan melihatnya, memintanya untuk mengubah jalan pikirannya. Dengan cara itulah ayah dan anak dapat bertemu lagi; jika tidak, maka […].

[…] pergi ke taman luar dan melihat Miao Shan duduk dengan tegap dan tanpa bergerak, tidak memperhatikan ibunya sama sekali. Sang ibu datang menghampirinya, menepuknya dan menangis keras-keras sambil berkata: “Sejak engkau meninggalkan istana, kedua mataku hampir saja buta, tubuh dalamku telah tercerai berai. Bagaimana kamu bisa begitu tenang ketika engkau membawa ibumu dalam kondisi seperti ini? Ayahmu di kerajaan sangat takut, khawatir, hari-hari ini belum mengadakan pengadilan dan urusan kerajaan tidak dihadiri. Ia telah memberitahu ibu, Miao Yan dan Miao Yin untuk datang bersama-sama membujukmu: jika engkau memiliki pikiran welas asih pada ayahmu, maka kembalilah […] praktek yang bagus.”

Miao Shan berkata: “Anakmu tidak mengalami penderitaan di sini – mengapa orang tua-ku harus pergi sampai sejauh ini? Di [dalam] semua keterikatan emosi yang ada di dunia ini, tidak ada istilah pembebasan. Jika keluarga dekat saling berkumpul, mereka pasti akan berpisah dan terpencar. Meskipun kedua orang tuaku bersama-sama terus sampai usia 100 tahun, ketidakkekalan (anitya) akan datang menghampiri, dan mereka harus berpisah. Tenanglah, ibuku. Beruntung engkau memiliki kedua kakak perempuanku untuk menjagamu. Dengan tujuan apa ibu membutuhkan anak satu ini? Kembalilah ke dalam istana, karena anakmu ini tidak memiliki niat untuk kembali.”

Miao Yan dan Miao Yin lagi […]: “[…] Buddha? Ketika engkau melihat orang-orang sekarang yang meninggalkan keluarga mereka untuk menjadi bhiksuni, siapakah dari mereka yang dapat memancarkan cahaya dan membuat bumi bergetar, atau menjadi seorang Buddha atau patriark, membalas budi cinta kasih orang tua mereka dan menyelamatkan semua makhluk hidup? Tentu lebih baik untuk mengikuti jalan hidup manusia biasa menurut adat dan berkeluarga. Engkau telah membuat orang tua-mu jengkel dan cemas!

Mendengar kata-kata ini, Miaoshan berkata pada kedua kakak perempuannya: “Kalian mendambakan kehormatan dan kemuliaan, kalian terikat dalam cinta pernikahan dan kalian menikmati kesenangan pada masa sekarang tanpa menyadari bahwa kesenangan adalah sebab dari penderitaan. […] bergantung pada orang tua kalian, ini tidak bisa dilenyapkan. Pada waktu tersebut, bahkan jika engkau memiliki seorang suami, apakah ia mampu untuk mengambil posisimu? Saudariku, setiap dari kalian akan mengalami satu kehidupan dan satu kematian: tinjaulah diri kalian sekarang dan janganlah membujukku. Dengan tanda-tanda karma yang sangat terlihat di hadapan kalian, tidak ada yang bisa didapatkan dari penyesalan yang sia-sia. Dorong ibu kita agar kembali ke istana dan sampaikanlah pada sang raja ayah kita bahwa hal-hal kosong akan berakhir, namun ikrarku tidak memiliki akhir. Biarkanlah sang raja memutuskan jika aku harus hidup atau mati!”

Miao Yan dan Miao Yin kembali untuk memberitahukan […] ia akan menjadi bhiksuni. Sang ratu kembali dan melaporkan semua hal pada sang raja. Sang raja kemudian bahkan menjadi bertambah marah.

Pada waktu itu terdapat seorang bhiksuni bernama Hui Zhen. Sang raja memanggilnya dan berkata padanya: “Putri termuda kami Miao Shan tidak akan mengikuti tradisi moral, namun bersikeras memohon untuk menjadi seorang bhiksuni. Tentu engkau yang bermaksud untuk membujuk anak perempuanku. Kami akan membiarkan anak perempuan termuda kami tinggal di viharamu selama tujuh hari. Jika kalian dapat menasehati dan mengajak anakku untuk mengikuti instruksiku maka kami akan dengan sempurna menghias […]. […] komunitas bhiksuni tidak ada yang selamat. “ Ia kemudian mengirim seorang utusan untuk menemani sang bhiksuni ke taman kerajaan dan memerintahkan anak perempuannya untuk pergi bersama dengan sang bhiksuni dan tinggal di arama para bhiksuni.

Komunitas 500 bhiksuni mempersilahkannya ke dalam, di mana Miao Shan membakar dupa di hadapan rupang-rupang. Pada hari berikutnya, para bhikshuni berkata pada Miao Shan: “Engkau tumbuh dan besar di sebuah kerajaan, Miao Shan, mengapa engkau mencari kesunyian untuk dirimu? Lebih baik untuk kembali ke istana dari pada tinggal bermeditasi di sebuah vihara.”

Miao Shan tersenyum ketika ia mendengar perkataan mereka dan berkata: “Aku pada mulanya […][…], menyelamatkan semua makhluk. Namun sekarang aku melihat tingkat pengetahuan kalian seperti itu sehingga membuatku memandang rendah kalian. Bahkan jika kalian, yang merupakan anggota Sangha, dapat mengutarakan kata-kata seperti itu, maka berapa banyak umat awam yang akan mencelaku? Mungkin ada alasan bagi ayahku, sang raja, untuk tidak menyukai kalian semua dan melarang diriku menjadi seorang bhiksuni. Tentu kalian tahu apa arti dari kepala bundar dan jubah kotak (jubah Sangha)? Tujuan menjadi bhiksuni adalah untuk menjauhkan diri dari nama baik dan kemegahan, untuk membebaskan diri dari perasaan dan kemelekatan, untuk melenyapkan […].[…] memiliki sedikit kecocokan dalam menjadi bhiksuni. [Guru] kita Sang Buddha, Sang Bhagava, dengan sangat jelas memberikan sila bagi mereka yang meninggalkan keluarga harus meletakkan tangan di atas kepala mereka dan meninggalkan perhiasan, mereka harus memakai jubah jubah yang tidak berwarna warni dan mencari penghidupan dengan membawa mangkuk dana [patra]. Lantas mengapa kalian semua mencari kemegahan dan kemewahan, tindakan kalian menggairahkan, pakaian kalian indah dan gemilang? Kalian telah secara tidak bertanggung jawab memasuki Sangha, secara terbuka melanggar sila-sila yang murni, menerima dana dari umat dengan cara yang tidak semestinya, dengan sia-sia menghabiskan waktu kalian. Di bawah nama meninggalkan keluarga […]. Ketika kalian semua menjadi bhiksuni, pikiran kalian tidak sesuai dengan di mana Dharma berada.”

Para bhiksuni, yang ditegur oleh Miao Shan, tidak dapat berkata-kata dan tidak dapat menjawab. Pada waktu tersebut, Hui Zhen, yang paling perhatian, berkata pada Miao Shan: “Ketika para bhiksuni memprotesmu, mereka hanya berada di bawah perintah dari sang raja.” Ia kemudian memberikan surat perintah raja yang telah dikeluarkan sebelumnya, dan memohon pada Miao Shan, untuk segera mengubah pikirannya dan menolong komunitas para bhiksuni ini, untuk menghindari bencana yang akan datang pada anggota Sangha.

Miao Shan berkata: “Tentu engkau […]. […] Sang Pangeran Mahasattva menjatuhkan dirinya dari tebing untuk memberi makan harimau, dan mencapai tingkatan tanpa-kelahiran. Raja Sivi memotong dagingnya sendiri untuk menolong seekor merpati, mencapai pencerahan di pantai seberang (Nirvana). Karena kalian semua telah meninggalkan keluarga, maka kalian harus memandang tubuh ilusi ini sebagai tidak kekal dan tidak disukai, empat elemen utama pada hakekatnya tidak eksis. Setiap pikiranmu harus bebas dari samsara, semua pikiran kalian haruslah mencari pembebasan. Kenapa kalian takut pada kematian dan mencintai kehidupan, atau masih bertahan di kantung kulit yang kotor dan bau tersebut? Tentu kalian tahu bahwa para makhluk menderita karena nafsu […] buah karma. Satu-satunya harapanku adalah bahwa hati raja beraspirasi untuk dapat bebas dari kematian. Tenanglah, ketika aku telah mencapai pencerahan, aku akan menyelamatkan kalian dari samsara. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Ketika para bhiksuni mendengar ujaran tersebut, mereka bersama-sama saling berdebat, dan

berkata: “Miao Shan lahir di istana dan tidak mengetahui sama sekali kesulitan di luar. Ia berpikir bahwa menjadi bhiksuni adalah hal yang menyenangkan. Kita harus membebaninya dengan tugas-tugas yang berat dan rendah, sehingga ia akan menyesal dan ketakutan.” Setelah berkata ini, mereka memberitahu Miao Shan: “Karena keinginanmu untuk menjadi seorang bhiksuni, maka engkau harus […]” […] bekerja keras. Pertama ia pergi ke dapur untuk menjalankan tugas-tugasnya. Setiap pekerjaan yang orang lain tidak dapat lakukan, dapat dikerjakannya seorang diri. Para bhiksuni berkata: “Tidak ada sayuran di taman dapur, dan engkau harus menyediakan beberapa. Harus ada cukup sayur pada waktu yang telah ditentukan, apapun kondisi persediaannya.” Miao Shan pergi ke taman dan ia melihat memang hanya ada sedikit sayuran. Ia kemudian berpikir bagaimana ia dapat menyediakan cukup makanan buat semua bhiksuni keesokan harinya. Ketika pikiran tersebut muncul dalam pikirannya, seekor naga di vihara tersebut membantunya dengan kekuatan magis dan ketika pagi datang, sayuran di taman menjadi banyak dan cukup bagi kebutuhan dan dengan […]. […] mengambil air adalah tugas yang sangat berat, namun di samping semua itu Miao Shan melakukan keajaiban di samping dapur, di mana air mancur muncul keluar, rasanya menjadi yang paling manis. Hui Zhen mengetahui bahwa putri tersebut bukanlah manusia biasa, karena ia dapat memanggil bantuan dari naga. Jadi sekarang ia memberitahukan hal tersebut pada sang raja.

Dan sang raja, ayahnya, dikuasai amarah dan memberitahu para penghuni istana: “Anak perempuan termuda kita sudah lama mempraktekkan sihir hitam. Ketika aku mengusirnya untuk tinggal di tempat para bhiksuni, ia melakukan sihir lagi, menciptakan delusi dan kekacauan di antara masyarakat. Memberikan penghinaan pada kita […].

Ketika utusan datang, Miao Shan mematuhi perintah kerajaan dan berkata pada komunitas bhiksuni: “Undurkanlah diri kalian semua. Aku akan dieksekusi.” Miao Shan kemudian keluar untuk menemui kematiannya. Pada saat itu, ketika ia (Miao Shan) hampir saja terkena bilah pedang, deva gunung dari Gunung Naga, yang mengetahui bahwa Miao Shan, Bodhisattva yang berkekuatan hebat, berada pada kondisi akan menyelesaikan karir spiritualnya dan menyelamatkan banyak makhluk, namun ayahnya yang jahat melakukan kekeliruan dengan memberikan perintah untuk memenggal Miao Shan, dengan kekuatan deva-nya, (sang deva gunung) membuat langit menjadi gelap dengan angin yang sangat kencang, halilintar dan petir. Ia membawa pergi Miao Shan dan menempatkannya di kaki gunung. Sang utusan, tidak mengetahui di mana Miao Shan, pergi dengan terburu-buru untuk melaporkan hal tersebut pada raja.

Sang raja, kaget dan marah, mengirim 500 prajurit untuk memenggal seluruh komunitas bhiksuni dan membakar semua bangunan mereka. Permaisuri dan para anggota keluarga kerajaan semuanya menangis tersedu-sedu, berkata bahwa anak perempuannya telah meninggal dan tidak ada harapan untuk selamat. Sang raja berkata pada istrinya (permaisuri): “Janganlah bersedih. Anak gadis itu bukanlah keturunanku. Ia pastilah seorang iblis yang terlahir di dalam keluargaku. Kita harus memusnahkan iblis tersebut: karena ini adalah sebab dari kebahagiaan yang sangat besar!”

Miao Shan, yang telah dibawa pergi dengan abhijna ke kaki Gunung Naga, melihat sekelilingnya dan melihat bahwa tidak ada seorangpun di sana. Kemudian dengan langkah pelan ia mendaki gunung tersebut. Tiba-tiba ia merasakan bau yang busuk dan tidak mengenakkan, dan kemudian berpikir: “Hutan pegunungan ini terpencil dan sunyi: mengapa ada bau seperti ini?” Deva gunung muncul dalam wujud seorang laki-laki tua dan menemui Miao Shan dengan berkata: “Gadis baik, kemanakah engkau ingin pergi?” Miao Shan berkata “Aku berkinginan untuk pergi ke atas gunung ini untuk mempraktekkan Dharma.” Laki-laki tua tersebut berkata: “Gunung ini adalah tempat tinggal para hewan dengan cangkang dan rangka, kulit dan bulu. Ini bukanlah tempat untukmu untuk berkultivasi, gadis baik.” Miao Shan bertanya: “Apa nama gunung ini?” Laki-laki tua tersebut berkata: “Ini adalah Gunung Naga. Naga-naga tinggal di gunung ini, maka gunung ini dinamakan berdasarkan mereka.” “Bagaimana dengan pegunungan disebelah barat dari sini?” Ia menjawab: “Itu juga kediaman para naga, dan oleh karena alasan ini pegunungan tersebut disebut sebagai Pegunungan Naga kecil. Hanya di antara dua pegunungan di sana, terdapat bukit kecil bernama Xiang Shan. Tempat itu suci dan bersih, sebuah tempat yang cocok bagimu untuk melakukan kultivasi, gadis baik.” Miao Shan berkata: “Siapakah dirimu, menunjukkan padaku tempat untuk tinggal?” Sang laki-laki tua tersebut berkata: “Pengikutmu bukanlah seorang manusia, namun deva di gunung ini. Engkau, gadis baik, akan menyelesaikan karir spiritualmu dan aku sebagai pengikutmu berikrar akan melindungi dan menjagamu.” Selesai mengucapkan kata-kata ini, ia lenyap.

Miaoshan sekarang pergi ke Xiang Shan, mendaki ke puncaknya dan melihat sekeliling. Tempat itu sungguh tenang, tidak ada jejak manusia satu pun dan ia berkata pada dirinya: “Tempat ini sesuai untuk karir pencerahanku.” Maka ia pergi ke puncak dan membangun sebuah tempat tinggal untuknya berlatih. Ia memakai rerumputan sebagai pakaian, makan dari pohon-pohon dan tidak ada orang yang mengetahui keberadaanya selama tiga tahun penuh.

Sedangkan ayahnya sang raja menderita penyakit kamala oleh karena karma buruknya. Penyakit itu menyebar di seluruh kulit dan tubuhnya dan ia tidak dapat tidur nyenyak. Tabib-tabib terbaik di kerajaan tersebut tidak dapat menyembuhkannya. Permaisuri dan keluarga kerajaan mengkhawatirkannya pagi dan malam.

Suatu hari seorang bhiksu asing berdiri di depan istana bagian dalam dan berkata: “Aku punya obat ajaib yang dapat menyembuhkan penyakit sang raja.” Ketika pengikut raja mendengar kata-kata tersebut, mereka dengan segera melaporkan hal tersebut pada raja dan ketika ia mendengar hal tersebut, mengundang masuk sang bhiksu ke istana bagian dalam. Sang bhiksu berkata padanya: “Aku, seorang bhiksu miskin, mempunyai obat untuk menyembuhkan penyakit baginda.” Sang raja berkata: “Obat apakah yang engkau miliki untuk menyembuhkan penyakitku?” Sang bhiksu berkata: “Aku mempunyai resep yang membutuhkan dua bahan ramuan obat utama.” Sang raja bertanya apakah itu dan bhiksu tersebut menjawab: “Obat ini dapat dibuat dengan menggunakan tangan dan mata dari seseorang yang tidak memiliki amarah.” Sang raja berkata: “Jangan berbicara sembrono. Jika aku mengambil tangan dan bola mata seseorang, bukankah mereka pasti akan marah?” Bhiksu tersebut berkata: “orang seperti itu tidak ada di kerajaanmu.” Sang raja bertanya: “Di manakah tangan dan bola mata tersebut berada?” dan bhiksu tersebut menjawab: “Di barat daya dari wilayah kekuasaanmu ada sebuah pegunungan bernama Xiang Shan. Di puncaknya terdapat petapa yang mempraktekkan kultivasi dengan kebajikan yang luar biasa, meskipun tidak ada orang yang mengetahui hal tersebut. Orang ini tidak mempunyai amarah.” Sang raja berkata: “bagaimana caranya tangan dan bola mata sang petapa didapatkan?” Bhiksu tersebut berkata: “Tidak ada seorangpun yang dapat mencarinya: tangan dan bola mata tersebut ada hanya untukmu sang raja. Di masa lampau, petapa ini memiliki jodoh karma yang sangat dekat denganmu. Dengan mendapatkan kedua tangan dan bola matanya, penyakit baginda akan sembuh segera, tanpa keraguan sama sekali.”

Ketika ia mendengar hal ini, sang raja membakar dupa dan mengucapkan doa ini: “Jika penyakit mengerikan kita ini memang dapat tersembuhkan, semoga petapa ini memberikan padaku kedua tangan dan bola matanya tanpa keraguan ataupun dendam.” Doanya selesai, ia memerintahlan seorang utusan untuk pergi, dengan membawa dupa, ke atas pegunungan.

Ketika sang utusan datang ia melihat, di dalam rumah jerami, terdapat seorang petapa yang tubuhnya agung dan mengesankan, duduk bersila di sana. Ia membakar dupa dan mengucapkan titah raja: “Raja dari kerajaan menderita penyakit kamala selama tiga tahun sampai sekarang. Para tabib hebat, semua obat-obatan di seluruh kerajaan tidak dapat menyembuhkannya. Seorang bhiksu telah memberikan sebuah resep: dengan menggunakan kedua tangan dan bola mata dari seseorang yang tidak memiliki amarah, maka obat dapat dibuat. Dan sekarang, dengan penghormatan yang sangat dalam, kami telah mendengar tentangmu, petapa suci, berpraktek Dharma dengan kebajikan yang luar biasa dan kami percaya bahwa engkau pastilah tidak memiliki amarah. Kami memberanikan diri memohon padamu (untuk memberikan) kedua lengan dan bola matamu untuk menyembuhkan penyakit sang raja.

“Sang utusan membungkuk bernamaskara dua kali dan Miao Shan berpikir: “ayahku sang raja tidak menghormati Triratna (Buddha, Dharma, Sangha), ia menyiksa dan menekan Dharma Buddha, ia membakar bangunan-bangunan vihara, ia membunuh komunitas para bhiksuni. Ia mengundang akibat penyakit ini. Dengan kedua tangan dan bola mataku, aku akan menyelamatkan sang raja dari kesusahannya.” Setelah berpikir seperti ini, ia berkata pada utusan tersebut: “Ini pastilah karena penolakan rajamu untuk yakin pada Triratna yang menyebabkannya menderita penyakit jahat ini. Aku akan memberikan kedua tangan dan bola mataku sebagai obat untuknya. Satu-satunya harapanku adalah bahwa obat tersebut dapat cocok dengan penyakit yang dideritanya dan dapat melenyapkan penyakit sang raja. Sang raja harus mengarahkan pikirannya menuju pencerahan dan berikrar untuk berlindung di bawah Triratna: barulah ia akan mendapatkan kesembuhan.”

Selesai mengucapkan kata-kata ini, ia mengeluarkan kedua bola matanya dengan menggunakan sebilah pisau, kemudian berkata pada utusan tersebut untuk memotong kedua tangannya. Pada saat tersebut, seluruh pegunungan bergetar dan dari angkasa terdengar suara berkata padanya: “Langka, sungguh langka! Ia mampu menyelamatkan semua makhluk hidup, melakukan hal-hal yang tidak mungkin di dunia ini!”

Utusan tersebut menjadi ketakutan, namun sang petapa berkata: “Janganlah takut. Ambillah kedua tangan dan mataku dan beritakanlah kembali pada sang raja. Ingatlah apa yang aku katakan.” Utusan tersebut menerimanya dan memberitahu kejadian tersebut pada sang raja.

Ketika sang raja menerima kedua tangan dan bola mata tersebut ia merasa sangat malu. Ia meminta sang bhiksu untuk meramu obat tersebut, dan kemudian ia meminumnya. Belum sepuluh hari berlangsung, ia telah benar-benar sembuh dari penyakitnya. Sang raja beserta permaisuri, keluarganya, para menteri dan semua pengikut di kerajaannya, semuanya bergembira. Sang raja pergi bertemu bhiksu tersebut untuk memberikan padanya benda benda sebagai ucapan terima kasih, berkata: “Tidak seorangpun tetapi engkau, Guru, dapat menyelamatkan kami dari penyakit yang berat.” Sang bhiksu berkata: “Itu bukanlah kekuatanku. Bagaimana bisa raja menjadi sembuh tanpa kedua tangan dan bola mata sang petapa? Baginda harus pergi ke pegunungan Xiang Shan untuk memberikan rasa terima kasih pada petapa tersebut. “ Selesai dengan kata-katanya, bhiksu tersebut lenyap.

Sang raja menjadi terkejut. Ia kemudian beranjali dan berkata: “Sungguh langka sebuah sebab sehingga kita dapat menggerakkan seorang bhiksu suci untuk datang dan menyelamatkanku!” Dan ia memerintahkan para pengikutnya: “Besok aku akan pergi mengunjungi Xiang Shan dan memberikan persembahan sebagai tanda terima kasih pada sang petapa.”

Keesokannya sang raja dengan permaisurinya, dua anak perempuan dan para anggota kerajaan menyiapkan kereta kuda dan pergi keluar dari tembok kerajaan dan datang ke Xiang Shan. Sang raja membakar dupa dan memberikan ucapan terima kasih dengan berkata: ”Ketika kami menderita penyakit mengerikan tersebut, kami tidak mungkin sembuh tanpa kedua tangan dan bola matamu, petapa. Maka hari ini, aku sendiri datang dengan kerabat terdekatku untuk mengunjungi pegunungan ini dan mengucapkan terima kasih padamu.”

Ketika sang raja beserta istri dan putri kerajaan semuanya datang memandang sang petapa yang tanpa tangan dan mata, pikiran mereka menjadi sedih, karena cacat fisik sang petapa disebabkan oleh sang raja. Sang permaisuri beberapa saat meneliti penampakan petapa tersebut, melihat karakteristik fisik petapa tersebut dan berkata pada raja: “ketika aku melihat wujud dan perawakan dari petapa tersebut, ia tampak seperti anak perempuan kita.” Selesai dengan kata-kata ini sang permaisuri kemudian menjadi sesenggukan dipenuhi dengan air mata dan ratapan.

Sang petapa tiba-tiba berkata. “O ibuku! Janganlah kembalikan pikiramu pada Miao Shan: Aku adalah dirinya. Ketika ayahku sang raja menderita penyakit berat, anakmulah yang memberikan kedua tangan dan bola matanya untuk membalas kasih sayang sang raja.”

Mendengar kata-kata ini, sang raja dan permaisurinya memeluk Miao Shan dengan tangisan yang keras, menggemparkan langit dan bumi dengan kesedihan mereka. Sang raja berkata: “Tindakan jahat kami telah menyebabkan anak perempuanku kehilangan kedua tangan dan bola matanya dan harus mengalami penderitaan ini. Aku akan menjilat kedua mata anakku dengan lidahku dan menyatukan kedua tangannya dan memohon pada para deva di surga untuk membuat kedua mata anakku yang buta untuk tumbuh kembali, lengannya yang terputus sekali lagi menjadi utuh!”

Ketika sang raja menunjukkan keteguhan hatinya ini, namun sebelum mulutnya menyentuh kedua mata anaknya, Miaoshan tiba-tiba tidak dapat ditemukan. Tepat pada saat itu langit dan bumi berguncang, cahaya kemudian memancar keluar, awan-awan pertanda baik muncul, drum-drum surgawi terdengar. Dan kemudian terlihatlah Sahasrabhujasahasranetra Mahamaitri Mahakaruna Avalokitesvara, tenang dan agung wujudnya, memancarkan cahaya yang mempesonakan, menakjubkan dan sangat indah bagaikan bulan di antara bintang-bintang.

Ketika sang raja beserta istrinya dan putri kerajaan memandang wujud Sang Bodhisattva, mereka bangkit dan memukul diri mereka sendiri, menghantam dada mereka dengan ratapan yang sangat keras dan membangkitan suara mereka dalam penyesalan: “Kami para pengikutmu dengan mata duniawi kami gagal untuk mengenali Yang Maha Suci. Karma buruk telah mengganggu pikiran kami. Kami berdoa padamu agar perlindungan keselamatanmu membebaskan kami dari tindakan salah kami pada masa lampau. Mulai dari saat ini, kami akan berlindung pada Triratna, kami akan membangun kembali vihara-vihara Buddhis. Kami berdoa padamu, Bodhisattva, dalam welas asihmu, untuk kembali ke tubuh asal anda dan mengizinkan kami untuk memberikan persembahan.”

Dengan segera sang petapa kembali ke wujud asalnya, dengan kedua tangan dan matanya kembali utuh dan lengkap. Ia duduk bersila, beranjali dan dengan tenang meninggal dunia, seperti ketika bermeditasi.

Sang raja dan permaisuri membakar dupa dan berikrar: “Kami pengikutmu akan memberikan persembahan kayu wangi, akan memasukkan tubuh sucimu ke dalam api kremasi dan ketika kami kembali ke istana, kami akan akan membangun sebuah stupa dan selalu memberikan persembahan di depan stupa tersebut.” Setelah membuat ikrar demikian, sang raja mengelilingi tubuh suci tersebut dengan berbagai jenis dupa suci, menyalakan api dan membakarnya. Kayu wangi tersebut terbakar , namun tubuh suci tersebut masih berdiri dengan teguh dan tidak dapat berpindah. Sang raja membuat ikrar lain: “Pastilah ini karena Sang Bodhisattva tidak akan pergi dari tempat ini, berharap agar semua makhluk hidup dapat melihat dan mendengar dan membuat persembahan.” Setelah mengucapkan kata-kata ini, raja beserta istrinya bersama-sama mengangkat tubuh tersebut dan tiba-tiba menjadi ringan diangkat.

Sang raja kemudian dengan tulus mendirikan sebuah kuil berharga di mana di dalamnya ia letakkan tubuh suci sang Bodhisattva dan di luarnya ia membangun sebuah stupa berharga. Dengan segala ketenangan, ia mengubur anak perempuannya tersebut di puncak gunung, di bawah lokasi pertapaannya. Dan di atas pegunungan, bersama dengan permaisuri dan kerabatnya, ia mengawasi dan menjaganya sepanjang siang dan malam, tanpa tidur.

Setelah cukup lama, ia kembali ke kerajaanya dan membangun kembali vihara-vihara Buddhis, meningkatkan jumlah penahbisan bhiksu dan bhiksuni, menghormat pada Triratna. Ia mengambil harta dari harta pribadinya dan membangun pagoda 13 lantai di Xiang Shan, untuk menutupi tubuh suci Sang Bodhisattva.

Guru, engkau telah bertanya pada pengikutmu tentang jejak suci Sang Bodhisattva dan aku telah memberikan ringkasan dari kisah yang sangat panjang. Tentang inkarnasi rahasia dari sang Bodhisattva, tidak diketahui olehku.

Master Lu kemudian bertanya lagi: “Di manakah lokasi stupa berharga di Gunung Xian Shan sekarang berada?”

Deva tersebut berkata: Stupa* tersebut telah lama ditinggalkan. Sekarang hanya ada pagoda dan tidak seorangpun yang tahu tentang keberadaanya. Jejak yang ditinggalkan di tanah oleh seorang suci berkembang dan merosot tergantung oleh waktu. Setelah 300 tahun akan ada kebangkitan.

Setelah mendengar hal ini,, Sang Master Lu (Vinaya) beranjali dan mengutarakan kata-kata pujian: “Sungguh agung kekuatan spiritual dari Mahasattva Avalokitesvara! Jika tidak oleh karena agungnya ikrar Sang Bodhisattva, maka tanda-tanda seperti ini tidak akan terwujud. Jika makhluk hidup di kerajaan tersebut tidak membawa kematangan kondisi karma mereka, mereka tidak akan dapat merespon hal tersebut. Betapa kuat, kebajikan tanpa batas ini! Tidak dapat dibayangkan!

Ia memberitahu muridnya, Yi Cheng untuk mencatatnya, pada hari kelima belas bulan kedua musim panas pada tahun kedua Sheng Li (April 20, 699 M) dan berharap bahwa kisah ini akan terus bertahan dan diteruskan.

Ditulis pada bulan ketiga dari tahun ketiga Yuan Fu (Mei 1100 M).

*) Ada legenda bahwa konon stupa tersebut adalah salah satu stupa yang didirikan Raja Ashoka di Tiongkok.

BAB IV

BERBAGAI PERWUJUDAN AVALOKITESVARA PEREMPUAN

 

Selain Baiyi Guan Yin dan Pandaravasini, dikenal pula berbagai perwujudan perempuan dari Avalokitesvara yang lainnya.

I. Di India dan Nepal

1. Svetabhagavati Avalokitesvara

Pandasini Bodhisattva Tara

Pandasini Bodhisattva Tara

Tubuh Svetabhagavati berwarna putih dan mirip dengan Pandaravasini Avalokitesvara. Ia terlahir dari kesucian Samadhi Maha Melihat dari Mahavairochana Buddha. Ia memegang teratai setengah mekar di tangan kiri dan lengan kanan-Nya bersandar pada lutut yang diangkat. Ia menyimbolkan kemampuan untuk mengubah semua makhluk hidup Ke Inti Kesucian. Mantra-Nya adalah

“Ommahapadme shvetange huru huru svaha”.

 

2. Parnashavari Avalokitesvara

Baiyi Guan Yin

Baiyi Guan Yin

Nama lainnya adalah Ritro Lomagyunma, “Penghuni Hutan Berjubah Daun”. Parnashavari tinggal di dalam hutan di pegunungan. Hutan tempatnya tinggal dipenuhi oleh pohon-pohon ajaib dan seluruh tanah hutan tersebut ditumbuhi berbagai macam bunga yang beraneka warna. Ia hidup dalam warna, aroma dan tekstur hutan. Ia adalah Dewi penyembuhan dalam Buddhisme India. Kecantikannya merefleksikan keindahan hutan dan kulitnya bercahaya emerald. Tubuhnya dihiasi berbagai macam benda natural seperti sayap, bunga, buah dan beri. Ular berwarna putih berada di lehernya seperti kalung. Hutan tempat-Nya tinggal merupakan tempat di mana banyak harta rahasia obat-obatan. Parnashavari mampu menyembuhkan bahkan penyakit dan epidemik yang sangat mematikan. Pakaian yang dipakainya menyimbolkan alam, yang berhubungan dengan kekuatan penyembuh-Nya. Ia memakai rok dedaunan dan tampak harmoni dengan alam hutan sekitar. Roknya dihiasi oleh bunga dan buah-buahan. Ular putih mengelilingi lehernya bagaikan kalung dan bertahtakan bunga, ular-ular putih kecil menghiasi rambut-Nya. Parnashavari memakai baju dan ornamen yang terbuat dari daun-daun obat-obatan, bertubuh kuning dan tampak segar bugar, mempunyai tiga wajah (dengan wajah perempuan muda) dan enam tangan memegang vajra emas, lasso, kapak vajra kecil (parasu), daun segar, panah dan busur dengan posisi duduk berlutut. Ia mempunyai tiga mata di muka tengah dan muka lainnya berwarna merah dan putih. Parnashavari sebenarnya berasal dari seorang dewi hutan (Sitala) yang diasosiasikan dengan suku Shavari di India kuno dan praktek penyembuhan. Suku Shavari (savara) mempunyai ritual tarian penyembuhan, dan posisi menari ini dipakai sebagai ikonografi Parnashavari. Shavari (Savara) berarti “wanita suku”. Pakaian para wanita suku Savara mirip dengan Parnashavari.

Bodhisattva Avalokitesvara

Bodhisattva Avalokitesvara

Parnashavari duduk dengan posisi lotus di atas batu dengan kedua tangan-Nya dilipat di depan. Ia memberikan umur panjang, kesembuhan dan melindungi perumah tangga. Di Garbhakosha Mandala Ia digambarkan memegang lasso dan tongkat. Ia mempunyai kekuatan yang maha besar untuk melindungi makhluk yang melafalkan nama-Nya, menjauhkan para makhluk dari segala macam bencana. Melafal mantra-Nya sekali saja akan dapat melindungi diri sendiri, dua kali dapat melindungi pasangan atau teman kita, tiga kali dapat melindungi keluarga kita, empat kali dapat melindungi suku kita dan lima kali dapat melindungi negara. Mantra-Nya yaitu

Om Parnashavari Hum Phat”.

Parnashavari dalam Vajrayana adalah emanasi Avalokitesvara dan perwujudan perempuan dari energi penyembuhan Buddha. Mantranya terkenal keefektifannya dalam menyembuhkan berbagai penyakit menular, kronis, epidemik dan keracunan. Dalam Tantra, Parnashavari termasuk dalam kelas Kriya Tantra. Salah satu rupang Parnashavari ini ditemukan di kompleks Vikramashila, Bengal, India. Di India dikenal pula yogini-yogini (yogi perempuan) Buddhis dari suku Savara bernama Sahajasundari, Padmalocana dan Jnanalocana. Dalam Hevajra, Nairatmya dan Pancadaka mandala dikenal pula seorang yogini bernama Shavari.

3. Bhrikuti Avalokitesvara

Pandasini Bodhisattva Tara

Pandasini Bodhisattva Tara

Ia adalah Bodhisattva perempuan bermata tiga dan bertangan empat membawa tasbih, teratai, dan botol Amrita. Tangan terakhir membentuk Mudra Pengabul Harapan. Ia lahir dari kerut dahi

Avalokitesvara dan berwujud murka yang beryujuan untuk menghilangkan keegoan dalam diri makhluk hidup. Mantra-Nya adalah

“Namah samanta buddhanam sarvabhayatrasani hum sphotaya svaha”.

4. Cundi Avalokitesvara

AdamCundi Avalokitesvara pertama kali dibahas di Karandavyuha (Da Cheng Zhuang Yan Bao Wang Jing). Di sana tertulis mantranya:

‘Om cale cule cunde svaha’.

Dalam bentuk ini, dia juga dikenal, seperti halnya Prajnaparamita. Cundi mampu mempurifikasi karma buruk (lihat Siksasamuccaya) dan memberikan dukungan pada praktek Dharma bahkan memberikan keberuntungan. Peninggalan ikonografi Cundi ini dtemukan baik di India barat, utara, timur dan tenggara misalnya di Orissa, Bodhgaya dan Chittagong ditemukan Cundi berlengan enam dan di Nalanda serta Avhutrajpur ditemukan Cundi berlengan dua belas. Pada masa Dinasti Pala, pemujaan-Nya menyebar ke negara-negara lain di Asia. Cundi Bodhisattva sendiri juga merupakan deity pelindung Raja Gopala I, penguasa Dinasti Pala di India yang pertama

(750-775 M).

Menurut Taranatha, Raja Gopala I mendapat abhiseka dari seorang acharya dan memprtaktekkan praktik Cundi dan kemudian Cundi muncul dalam mimpinya memberikan berkah. Raja Gopala selalu menyimpan dan membawa tongkat kayu yang merupakan ayudha dari Cundi Bodhisattva. Pada saat itu di Bengal, tidak ada raja yang memerintah dan kehidupan rakyat menjadi tidak bahagia. Bengal dikuasai oleh ratu Nagini (naga perempuan) yang jahat, yang akan membunuh siapapun yang berani naik takhta menjadi raja. Banyak raja yang baru naik takhta langsung meninggal secara misterius. Melihat itu Gopala sukarela menjadi raja dan ketika ratu Nagini dalam wujud rakshasi

hendak membunuhnya, Raja Gopala dengan tongkat ajaibnya, ayudha, menaklukkan dan

menundukkan sang ratu jahat.

Aspek keibuan dari Tara ini menarik umat di Asia Timur. Bentuknya yang paling dikenal adalah dengan satu wajah, tiga mata, dan delapan belas lengan. Di Jepang,dia jarang sekali dipatungkan, tetapi lebih dikenal dengan lukisan mistisnya. Dalam Garbhakosa Mandala, dia digambarkan dalam wilayah kedua (sarvajna pariþad, ‘Dewan yang Maha Mengetahui’) dengan delapan atau delapan belas lengan, dan merupakan ‘Ibu Wilayah Teratai’ (yaitu, Dewan keempat yang terdiri atas 21 bentuk Avalokitesvara). Dua tangan utamanya di depan dada membentuk mudra teratai (padma atau uttarabodhi mudra): jari manis dan jari kelingking terangkap bersama dengan jari tengah tegak lurus dan saling menyentuh. Dua tangan atas memegang pedang dan pataka, sementara dua tangan teratas memegang bulatan matahari dan bulan (melambangkan keabadian). Sedangkan dalam Sadhanamala Cundi digambarkan dengan empat lengan.

Cundi Bodhisattva tercantum dalam kitab Maha-cundi dharani Sutra. Cundi berkaitan dengan kebijaksanaan, umur panjang, pemberian keturunan, hujan dan kerukunan suami istri. Cundi memakai jubah putih, mahkota dengan patung Buddha serta banyak ornamen-ornamen dan permata. Tubuh Cundi berwarna kuning dan mempunyai tiga mata serta delapan belas tangan. Delapan belas tangan tersebut menyimbolkan delapan belas kualitas seorang Buddha. Dua tangan pokok membentuk mudra “Akar/Dasar” dan tangan-tangan lainnya memegang panji pengabul harapan, teratai, vas inisiasi, lasso, roda beruas delapan, kerang atau sutra kebijaksanaan, vas pengabul harapan, peti kebijaksanaan, hiasan kepala, vajra, kail, kapak, buah surgawi, tasbih (aksamala), pedang kebijaksanaan dan mudra “Tanpa Rasa Takut”. Cundi juga kadang digambarkan memegang patra (mangkuk dana). Cundi mempunyai pengikut dua raja Naga yang bernama Nanda dan Upananda. Cundi merupakan perwujudan Avalokitesvara ketika Ia menyelamatkan para makhluk di alam para dewa (svarga).

Cundi terkadang dipanggil sebagai “Kulchayma” yang berarti “Motivator” karena ia memotivasi para prthagjana (manusia awam) untuk mempraktekkan Dharma, memotivasi para Pratyekabuddha agar menempuh jalur Bodhisattva, serta memotivasi para Buddha dan Bodhisattva dalam usaha penyelamatan universal mereka.

5. Tara Bodhisattva

Tara dalam tradisi Vajrayana pemegang aktivitas para Buddha serta Ibu dari para Buddha. Tara berkembang dari dewi Hindu yang bernama Tara dan kemudian diadopsi oleh ajaran Buddha dan menjadi Bodhisattva dengan riwayat yang berbeda dengan dewi Tara dalam ajaran Hindu. Tara muncul dalam ajaran Buddha sejak abad ke-5 M. Tara dalah pasangan wanita dari Amogasiddhi Buddha dan memegang elemen udara. Ia berasal dari keluarga Karma. Ia mengubah kecemburuan dan iri hati menjadi kebijaksanaan yang tertinggi. Dalam Adhvayavajrasamgraha, Ia disebutkan berasal dari simbol Sansekerta ‘Tam’ yang berwarna hijau keemasan. Wujudnya bermacam, ada yang dua tangan, enam ataupun delapan. Ia mampu memberikan berbagai berkah abhijna. Banyak keajaiban yang berkenaan dengan rupang Tara. Konon di Kashmir terdapat rupang Tara yang mempu menyembuhkan lepra dan di Pharping, Nepal, terdapat gambar Tara yang muncul dengan sendirinya. Banyak sekali rupang Tara yang dengan ajaibnya seolah-olah “hidup” memberikan bantuan pada para umat.

HawaSebagai Ibu dari para Buddha (sarva-buddha-mata), tara juga memanifestasikan sifat welas asih seorang ibu. Ia mengasihi semua makhluk seperti seorang ibu mengasihi anaknya. Tara juga dikenal sebagai pembebas dari Delapan ketakutan (Astamahabhaya Tara). Delapan ketakutan tersebut adalah singa (kesombongan), gajah (delusi), api(amarah), ular(iri hati), tenggelam dalam banjir(kemelekatan), iblis (keraguan), terikat (keserakahan) dan perampok (pandangan salah). Taramulakalpa yang berasal dari abad 7 M mengaitkan Tara sebagai aspek dari Avalokitesvara.

Tara Hijau berada pada Tanah Suci Buddha yang bernama Yulokod (Yuloku), di mana di tanah suci tersebut banyak sekali Bodhisattva wanita. Tanah Suci Tara ini digambarkan sebagia hutan hijau dengan pohon-pohon yang berbunga dan berbuah, binatang bernyanyi dan bermain. Indah sekali Tanah Suci Tara ini.

“Tara” adalah nama yang populer bagi wanita di Tibet. Guru Candragomin di India pernah berkata: “Jika kepada seorang perempuan bernama Tara, seseorang membangkitkan respek dan memberikan penghormatan, kebajikannya ini akan membawanya pada Ke-Buddhaan.” Mungkin karena sebab inilah nama “Miao” sering digunakan oleh umat Buddhis Tiongkok untuk memberi nama Buddhis pada umat Buddhis wanita di sana, mengingat kebajikan Miao Shan sebagai Avalokitesvara. Di negara-negara Barat kita juga menemukan bahwa nama Maria juga demikian.

Arti nama “Tara” adalah “Gadis Bintang”. Ia adalah penuntun semua makhluk agar dapat mencapai Pantai Seberang (Nirvana). Para guru Buddhis seperti Sarvajnamitra, Dalai Lama ke-1 dan Lozang Tenpai Jetsun mengajarkan pentingnya untuk mendevosikan, menyerahkan dan menyandarkan diri kita pada Tara Bodhisattva, yang sanggup menolong kita dari berbagai bahaya dan menuntun kita agar mencapai Pencerahan.

Tara dikelompokkan menjadi 21 Tara namun secara lebih umum digambarkan ada 2 macam Tara yaitu Tara Hijau (Syamatara/Drolma) dan Tara Putih (Sitatara/Drolkar). Syamatara memiliki warna tubuh hijau dengan tangan kanannya membentuk mudra kemurahan hati dan tangan kirinya memegang bunga lotus biru yang mekar dari telinga kirinya. Ia memakai mahkota lima Buddha dan memakai semua ornamen bodhisattva, duduk di atas teratai Lalita. Diceritakan Avalokitesvara Bodhisattva menitikkan air mata ketika melihat penderitaan di dunia disebabkan oleh kasih-Nya yang sangat besar dan air matanya berubah menjadi bunga teratai dan kemudian dari teratai tersebut muncul Tara Hijau dan Tara Putih. Perawakannya adalah seorang gadis muda yang berumur 16 tahun dan sangat cantik. Ia diberi gelar sebagai penolong yang tercepat karena kesigapannya dalam menolong orang orang yang menderita. Tara juga dikenal atas ikrarnya yang agung yaitu mencapai tingkatan KeBuddhaan dalam wujud seorang wanita. Tara kemudian lahir di Tanah Suci Buddha Amogasiddhi di mana ia berikrar untuk selalu melindungi makhluk hidup di sepuluh penjuru dunia yang tak terbatas. Tara sering juga digambarkan sebagai pasangan wanita dengan Avalokitesvara. Rakyat Tibet menganggap mereka sebagai bapak ibu pelindung mereka yang selalu menaungi dengan penuh cinta kasih. Praktek Tara Hijau dapat melenyapkan rintangan karma serta berbagai malapetaka. Banyak dari para Yogi dan Guru Buddhis yang mengalami kemujizatan Tara Hijau.

Bodhisattva Avalokitesvara

Bodhisattva Avalokitesvara

Menurut Taranatha, Tara Bodhisattva pernah terlahir sebagai Putri Jnanacandra pada masa Buddha Dundubhishvara. Ia berikrar untuk mencapai ke-Buddhaan (Samyaksambodhi) dalam tubuh seorang wanita. Putri Jnanacandra mencapai meditasi “Menyelamatkan Semua Makhluk Hidup”, setiap pagi sebelum makan pagi, Ia membebaskan jutaan makhluk hidup dari samsara. Di kalpa berikutnya, Tara berikrar untuk melindungi semua makhluk di alam semesta dari bahaya maupun Iblis Mara. Setelah 95 kalpa terlewatkan, seorang bhiksu yang telah mencapai tingkat-tingkat kesucian menerima abhiseka dari Buddha di sepuluh penjuru dan menjadi Bodhisattva Avalokitesvara. Cahaya dari semua Buddha menyatu menjadi cahaya welas asih dan cahaya kebijaksanaan, yang kemudian bersatu dan membentuk Tara. Ia muncul dari hati Avalokitesvara dan kemudian melindungi dan menyelamatkan para makhluk. Tara kemudian terus melatih diri dan mendapatkan abhiseka dari para Buddha dari 10 penjuru, yaitu mencapai ke-Buddhaan dan kemudian Tara menjadi Ibu dari para Buddha. Akhirnya, pada masa Bhadrakalpa ini, Avalokitesvara terlahir di bumi ini di Gunung Potalaka, Ketika Buddha Shakyamuni duduk di bawah pohon Bodhi dan pasukan Mara menyerang Sang Buddha, Tara kemudian memanifestasikan diri-Nya dan menaklukkan pasukan Mara dengan tawanya.

Tara Putih sering diasosiasikan dengan kebijaksanaan. Tara Putih digambarkan seputih bulan di musim gugur dalam posisi teratai penuh dan mempunyai tujuh mata, dua mata ditambah dengan mata ketiga di dahi dan empat mata masing-masing di telapak tangan dan kaki yang menunjukkan bahwa Ia melihat dan mengetahui semua penderitaan di alam semesta. Rambutnya berwarna hitam kebiruan. Di kepala-Nya terdapat gambar Amitabha Buddha dan tangan kanannya membentuk varada-mudra. Tangan kirinya berada di posisi hati memegang setangkai bunga teratai yang mekar. Tara Putih disebut-sebut memanifestasikan dirinya menjadi putri dari Tiongkok yang bernama Wen Cheng yang menikah dengan Raja Tibet Songtsen Gampo, sedangkan Tara Hijau menjelma menjadi Bhrkutidevi, istri Songtsen Gampo yang berasal dari Nepal. Cintamanichakra Tara adalah wujud Pelindung dari Tara Putih. Tara Putih dikenal sebagai Bodhisattva yang mampu memberikan berkah penyembuhan pada mereka yang sakit. Dalam suatu ritual pelukisan Tara Putih, maka sang artis (pelukis) hanya boleh memakan makanan yang berwarna putih saja. Di masyarakat Newar, nepal, terdapat puja Tara yang berkenaan dengan penyembuhan bernama Satva Vidhana Tara Puja.

Adapun perwujudan Tara yang lain, yaitu sebagai Bhrikuti Tara yang tercantum dalam teks Hevajra Tantra dan Arya Manjushrimulakalpa bersama dengan Arya Tara dan bodhisattva wanita lainnya. Pada saat berwujud biru, Ia mempunyai tiga kepala dan enam tangan. Pada saat berwujud kuning, Ia mempunyai satu wajah dengan tiga mata dengan alis yang tebal dan empat tangan. Keempat tangannya memegang tasbih, trisula, kalasa dan membentuk varada-mudra. Taranatha dari India menceritakan kunjungan seorang upasaka bernama Santivarman dari Pundravardhana ke bukit Potala, bodhimandala dari Avalokitesvara. Dikatakan bahwa Santivarman berdoa kepada Bhrikuti Tara agar ia dapat menyebrangi lautan dan seketika muncul seorang gadis dengan sebuah rakit yang kemudian membawanya menyebrangi lautan. Saat mendaki bukit Potala, Santivarman melihat gambar Bhrikuti Tara. Bhrikuti Tara mewujudkan diri-Nya sebagai putri dari Nepal yang menikah dengan raja Tibet, Songtsen Gampo.

Dikenal pula Tara Merah yang dikenal sebagai Kurukulla atau Pithesvari, kemudian Ugra Tara yaitu Ekajati, Svapna Tara yang muncul dalam mimpi, Tara berwarna emas yaitu Rajasri Tara dan Vajra Tara yang bertubuh kuning. Vasudhara, Bodhisattva penganugrah kekayaan dikenal pula sebagai Tara Kuning. Rupang-rupang Tara di India dapat ditemukan di Bihar. Di Nepal juga ada banyak ikonografi Tara.

6. Bhikshuni Srimati / Lakshmi (Gelongma Palmo)

Kaitan antara Avalokitesvara dengan Jubah Putih tampaknya tidak hanya ada di Tiongkok, tetapi juga ada di India. Dahulu di India, Tara beremanasi menjadi seorang bhiksuni bernama Lakshmi. Bhikshuni tersebut dikenal sebagai pendiri tradisi Nyungnay (Nyungne) yang berasal dari Kashmir. Nyungnay adalah sebuah tradisi asthasila yang berkaitan dengan Avalokitesvara 1000 lengan 1000 mata.

Sebelum menjadi Bhikshuni, Lakshmi adalah seorang putri dari raja di India dan merupakan saudara perempuan dari sang bakal raja Indrabodhi. Ia menguasai lima cabang seni dan ilmu pengetahuan dan selalu menjalankan sila dengan baik. Menolak untuk menikah, ia menjadi Bhiksuni. Meskipun begitu, ia terjangkit penyakit lepra oleh karena karma masa lampaunya. Tangan kanannya kemudian putus di bagian pergelangan lengan, wajahnya menjadi menyeramkan, seperti terkena penyakit yang sangat parah dan kulitnya seperti “bunga yang mekar oleh es”. Ketika ia makan dan minum, ia tidak tahu harus bagaimana memberi makan dirinya dengan tangan kirinya, dan menjadi seperti setan kelaparan (preta). Tidak hanya terkena penyakit, ia juga diusir ke sebuah gubuk jerami, di mana ia duduk dan menangis, penderitaannya sungguh dalam.

Bhikshuni Srimati  Lakshmi (Gelongma Palmo)

Bhikshuni Srimati Lakshmi (Gelongma Palmo)

Suatu malam, saudara laki-lakinya, Indrabodhi, dengan jubah putih, datang dalam mimpinya membawa vas kristal, berkata: “Ini adalah air yang telah dipersembahkan pada Mahakarunika (Avalokitesvara). Ia memercikkan air dari vas tersebut, kemudian tubuh, ucapan dan pikiran Lakshmi menjadi tentram dan tenang. Raja Indrabodhi menghiburnya, dan berjanji padanya bahwa “dengan kebajikan penyakit berat yang dideritamu, engkau akan membangkitkan kekuatan untuk mencapai anugrah spiritual tertinggi dengan sangat cepat. Milikilah keyakinan yang besar dan devosi kepada Ekadasamukha Avalokitesvara, yang merupakan inti dari para Buddha di tiga masa.” Keesokan paginya penyakitnya tidak menyebabkan ia menderita lagi. Menganggap mimpinya sebagai tanda-tanda baik Avalokitesvara, ia kemudian memulai berdoa pada-Nya, melafalkan mantra enam suku “Om Mani Padme Hum” di siang hari dan Dharani Ekadasamukha pada malam hari. Ia mempraktekkan hal ini selama 6 bulan.

Pada suatu hari saat fajar, ia hendak tidur dan berpikir dengan bahagia, “Sekarang pencapaian spiritual akan mudah untukku. Aku tidak membutuhkan dewa-dewa dengan pengertian yang sedikit. Jika aku meningggal dengan penyakit menakutkan ini, aku akan tetap teguh.” Selagi ia berbaring memikirkan ini, sebuah penglihatan muncul di gubuknya, memenuhinya dengan cahaya putih. Seorang anak muda mengendarai singa muncul di tengah-tengah cahaya dan berkata pada Bhiksuni Laksmi: “Engkau tidak seharusnyalah tinggal di sini, pergilah ke Likharavarhi, di mana inti dari semua Buddha di tiga masa, Sahasrabhujasahasranetra Avalokitesvara berada. Maka pencapaianmu akan menjadi mudah.” Setelah penyampai pesan muda tersebut selesai mengatakan kata-katanya, ia memberikan pil obat di atas lidah Bhiksuni Laksmi. Bhiksuni Laksmi bertanya siapakah anak muda tersebut dan anak muda tersebut menjawab bahwa ia adalah Manjusri, Bodhisattva kebijaksanaan. Tidak tahu bahwa ia berada di hadapan seorang Bodhisattva yang agung, ia memohon pada-Nya untuk memberikan lagi anugrah spiritual. “Ini anugrahnya untuk sekarang ini.” Selesai berkata seperti itu, Manjusri tidak memberikan anugrah spiritual lagi untuknya dan kemudian menghilang bagaikan pelangi. Melalui kunjungan Manjusri ini, bhiksuni Laksmi merasakan suatu perasaan welas asih yang mendalam dan keyakinan terpusat serta devosi pada Mahakarunika Avalokitesvara tumbuh di dalam dirinya.

Dengan keyakinannya, ia pergi menuju Likharavarhi. Setelah tujuh hari ia beristirahat di bawah pohon di tepi sebuah sungai. Saat ia mencoba untuk tidur, berbagai makhluk alam lain muncul di dekatnya. Sekelompok iblis yang menjijikkan membuat keributan mengerikan dan membuatnya takut. Bhiksuni Laksmi kemudian menumbuhkan keyakinan pada Avalokitesvara dan ketakutannya menjadi lenyap. Kemudian tujuh Dakini merah memakai turban bunga muncul di hadapannya dan berkata: “Ketika engkau mencapai Samyaksambodhi, kami akan menghormat di haadapanmu. Lestarikanlah kata-kata (sabda) Sang Buddha!”

Bhiksuni Laksmi bertanya pada para Dakini: “Termasuk dalam keluarga Deity apakah kalian?”

“Kami adalah Dakini dari keluarga teratai. Kami datang dari Uddiyana (Orgyan). Besok engkau harus datang ke Uddiyana dan menjadi ratu para Dakini.” “Tapi aku diminta untuk dengan segera pergi ke Likharavarhi, jawab Bhiksuni Laksmi. Para Dakini kemudian memberkatinya dengan sebuah hadiah dan mengantarnya pergi: “Bawalah pakaian putih bersih ini dan pergilah dengan berada di bawahnya.” Malam itu, ketika ia sampai ke Likharavarhi, Dakini yang lain juga memberikan persembahan nasi padanya dengan berpakaian jubah putih.

Ketika di Likharavarhi, ia menetap di dekat rupang Avalokitesvara, berikrar untuk tidak pergi ke mana-mana sampai ia dapat mencapai Samyaksambodhi. Dalam satu tahun ia mendevosikan tubuh dan pikirannya untuk berdoa pada Avalokitesvara. Setelah satu tahun, doanya yang penuh keyakinan membuahkan hasil. Manifestasi penyakit fisik pada dirinya semuanya berjatuhan “seperti kulit kayu mengelupas.” Bahkan tangan kananya juga kembali utuh dan tubuhnya menjadi lebih cantik dari sebelum-sebelumnya. Ketenangan yang dalam muncul dalam pikirannya dan ketika rintangan eksternal seperti para iblis muncul ia bermediasi pada cinta dan welas asih. Pikirannya teguh dalam pencerahan. Ia telah menjadi Bodhisattva. Para dewata pelindung Buddha Dharma dari sepuluh penjuru datang untuk menguji tekadnya, namun Bhiksuni Laksmi tetap teguh. Mantap dalam welas asih, Bhiksuni Laksmi membawa mereka ke hadapannya dan menaklukkan mereka. Para dewata tersebut setuju untuk menjadi Pelindung Dharma bagi mereka yang mempraktekkan Welas Asih Agung, dan khususnya delapan naga agung setuju untuk menjadi Pelindung Dharma spesial bagi Ekadasamukha Avalokitesvara.

Pada permulaan bulan Sagasari ia menyatukan semua rintangannya ke dalam pikiran pencerahan. Semua penyakit dan ketidaksuciannya semuanya telah termurnikan, dan ia mencapai tingkatan bhumi Bodhisattva pertama. Pada hari pertama bulan Sagadawa ia melihat Tara, yang meramalkan bahwa “tindakan pencerahan para Buddha dari tiga masa akan datang berkumpul dalam diri Bhiksuni Laksmi sendiri.” Dalam kata lain, Bhiksuni Laksmi akan mencapai Pencerahan. Pada hari kelima bulas bulan Sagasari, ia lagi-lagi melihat penampakan Ekadasamukha Avalokitesvara, dengan seribu lengan seribu mata (Sahasrabhujasahasranetra). Di setiap helai rambut ia melihat Buddha yang tidak terbatas jumlahnya duduk, di tiap tangan adalah inti para Buddha dan di tengah tiap telapak terdapat sekumpulan besar Deity Tantrik. Avalokitesvara mengajarinya Dharma dan ketenangan dalam yang tidak dapat dijabarkan muncul di dalam pikirannya. Ia kemudian mencapai Bhumi Bodhisattva kedelapan. Lalu demi manfaat semua makhluk ia menjalankan asthasila selama tiga bulan.

Setelah ini ia pergi ke “negara tengah” di mana semua orang berkata: “Penyakit Bhiksuni telah sembuh! Bagaimana akibatnya pada mereka yang malas dalam belajar dan tekad?” Dengan tujuan melenyapkan keraguan pada orang-orang yang masih ragu, di tengah-tengah festival yang diadakan di pasar Khasarpani, ia memotong kepalanya sendiri, menggantungnya di tongkat jalannya dan mulai menari. Semua yang berani melihat pertunjukan ini menerima berkah dari sang Bhiksuni dan mencapai satu tingkatan spiritual. Meskipun wujud luarnya dalah Bhiksuni Laksmi, namun sebenarnya ia adalah Vajrayogini.

*) Dari kisah ini diketahui bahwa sejak di India, Avalokitesvara memang sudah dikaitkan dengan jubah putih dan vas, sehingga tidaklah heran jika di Tiongkok, Avalokitesvara digambarkan sebagai perempuan berjubah putih memegang vas. Lalu juga kemunculan Dakini berjubah putih dari keluarga Teratai (tentang keluarga Teratai lihat bab 2).

II. Di Tiongkok dan Jepang

 

1. (Ma Lang Fu Guan Yin – 马郎妇观音) Avalokitesvara Istri Ma-Lang dan (Yu Lan Guan Yin – 鱼篮观音) Avalokitesvara Keranjang Ikan

Clip_1Guan Yin istri Ma-Lang adalah seorang gadis cantik yang hidup pada masa Dinasti Tang tahun 817 M, hidup di distrik Shanyou yang masyarakatnya tak pernah mendengar dan mengenal Dharma. Banyak pria ingin melamarnya. Lalu si gadis cantik memutuskan bahwa siapapun yang dapat menghafal bab Avalokitesvara dari Sutra Saddharmapundarika akan ia nikahi. Namun banyak orang dapat menghafalnya, yaitu masih sejumlah 20 orang. Kemudian ia memutuskan lagi dan memberitahu bagi siapapun yang dapat memahami Vajracchendika Sutra akan ia nikahi. Tetapi masih ada 10 orang yang dapat melakukan hal tersebut, sehingga akhirnya si gadis memutuskan bahwa siapapun yang dapat menghafal seluruh Sutra Saddharmapundarika dalam tiga hari dapat menikah dengannya. Satu-satunya yang dapat melakukan hal tersebut adalah pria bernama Ma-Lang. Mereka kemudian menikah, namun pada saat pernikahan akan dilangsungkan, si gadis jatuh sakit dan meninggal. Segera setelah pengkremasiannya, seorang bhiksu tua yang memakai jubah ungu datang mengunjungi Ma-Lang dan meminta agar kuburan istrinya digali. Setelah digali dan petinya dibuka, ditemukan tulang-tulang emas yang berbentuk untaian. Untaian tulang-tulang emas mirip dengan relik [sharira], yang merupakan tanda bahwa orang yang meninggal tersebut adalah seorang Bodhisattva. Bhiksu tua tersebut mengatakan bahwa si gadis adalah penjelmaan Avalokitesvara. Bhiksu tua tersebut kemudian mencuci tulang-tulang tersebut dan membawanya di tongkatnya, lalu pergi melayang ke angkasa. Setelah itu masyarakat Shan You-pun menjadi penganut Buddhis yang taat.

Ketika Master C’han Feng Xue Yan Zhao (887-973 M) ditanya oleh seorang bhiksu, “Apa itu Dharmakaya yang suci?”, ia menjawab, “Istri Ma-lang dari Pantai Pasir Emas.” Selama Dinasti Song dan Yuan, banyak bhiksu C’han yang menggunakan kata-kata ini.

Clip 1Guan Yin Istri Ma-Lang juga berkaitan dengan Yu Lan Guan Yin [Guanyin Keranjang Ikan]. Ia disebut sebagai Yu Lan Guan Yin karena ia datang ke Pantai Pasir Emas sebagai pedagang ikan dan membawa satu keranjang ikan di lengannya. Ada lagi gadis dari Yan Zhou yang hidup di Shaan Xi pada era Da Li (766-779 M), beberapa dekade lebih awal daripada istri Ma-lang. Ketika kuburannya dibuka, sama dengan istri Ma-Lang, ditemukan tulang-tulang emas yang saling menguntai. Oleh karena itu gadis dari Yan Yhou tersebut juga diyakini sebagai penjelmaan Avalokitesvara Bodhisattva.

Sumber-sumber teks dari perwujudan-perwujudan Guan Yin ini adalah Yu Lan Bao Juan, Ti Lan Juan, Mai Yu Bao Juan, Xi Gua Bao Juan, dan Guan Yin Miao Shan Bao Juan. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Yu Lan Guan Yin adalah seorang janda dan memakai jubah putih serta ada yang mengatakan bahwa Yu Lan Guan Yin adalah seorang gadis yang bernama Ling Chou, putri dari seorang umat Buddha bernama Chan.

2. Song Zi Guan Yin – 送子观音 [Koyasu Kannon] dan Zi Mu Guan Yin- 慈母観音 [Jibo

Kannon]

MaraDalam Saddharmapundarika Sutra bab Avalokitesvara Samantamukha Varga dikatakan apabila seseorang dengan tulus memohon anak laki-laki atau perempuan pada Avalokitesvara, maka harapannya akan terkabulkan. Song Zi Guan Yin mungkin berasal dari Dewi Hariti atau Cundi Avalokitesvara dari Buddhisme India. Ketika di Tiongkok juga kemungkinan dipengaruhi oleh Dewi Yao Ji dan di Jepang dipengaruhi lagi oleh Dewi Konohana Sakkuya Hime. Namun kemungkinan besar Song Zi Guan Yin ini berasal dari Avalokitesvara yang berada dalam Garbhakosa (Mandala Rahim). “Rahim” ini dikaitkan dengan pemberian anak. Song Zi Guan Yin biasanya digambarkan menggendong seorang anak, menyimbolkan diri-Nya sebagai “Pemberi Anak”. Di Guangzhou, ulang tahun-Nya jatuh pada tanggal 24 bulan 2 Lunar dan diadakan perayaan Sheng Cai Hui (Perayaan Sayur Mentah) di mana para umat memberi sayur mentah (Sheng Cai) dengan harapan melahirkan anak (Sheng Zai). Jibo Kannon adalah wujud Avalokitesvara sebagai ibu yang welas asih, melengkapi wujud-Nya sebagai Koyasu Kannon. Pada zaman dinasti Jin, seorang bernama Sun Dao De pada umur 50 tahun belum mempunyai anak. Seorang bhiksu yang tinggal dalam vihara dekat rumahnya menganjurkannya membaca Guan Yin Jing dan tak lama kemudian istrinya hamil dan kemudian melahirkan anak laki-laki.

Song Zi Guan Yin ini juga berkaitan erat dengan Baiyi Guan Yin. Berkah pemberian anak, ada pada teks Baiyi Da Shi (atau Guan Yin) Wu Yin Xin Tuo Luo Ni Jing (Pancamudra Dharani Pandaravasini Avalokitesvara Sutra). 35 kopi sutra ini terdapat dalam koleksi buku langka Perpustakaan Chinse Buddhist Cultural Artifacts, terletak di Vihara Fayuan di Beijing. Sutra tersebut dicetak sejak zaman Dinasti Ming, dengan yang paling awal tahun 1428 M dan mayoritas pada masa periode Wan Li, sekitar 1600.

Pelafalan Dharani tersebut diyakini dapat memberikan dengan berbagai macam cara secara mukjizat anak yang ditunggu-tunggu. Catatan yang menunjukkan mukjizat teks Dharani tersebut paling awal muncul pada masa Dinasti Tang, yang dapat membantu penelitian asal muasal dari teks ini:

Buddha Dewi Kwan Im Pu Sa

Buddha Dewi Kwan Im Pu Sa

Pada masa Dinasti Tang hiduplah seorang pelajar yang tinggal di Hengyang. Umurnya sudah tergolong cukup matang, namun masih belum dapat mempunyai anak. Dalam usahanya mendapatkan anak, ia memohon dan berdoa di berbagai kuil. Suatu hari ia bertemu seorang bhiksu yang memberinya Baiyi Guan Yin Jing (Sutra Guan Yin Berjubah Putih). Bhiksu tersebut memberitahunya bahwa sutra tersebut diajarjan oleh Sang Buddha dan apabila dilafalkan maka segala keinginan hatinya akan terkabulkan. Apabila ia menginginkan anak laki-laki, maka lahirlah untuknya anak laki-laki yang bijaksana dan kelahirannya akan terjadi secara ajaib dengan dibungkus oleh plasenta putih (Baiyi Chong Bao). Setelah itu ia dan istrinya melafalkan Sutra tersebut sepenuh hati dan tulus. Dalam beberapa tahun, mereka dianugerahi tiga orang anak laki-laki, semuanya dilahirkan dengan cara yang dideskripsikan bhiksu tersebut (Baiyi Chong Bao). Ketika gubernur Heng Yang mendengar hal tersebut, ia menyumbang dan mendistribusikan sutra tersebut untuk memohon anak. Dalam waktu kurang dari satu tahun, seorang anak laki-laki terlahir dalam keluarga gubernur tersebut.

Song Zi Guan Yin banyak dijadikan model porcelain pada abad 17-18 M yang diproduksi di Fujian. Kemiripan antara Song Zi Guan Yin dengan perawan Maria dan bayi Yesus sangat banyak disebut-sebut. Fujian seperti Guang Dong adalah provinsi yang dekat dengan pantai / perairan, yang banyak dikunjungi misionaris Kristen, yang paling awal abad 13 M dan secara besar-besaran pada abad 16 M. Di antara abad 16-18 M, pedagang Spanyol membawa patung-patung dari Spanyol dan Eropa ke Utara ke daratan tiongkok dan Filipina. Mereka juga mempekerjakan para pemahat Tiongkok untuk mengukir arca Perawan Maria dan Anaknya. Para artis pemahat berasal dari Fujian terutama dari Zhang Zhou, Fu Zhou dan Quan Zhou, kota-kota yang juga memproduksi arca dan gambar dari Song Zi Guan Yin. Oleh karena kelompok artis yang membuat kedua arca adalah sama, maka tak heran apabila Perawan Maria dan Anaknya tampak ke-Tionghoaan dan Guan Yin terlihat hampir “Gothic”. Sebelum Dinasti Ming, sangat jarang Guan Yin ditampilkan menggendong anak laki-laki. Dasar religi dari Song Zi Guan Yin adalah dari Sutra Buddhis, namun para artis yang membuat wujud Beliau tampaknya dipengaruhi oleh wujud Perawan Maria dengan Anaknya.

3. Hatakiri Kannon (幡切観音)

Hatakiri KannonDi Jepang, seorang bhiksuni bernama Chuu Jou Hi Me dianggap sebagai manifestasi Guan Yin (Kannon). Demikian juga di Jepang ada sebuah cerita mengenai gadis muda yang bekerja menenun pakaian di Gunung Tokudozan. Suatu saat ada bhiksu bernama Kukai, pendiri aliran Buddhisme Shingon yang lewat dan meminta sepotong pakaian. Tanpa pikir panjang, si gadis memotong setengah dari pakaian yang ia buat dan memberikannya pada bhiksu miskin tersebut. Ayah dari gadis tersebut diasingkan dan ibunya pergi ke gunung untuk melahirkannya, namun meninggal tanpa berhasil memenuhi harapannya untuk berdoa secara khusyuk kepada Kannon. Oleh karena itu, pendeta tersebut mengukir patung Kannon dengan sepotong pakaian di lengan-Nya dan memberikannya pada gadis itu untuk berdoa setiap hari. Tak disangka, si gadis merubah dirinya dan tujuh lapis sinar keluar dari tubuhnya menjadi Bodhisattva Avalokitesvara.

Perwujudan Non Buddhis (Maria Kannon dan Yokihi Kannon [Yang Guifei])

Bunda MariaMaria Kannon terdiri dari 2 kata, Bunda Maria dari ajaran Kristiani dan Guan Yin (Avalokitesvara – Kannon) dari ajaran Buddha. Ketika ajaran Nasrani dilarang dan ditekan pada era Tokugawa pada abad ke-7, umat Nasrani di Jepang yang eksis secara diam-diam (rahasia) memuja Bunda Maria yang disamarkan dalam wujud Kannon. Rupang-rupang tersebut dinamakan Maria Kannon. Terdapat salib di bagian tubuh yang tersembunyi. Sehingga mereka menyamarkan ajaran Kristiani dengan wajah Buddhis. Mereka tidak memuja Kannon, hanya untuk alasan keamanan, maka rupang Bunda Maria dibuat seperti layaknya Kannon. Rupang Maria dan Kannon memang memiliki banyak kesamaan, yaitu selain wujudnya juga menekankan aspek kesucian dan kewelas asihan, sehingga para umat Kristiani memilih Kannon sebagai penyamaran. Koyasu Kannon yang membawa anak adalah wujud yang digunakan untuk menyamarkan Bunda Maria dengan Bayi Yesus.

Bunda Maria aAda lagi suatu anggapan beberapa sejarawan yang mengatakan bahwa pemujaan Guan Yin sesungguhnya berasal dari Maria – nya orang Kristen. Pada jaman dinasti Tang, Ajaran Kristen Nestorian memasuki Tiongkok dan mulai berkembang. Seorang pendetanya, Alopen Abraham, tiba di Changan, ibukota kerajaan Tang, pada tahun 635 M. Para sejarawan tersebut berkata bahwa ajaran Nestorian memuja Maria dan ini memberikan pengaruh pada Avalokitesvara sehingga ditampilkan dalam wujud wanita di Tiongkok. Guanyin tidak memakai sepatu, ini adalah budaya orang Yahudi. Maria adalah figur welas asih yang dapat memberikan keajaiban, Guan Yin juga seperti itu. Argumen lain mereka adalah Maria memegang daun palem dan menyukai bunga mawar, oleh umat Buddhis diganti menjadi Yang Liu (willow) dan teratai, yang sering dikaitkan dengan Guan Yin.

Buddha Dewi Kwan Im Pu Sa

Buddha Dewi Kwan Im Pu Sa

Namun faktanya adalah kaum Nestorian sebetulnya tidak memuja Maria. Pendiri aliran ini, Nestorius, karena menolak penghormatan kepada Bunda Suci Maria, dipecat dari induk ajarannya. Pada waktu itu kaum Kristen percaya bahwa Maria melahirkan putra Allah. Hanya aliran Nestorian saja yang tak menyetujuinya. Mereka hanya mengizinkan menggantungkan gambarnya sebagai tanda penghormatan, tetapi melarang pemujaan patungnya. Perbedaan waktu antara berdirinya aliran Nestorian dan masuknya ke Tiongkok tidak lama. Jadi mustahil kalau penganutnya di Tiongkok melupakan peraturan ajaran-nya yang asli, lalu memuja Maria. Bahkan kita lihat sendiri bahwa di Tiongkok. Avalokitesvara dalam wujud perempuan telah dikenal dalam Saddharmapundarika Sutra yang sudah diterjemahkan jauh sebelum Nestorian muncul di Tiongkok. Dan jauh sebelum ajaran Nestorian masuk, rupang-rupang dan gambar – gambar Buddha sudah digambarkan dengan tidak memakai sepatu. Tidak hanya Guan Yin yang telanjang kakinya, Arahat dan Bodhisattva lain juga begitu. Figur Guan Yin Yang Welas asih sudah jauh diperkenalkan di Tiongkok sebelum Nestorian bahkan Maria masuk ke Tiongkok. Kitab Fayuan Zhu Lin dan Saddharmapundarika Sutra yang diterjemahkan di Tiongkok sebelum Nestorian masuk sudah mencatat hal tersebut. Teratai adalah simbol kesucian, para Buddha dan Bodhisattva lain juga digambarkan duduk atau memegang teratai. Pangeran Siddharta ketika lahir juga menginjak teratai. Dahan Yang Liu (willow) pun berasal dari Sutra Buddhis yang diterjemahkan sebelum Nestorian masuk ke Tiongkok. Oleh karena itu argumen bahwa Guan Yin perempuan berasal dari Maria adalah tidak masuk akal sama sekali.

Buddha Dewi Kwan Im Pu Sa

Buddha Dewi Kwan Im Pu Sa

Yang Gui Fei (719-756 M), salah satu selir yang sangat cantik, yang paling terkenal dari Kaisar Tang Xuan Zong juga dipuja sebagai manifestasi Avalokitesvara (Guan Yin). Yang Gui Fei dikenal sebagai seorang biarawati Taois. Ia adalah salah satu empat wanita cantik di Tiongkok (Sida Mei Nu). Dikatakan, bahwa ketika Yang Gui Fei meninggal, sang kaisar sangat sedih dan merasa sangat kehilangan dan sang kaisar memerintahkan pembuatan rupang Yang Gui Fei dalam wujud Guan Yin. Rupang ini dibawa ke Vihara Sennyu-ji di Koyoto pada tahun 1255 M oleh Bhiksu Tankai. Rupang tersebut dikenal dengan nama Yokihi Kannon ( 杨贵妃观音) yaitu Avalokitesvara – Ratu Yang.

Kaomentar :

Napae da katae Dawae Kwam Am, Akabat Sabab da Ahlam Raoha saelaloe da lahat Poeteh dagak Bajoe Poeteh.

Dawae Samoa Wajab dagak Safat “Banar” dalam bowat Walas Hasah padae Makhloek.

 

 

Advertisements

About Tjoapoetra

Suatu perbuatan yang menguntungkan makhluk lain dan diri sendiri maka perbanyak lakukanlah. Suatu perbuatan yang merugikan makhluk lain dan menguntungkan diri sendiri jangan dilakukan. Suatu perbuatan yang merugikan makhluk lain dan diri sendiri maka hindarilah dan jangan dilakukan. Fav : Bernapaslah dengan Cinta, Bernapaslah dengan Kasih, Bernapaslah dengan Kejujuran. Berjalanlah dengan Kebenaran, Berjalanlah dengan Kedamaian, Berjalanlah dengan Kesetiaan. Berusahalah dengan Giat, Berusahalah yang Terbaik, Berusahalah setiap Waktu. Harapan Semua Makhluk Bahagia, Harapan Semua Makhluk Sejahtera, Harapan Semua Makhluk Terlepas dari Penderitaan Dan Sukses Selalu dalam Kebajikan. Pada Tiap Kehidupan : Lakukanlah yang terbaik untuk kebaikan dalam kebenaran apapun yang terjadi pada diri sendiri. Tetap fokus pada Kebajikan sehingga menciptakan Kedamaian, Kebahagian dan Kesejahteraan bagi semua Makhluk.

Posted on September 24, 2013, in History Profile. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: