Buddha Kwan Kong ( Guan Yu )

Cerita pada jaman dahulu kala

Penerbit:

Buddhist Education Center Surabaya

 

Penyusun:

Hendrick Tanuwidjaja (Upasaka Vimala Dhammo / Yeshe Lhagud)

*Penyusun adalah mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Kristen Petra angkatan

2007. Divisuddhi Trisarana oleh Sukhito Thera dan Zurmang Drukpa Rinpoche. Aktif

dalam penulisan artikel dan layouting majalah Buddhis Nasional Sinar Dharma. Penulis

juga pernah menjabat sebagai moderator Mahayana di forum Buddhis Dhammacitta,

pernah terlibat dalam organisasi Vihara Berkah Utama (Theravada) dan kegiatan Harmonize

Camp Buddha Light’s International Association Indonesia Young Adult Divison

(YAD – Fo Guang Shan – Permusibi).

 

Editor:

Tjahyono Wijaya

 

Layout:

Hendrick Tanuwidjaja

Tan Tiong Bing

Pengutip memohon ijin dan menulis ulang :

– merubah pemujaan menjadi penghormatan, memuja menjadi menghormati,

– agama menjadi ajaran

Mark Mamangkey Tjost (081808035878)

Guru Buddha Kwan Kong ( Sangha )

Guru Buddha Kwan Kong ( Sangha )

Sejarah Singkat Guan Yu

 

Sebagian besar orang bisa saja tidak mengenal nama Bodhisattva Sangharama, tetapi begitu melihat citra rupang seorang jendral gagah perkasa dengan jenggot panjang indah bergemulai dan paras muka merah lebam berkilau, maka mereka pasti akan langsung tahu. Ya, Bodhisattva Sangharama adalah Guan Yu alias Guan Gong (Kwan Kong).

Siapa tidak tahu Guan Yu? Banyak orang mengetahuinya dari cerita Sam Kok (Kisah Tiga Negara) dan game Dynasty Warrior. Namun, tahukah kita bagaimana latar belakang Guan Yu hingga dinobatkan sebagai Dharmapala (Pelindung Dharma) dalam tradisi Mahayana Tiongkok?

Sangharama Boddhisattva

Sangharama Boddhisattva

Guan Yu 關羽 (160 – 219 M), alias Yun Chang (雲長), lahir pada tanggal 24 bulan 6 Imlek, adalah penduduk asal Jiezhou, Hedong (sekarang Yuncheng, Propinsi Shanxi). Sejak kecil dididik dalam bidang kesusastraan dan sejarah. Beliau sangat menggemari kitab sejarah Chunqiu (Musim Semi dan Gugur) dan Zuozhuan (kitab sejarah karya Zuo Qiuming). Guan Yu memiliki 3 anak: Guan Ping (關平), Guan Xing (關興) dan Guan Suo (関索).

Clip_3

Salah satu watak istimewa yang dimiliki Guan Yu adalah jiwa setia dan ksatria, beliau berani membela yang lemah dan tertindas. Tahun 184, Guan Yu melarikan diri dari kampung halamannya setelah membunuhorang demi membela kaum lemah. Beliau menuju wilayah Zuo, kemudian berkenalan dengan Liu Bei (劉備) dan Zhang Fei(張 飛). Liu Bei adalah anggota keluarga Kaisar Kerajaan Han yang sedang merekrut prajurit untuk membasmi pemberontakan Serban Kuning. Karena memiliki cita-cita yang sama, maka mereka bertiga menjalin tali persaudaraan yang dikenal dengan sebutan Tiga Pertalian Setia di Taman Bunga Persik. Semenjak itu, mereka bertiga berkomitmen sehidup semati memperjuangkan cita-cita penegakan hukum demi membersihkan Kerajaan Han dari gerogotan korupsi dan pengkhianatan.

Clip_4Namun Kerajaan Han yang telah berdiri kokoh selama 400 tahun itu akhirnya terpecah menjadi 3 kerajaan, yang mana Liu Bei sebagai salah satu anggota keluarga kerajaan menyatakan diri sebagai penerus Dinasti Han. Era inilah yang kemudian terkenal dengan sebutan San Guo (Sam Kok – Tiga Negara). Perjuangan keras tiga bersaudara Taman Bunga Persik untuk mempersatukan Tiongkok tidak berhasil. Begitulah hingga usia 60 tahun, Guan Yu bersama putranya, Guan Ping, akhirnya gugur dalam pertempuran.

Meskipun demikian, rasa hormat terhadap Guan Yu tidak serta merta lenyap seiring dengan gugurnya pahlawan berparas merah lebam ini. Keberanian, kesetiaan dan jiwa ksatria beliau menjadi kisah harum dalam masyarakat Tionghoa selama turun temurun.

Banyak tokoh dalam Kisah Tiga Negara yang di kemudian hari menjadi dewa pujaan bangsa Tionghoa. Yang lebih banyak dijumpai adalah kuil penghormatan bagi Guan Yu, Zhang Fei dan Zhu Geliang. Khusus untuk Guan Yu, salah satu dari lima jendral utama Liu Bei, sejak Dinasti Song dan Yuan, penghormatan terhadap beliau berkembang sangat pesat, bahkan pada awal Dinasti Qing telah menyebar hampir ke seluruh pelosok Tiongkok, sehingga tak heran kalau kaum wanita dan anak-anak tidak ada yang tidak tahu akan Dewa Perang satu ini.

Tercatat semenjak tahun 1102 semasa kekuasaan Kaisar Huizong dari Dinasti Bei Song (Song Utara), kemudian Dinasti Nan Song (Song Selatan), Dinasti Yuan, Dinasti Ming hingga Dinasti Qing tahun 1828, beberapa kaisar menganugerahkan gelar kehormatan bagi Guan Yu. Sebutan kehormatan Sanxi Fuzi atau Sanxi Guan Fuzi (山西夫子 – Suciwan dari Shanxi) adalah diberikan oleh Kaisar Qian Long pada tahun 1736. Sebutan Fuzi hanya dimiliki oleh dua orang, salah satunya dan yang pertama adalah Konfusius (Konghucu) yang disebut sebagai Shandong Fuzi (山东夫子– Suciwan dari Shandong). Dua Fuzi ini seakan menjelaskan filosofi bangsa Tionghoa yang menekankan pentingnya perpaduan Wen (文 – sastra, sipil) dengan Wu (武 – silat, militer), yang mana dalam hal Dua Suciwan Fuzi ini Konfusius adalah Wen, sedang Guan Yu adalah Wu.

Selain itu, dalam kalangan spiritual, dikenal pula kisah perjodohan Guan Yu dengan ajaran Buddha, sebuah ajaran kebenaran sejati yang menembus kepekatan misteri dimensi ruang dan waktu. Ya, Guan Yu menjadi siswa Buddha setelah beliau gugur. Clip_5

Nama Lengkap: Guan Yunchang Anak: Guan Ping (anak angkat, A.D. 182), Guan Xing (A.D. 193), Guan Suo (A.D. 194) Cucu: Guan Tong (anak dari Guan Xing, A.D. 224), Guan Yi (anak dari Guan Xing, A.D. 226)

Awal Mula Sebagai Pelindung Dharma (Dharmapala)

Kisah berikut ini terjadi beberapa ratus tahun setelah gugurnya Guan Yu. Berdasarkan catatan sejarah Buddhis – Fozhu Tongji (佛祖統紀 – Taisho Tripitaka 2053), pada awal bulan 12 Imlek tahun 592 M, (Dinasti Sui, era Kai Huang ke-12), Pendiri Aliran Tian Tai Tiongkok – Master Zhi Yi (智顗), yang juga dikenal dengan sebutan Master Zhizhe (智者) tiba di sekitar Gunung Yuquan di Dangyang, Jingzhou. Melihat suasana pegunungan di wilayah itu sangat menawan maka bermaksud membangun sebuah vihara untuk membabarkan Dharma di tempat itu. Di situ ada sebuah telaga besar, dari telaga itu terpisah seratus langkah lebih ada sebuah pohon besar yang sangat rindang, Zhi Yi kemudian bermeditasi di bawah pohon itu.

Pada suatu hari, langit tiba-tiba menjadi gelap, cuaca berubah, di empat penjuru tertampak para makhluk gaib. Saat itulah muncul seekor ular raksasa ganas yang panjangnya sepuluh zhang lebih (1 zhang sekitar 3,33 meter). Tertampak berbagai wujud hantu dan siluman dengan bermacam senjata seperti golok, pedang dan panah yang jatuh dari langit bagaikan air hujan. Penampakan ini berlangsung terus selama 7 hari, namun Zhi Yi tidak tergoyahkan. Selepas hari ke-7, Zhi Yi berucap, “Yang kalian lakukan ini adalah karma buruk yang menyeret pada proses kelahiran dan kematian. Serakah pada buah karma baik duniawi yang tersisa, pun tidak menyesali apa yang kalian perbuat.” Begitu ucapan ini berakhir, segala penampakan menyeramkan itu hilang lenyap. Cuaca kembali menjadi cerah, bulan terlihat jelas sekali.

Saat itu muncul dua orang lelaki yang tampak berwibawa. Yang lebih tua ber janggut lebat, sedang yang lebih muda mengenakan topi dan berwajah rupawan. Lelaki yang lebih tua maju ke hadapan Zhi Yi dan berucap, “Saya adalah Guan Yu. Oleh karena situasi era akhir Dinasti Han sangat kacau, saya lalu ingin memulihkan silsilah kerajaan, namun apa daya kenyataan yang terjadi tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Setelah meninggal saya menjadi raja gunung ini. Yang Arya, dengan tujuan apakah Anda datang ke sini?” Zhi Yi menjawab, “Saya berharap dapat membangun vihara membabarkan Dharma di tempat ini.”

Aula Sangharama di Vihara Daxiong Chansi

Aula Sangharama
di Vihara Daxiong Chansi

Guan Yu menjawab, “Mohon Yang Arya dapat memaafkan perbuatan bodoh saya sebelumnya dan berwelas asih pada kami. Tidak jauh dari sini ada sebuah gunung yang berbentuk perahu terbalik, tanahnya dalam dan tebal. Saya dan putra saya, Guan Ping, akan membangun vihara di sana untuk melindungi Buddha Dharma. Mohon Anda terus melanjutkan meditasi dengan tenang, 7 hari kemudian vihara akan rampung.”

Clip_7

Master Zhi Yi kemudian kembali bermeditasi, 7 hari kemudian menuju ke tempat yang disebutkan Guan Yu. Ternyata tempat yang sebelumnya merupakan telaga yang sangat dalam telah menjadi rata dan terlihat sebuah vihara yang megah dan menawan. Vihara itu kemudian diberi nama Vihara Yuquan (玉泉寺).

Rupang Sangharama

Rupang Sangharama

Suatu hari Guan Yu muncul di hadapan Master Zhi Yi dan berkata, “Saya hari ini mendengar Dharma tentang metode meninggalkan kehidupan duniawi, sebab itu berikrar ingin membersihkan batin, menerima Sila dan selamanya menjalankan Jalan Bodhi.”

Master Zhi Yi kemudian membangun sebuah kuil untuk Guan Yu di sebelah barat laut vihara. Sebuah batu ukiran yang bertajuk tahun 820 M di Vihara Yuquan mengisahkan tentang pertemuan antara Guan Yu dan Zhi Yi tersebut. Di dinding kuil yang didirikan Zhi Yi untuk Guan Yu, tertulis syair berpasangan: “Wajah merah dengan hati merah, menunggang kuda kelinci merah mengejar angin, sewaktu melesat tidak melupakan Kaisar Merah. Dengan pelita hijau membaca kitab sejarah, bersenjatakan golok bulan sabit naga hijau, di tempat yang paling tersembunyi tidak menyalahi langit biru.”

 

Syair berpasangan ini memuji keperkasaan dan kesetiaan Guan Yu, ini bisa kita ketahui dari maknanya yang adalah sebagai berikut: Berparas merah lebam dan berjiwa setia (yang disimbolkan sebagai berhati merah), menunggang kuda perkasa berbulu merah berkepala seperti kelinci yang larinya secepat angin, ketika melesat di atas pelana kudanya ke segenap penjuru tidak lupa bahwa dirinya adalah jendral Kaisar Han; Di bawah sorotan pelita minyak berwarna hijau membaca kitab sejarah yang terukir di batangan bambu hijau, membawa golok bulan sabit naga hijau, di dalam benak sanubarinya yang terdalam tidak ada perbuatan tercela yang melanggar Langit. Sebuah syair yang sangat indah yang melukiskan paras wajah, kuda, senjata, kesetiaan, kegemaran hingga moralitas Guan Yu.

Master Tiantai Zhiyi

Master Tiantai Zhiyi

Kisah serupa juga tercatat dalam dua kitab yang lain. Salah satunya adalah Chongxiu Yuquanshan Guanmiao Ji (重修玉泉山 关庙记 – Catatan Pemugaran Kuil Guan Yu Gunung Yuquan) yang ditulis oleh Dong Ting (董侹) semasa Dinasti Tang pada tahun 820. Dari catatan ini bisa diketahui adanya dua hal, yakni:

1, menjelaskan lokasi Kuil Guan Yu yang terletak 300 langkah di arah barat laut Vihara Yuquan, Dangyang;

2, mencatat peristiwa perjumpaan Master Zhi Yi dengan Guan Yu.

Kitab satunya lagi adalah Guandizhi Lingyi Jian Yuquan edisi Qing Qianlong (清乾隆版《關帝志• 靈異•建玉泉 – Catatan Guan Di, Pengalaman Gaib, Mendirikan Yuquan, edisi Qian Long Dinasti Qing) yang menuliskan: Tahun Suikaihuang 12 (592), di Dangyang Zhi Zhe dari Tiantai pada malam hari bermimpi Guan Gong menunjukkan kegaiban, berjanji “Saya seharusnya menyumbangkan tenaga mendirikan sebuah vihara melindungi Buddha Dharma”, lalu mempertunjukkan kekuatan luar biasa mendirikan Vihara Yuquan, Guan Gong menerima Panca Sila, kemudian menjadi Dewa Pelindung vihara ini.

Selain kisah di atas, ada satu versi lain ten tang kisah bagaimana Guan Yu menjadi seorang pelindung agama Buddha. Dikatakan bahwa pada suatu malam Guan Yu menemui Bhiksu Zhi Kai (智 鎧), murid dari Tiantai Master Zhi Yi, dan menerima Trisarana dari Bhiksu Zhi Kai. Kemudian Bhiksu Zhi Kai melaporkan perjumpaan dengan Guan Yu tersebut kepada Yang Guang, Pangeran Jin (yang kelak akan dikenal sebagai Kaisar Sui Yang Di – 隋煬帝). Pangeran Yang Guang memberikan Guan Yu gelar “Bodhisattva Sangharama”. Itulah asal muasal dari mana gelar Sangharama diberikan kepada Guan Yu. Clip_10

Penghormatan Guan Gong mulai meluas di kalangan Taoisme pada abad ke-12 M. Menurut sejarawan Boris Riftin dan Barend J. Ter Haar, penghormatan Guan Yu di kalangan Buddhis mengawali penghormatan religius Guan Yu di Tiongkok. Bahkan di dinding kuil Guan Miao di Vihara Yuquan terdapat tulisan “Tian Xia Di Yi Guan Miao” (天下第一關廟), yang berarti Kuil pertama Guan Yu di Tiongkok. “Kuil pertama yang ditujukan pada Guan Yu adalah di vihara Yuquan di provinsi Dangyang. Hubei. Kuil (Guan Miao) ini didirikan pada tahun 713 M dan melekat pada vihara Buddhis di Gunung Yuquan. Peran Guan Yu sebagai dewa pelindung dan vihara-vihara, yang dipelopori oleh para Buddhis, menjadi meluas pada abad ke-9 M. Tidak membutuhkan waktu lama bagi kuil-kuil Taois untuk menjadikannya sebagai dewa pelindung dan pada masa Dinasti Song (960-1279) penghormatan Taois atas Guan Yu menjadikannya sebagai figur dewa pelindung. Di Xiezhou di Shanxi, di mana Guan Yu lahir, sebuah kuil Taois didirkan untuk Guan Yu di Danau Garam pada masa Dinasti Song” (Prasenjit Duara, The global and regional in China’s nation-formation)

Pintu Gerbang Guan Miao di Yuquan Shan

Pintu Gerbang Guan Miao
di Yuquan Shan

Dalam versi lainnya, seperti dalam Catatan Kisah Tiga Negara (San Guo Yan Yi – 三國演義), Guan Yu muncul di hadapan Bhiksu Pu Jing (普淨) di malam saat gugur karena dipenggal oleh Raja Wu dari pihak Sun Quan. Tubuhnya dikubur di dekat Gunung Yuquan yaitu di Jingmenzhou. Di sela-sela kegalauan atas kehilangan kepala, raga halus (gand harva) Guan Yu bergentayangan mencari kembali kepalanya, “Kembalikan kepalaku”. Bhiksu Pu Jing dengan kekuatan batinnya melihat Guan Yu turun dari angkasa menunggang kuda sambil menggenggam golok besar Naga Hijau, bersama dengan 2 pria, Guan Ping dan Zhou Cang. Semasa hidupnya saat dalam pelarian dari kubu Cao Cao, Guan Yu pernah ditolong oleh Pu Jing di Vihara Zhen-guo. Lalu Bhiksu Pu Jing memukul pelana kuda dengan kebutan cambuknya seraya berkata, “Di mana Yun Chang?” Seketika itu juga Guan Yu tersadarkan.

Dengan beranjali, Guan Yu bertanya, “Siapakah anda?” Saya ingin mengetahui nama anda.” Sang bhiksu menjawab, “Bhiksu tua ini dikenal dengan nama Pu Jing.” “Kita telah bertemu sebelumnya di Vihara Zhenguo, tuanku. Apakah anda lupa?” Guan Yu menjawabnya, “Rasa terima kasih atas bantuan yang anda berikan kepada saya tetap ada dalam ingatan saya. Sebuah kemalangan telah menimpa saya.” Guan Yu kemudian memohon petunjuk untuk dapat terbebas dari kegelapan pengembaraan batin.

Pu Jing memberi nasehat, “Dulu salah atau sekarang benar tak perlu dipersoalkan lagi, karena terjadi pada saat sekarang tentunya ada sebab pada masa lalu.” Pu Jing lalu melanjutkan, “Jendral, Anda hari ini dibunuh oleh Lu Meng, hati Anda tidak bisa menerima hal ini, namun Anda pernah memenggal kepala enam jendral penjaga lima perbatasan serta banyak lagi lainnya, kepada siapa mereka ini meminta kembali kepala mereka?” Kata-kata Pu Jing itu terasa sangat menyentak.

Prasasti Guan Gong di Yuquan Shan

Prasasti Guan Gong di
Yuquan Shan

Seperti puisi yang ditulis oleh Mahaguru C’han Xu Yun (1840 -1959): “Saya menanti mereka yang juga berikrar untuk mendaki Bodhi. Mengenang Guan Zhangmiu (Guan Gong) di puncak Yuquan. Mencapai Realita Pamungkas setelah mendengar sepatah dua patah kata.”

Setelah tersadarkan dari kegalauannya, Guan Yu memohon untuk dapat menerima Trisarana dan Panca Sila. Sejak itu Guan Yu sering muncul melindungi masyarakat di sekitar Gunung Yuquan. Sebagai rasa terima kasih kepada Guan Yu, para penduduk membangun kuil di puncak Gunung Yuquan.

Awal mula jodoh karma antara Bhiksu Pu Jing dengan Guan Yu, diceritakan dalam satu legenda. Alkisah kelahiran lampau Guan Yu adalah raja naga yang dengan welas asih membantu rakyat yang mengalami bencana kekeringan dengan menurunkan hujan. Namun ia melakukannya tanpa seizin raja Sakra Devanam Indra, lantas ia dipenggal sebagai hukumannya. Setelah sang raja naga meninggal, Bhiksu Pu Jing yang menemukan jasadnya membantu membacakan doa-doa di hadapan jasadnya dan akhirnya raja naga tersebut terlahir kembali menjadi Guan Yu.

Prasasti Guan Gong di Yuquan Shan

Prasasti Guan Gong di Yuquan
Shan

Gubuk rumput tempat tinggal Pu Jing kemudian dibangun menjadi sebuah vihara yang kelak bernama Vihara Yuquan. Kemudian pada abad ke-6, Zhi Yi berniat membangun kembali vihara di lokasi tersebut dengan nama Vihara Yuquan. Dalam pembangunan kembali ini dikisahkan Zhi Yi mendapat bantuan dari Guan Yu, beserta pihak kerajaan seperti dari Pangeran Yang Guang dan ayahnya, Raja Sui Wendi yang memegang pemerintahan pada masa itu. Vihara Yuquan ini di dalam kompleksnya terdapat kuil Guan Miao (kuil untuk Guan Yu). Ini adalah salah satu tempat penghormatan Guan Yu yang tertua, juga merupakan vihara tertua di Dangyang. Tempat penampakan raga halus Guan Yu ditandai dengan sebatang pilar batu yang bertuliskan:

“Di sini tempat Guan Yun Chang dari Dinasti Han menampakkan diri.” Pilar batu itu adalah hadiah dari Kaisar Wan Li masa Dinasti Ming dan masih bisa dilihat sampai sekarang.

Penampakan Guan Yu juga bisa ditemukan dalam Lidai Shenxian Tongjian (歷代神仙通 鑒 – Pembuktian Bersama Dewa-Dewa Berbagai Dinasti) karya Xu Dao. Dalam buku yang disebut juga Sanjiao Tongyuan Lu (三教同源 錄 – Catatan Tri Dharma Satu Sumber) ini disebutkan sebagai berikut: Shen Xiu (神秀 – kakak seperguruan Patriarch Ch’an ke-6, Hui Neng 惠 能), pada tahun 676-679 semasa Dinasti Tang tiba di Vihara Yuquan dan ingin mendirikan tempat pembabaran Dharma. Penduduk sekitar sangat memuja dan menghormati Guan Gong. Shen Xiu ingin merobohkan Kuil Guan Yu, tibatiba gumpalan awan hitam dari empat penjuru berkumpul di tempat itu, terlihat Guan Yu membawa golok dan menunggang kuda. Shen Xiu mendongakkan kepala dan bertanya, lalu Guan Yu dengan terperinci menjelaskan peristiwa sebelumnya. Setelah itu Shen Xiu segera mendirikan vihara dan menjadikan Guan Yu sebagai Pelindung Vihara (Sangharama). Sejak itulah kisah ini menyebar ke setiap vihara.

Clip_14

Tentang ucapan “Guan Yu dengan terperinci menjelaskan peristiwa sebelumnya”, tidak ada penjelasan lebih lanjut, ada kemungkinan itu merujuk pada kisah perjumpaan Guan Yu dengan Master Zhi Yi.

Altar Guan Miao di Yuquan Shan

Altar Guan Miao di Yuquan Shan

Dalam Sutra Saptabuddha Ashtabodhisattva Maha Dharani Sutra (Sutra tentang Mantra Sakti Mahadharani yang dibabarkan 7 Buddha dan 8 Bodhisattva) tercatat bahwa ada 18 Sangharama (Qielan Shen) sebagai pelindung lingkungan vihara, yaitu:

Mei Yin, Fan Yin, Tian Gu, Tan Miao, Tan Mei, Mo Miao, Lei Yin, Shi Zi, Miao Tan, Fan Xiang, Ren Yin, Fo Nu, Song De, Guang Mu, Miao Yan, Che Ting, Che Shi, dan Bian Shi.

 

Guan Yu sendiri bukanlah sosok yang tercatat dalam Sutra Mahayana sebagai Sangharama. Term Sangharama sendiri mengandung pengertian sebagai tempat tinggal anggota Sangha, atau lebih umum dikenal sebagai vihara. Secara etimologi, istilah Sangharama telah dikenal sejak masa kehidupan Buddha. Selain 18 dewa Sangharama yang telah disebutkan di atas, dua tokoh yang dianggap sebagai pelindung utama Sangharama adalah Anathapindika dan Pangeran Jeta, penyokong Vihara Jetavanarama pada masa kehidupan Buddha.

Aula Sangharama di Vihara Tiongkok

Aula Sangharama di
Vihara Tiongkok

Secara kualitatif, Guan Yu memiliki pengabdian yang setara dengan para Pelindung Sangharama, pun karena memiliki komitmen yang besar untuk melindungi lingkungan vihara, maka tidaklah mengherankan bila kemudian diapresiasi secara khusus oleh Mahayana Tiongkok sebagai Bodhisattva Sangharama, ada juga yang menyebut sebagai Bodhisattva Satyadharma Kalama. Pada tahun 1081 M, tokoh politik Song Utara dan umat Buddha bernama Zhang Shangying (張商英) menyebut Guan Yu sebagai Pelindung Dharma.

Di kalangan Mahayana Tiongkok, Guan Yu sering ditampilkan berdiri berpasangan dengan Dharmapala Veda (Weituo Pusa) yang juga merupakan Pelindung Dharma. Keduanya mendampingi rupang Buddha atau Avalokitesvara.

H.H Gyalwa Karmapa ke-17, pemimpin dari Karma Kagyud pernah menulis buku Sadhana kepada Sangharama Maha Dewa Guan Gong. Selain itu, Ven. Hai Tao pernah memberikan ceramah mengenai Guan Gong. Belakangan ini di luar negeri, terdapat beberapa upacara Sangharama yang diadakan dan dihadiri bersama oleh Sangha Mahayana dan Vajrayana. Bahkan di Guandi Miao (Kuil Guan Gong) di Jepang, setiap kali pada perayaan hari raya Guan Gong (Kantei-tan/Guandi Dan) selalu dipimpin para Bhiksu Mahayana. Tidak seperti di vihara-vihara Mahayana Tiongkok, di Jepang jarang ditemukan vihara yang memiliki altar Guan Yu. Hanya vihara-vihara beraliran Obaku Zen yang mendirikan Garando (Aula Sangharama), yaitu aula untuk Guan Gong, di kompleks viharanya, contohnya seperti Vihara Manpuku-ji.

Altar Sangharama di Vihara Obaku Zen Mampuku-ji Jepang

Altar Sangharama di
Vihara Obaku Zen Mampuku-ji
Jepang

Pembukaan pratima Guan Gong (Sangharama) di Vihara Tiongkok oleh bhiksu Sangha

Pembukaan pratima Guan Gong
(Sangharama) di Vihara Tiongkok oleh bhiksu Sangha

Clip_19

Clip_20

Terlahir di Alam Manakah Guan Yu?

Guan Yu, meskipun memiliki sifat-sifat luhur dan berkebajikan, namun karena semasa hidupnya banyak melakukan pembunuhan, maka setelah meninggal beliau terlahir di alam hantu. Seperti dikatakan oleh Master Ch’an Hsuan Hua, murid Mahaguru Xu Yun (Awan Kosong), dalam komentarnya pada Shurangama Sutra:

 

“Beberapa makhluk halus memiliki hati yang baik dan bertindak sebagai para Pelindung Dharma. Guan Di Gong adalah salah satu contohnya. Ia adalah makhluk halus yang kuat dan agung. Jenis makhluk halus ini melindungi dan menyokong Triratna. Mereka dapat menggunakan spiritual mereka untuk menuju ke kekosongan.”

 

“Ada puluhan ribu jenis makhluk halus. Guan Di Gong di Tiongkok adalah salah satu contoh dari seorang makhluk halus yang kaya raya. Namun setelah ia berlindung di dalam Buddha, maka ia dikenal sebagai Bodhisattva Sangharama, seorang Pelindung Dharma.”

Jadi ketika Guan Yu meninggal, Beliau terlahir kembali di alam preta, di mana dikisahkan bahwa Beliau mencari-cari kepalanya yang hilang. Setelah bertemu dengan Sang Bhiksu, Beliau tersadar akan kesalahan-kesalahannya, menjadi Pelindung Dharma dan mendapat Trisarana. Beliau menjadi tercerahkan dan banyak berbuat bajik sehingga terlahir kembali di alam Deva, sebagai Pelindung Dharma juga.

Mengenai perang, ada satu kisah dalam kitab suci Tipitaka. Suatu hari, Sinha, seorang tentara, mengunjungi Guru Buddha dan mengatakan, “O Bhagava, saya adalah seorang tentara yang ditunjuk oleh raja untuk menegakkan hukum dan berperang. Guru Buddha mengajarkan cinta kasih yang universal, kebaikan, dan kasih sayang untuk makhluk yang menderita. Apakah Buddha mengizinkan pemberian hukuman untuk para penjahat? Dan juga, apakah Buddha menyatakan bahwa berperang demi melindungi rumah, istri, anak-anak, dan harta kita adalah salah? Apakah Buddha mengajarkan agar kita menyerahkan diri sepenuhnya? Apakah saya harus menderita dengan melakukan apa yang disenangi oleh para pelaku kejahatan dan memberikan secara patuh kepadanya yang mengancam akan mengambil secara paksa apa yang menjadi milik saya? Apakah Buddha menetapkan bahwa semua perselisihan termasuk berperang demi alasan-alasan yang pantas seharusnya dilarang?” Buddha menjawab, “Mereka yang pantas dihukum harus dihukum. Dan mereka yang pantas ditolong wajib ditolong. Tidak melukai makhluk hidup apapun, tetapi harus adil, penuh dengan cinta dan kebaikan.” Keputusan ini tidaklah bertentangan karena orang yang dihukum atas kejahatannya akan menderita atas lukanya bukan karena niat jahat sang hakim namun dikarenakan oleh tindakan jahatnya itu sendiri. Tindakan jahat itu sendiri yang telah mengakibatkan luka yang diberikan oleh sang penegak hukum. Jika seorang hakim memberikan hukuman, dia seharusnya tidak menyimpan rasa benci di hatinya. Jika seorang pembunuh dieksekusi mati, dia seharusnya menyadari bahwa hukumannya itu adalah akibat perbuatannya sendiri.

Dengan pemahaman ini, dia tidak perlu lagi meratapi nasibnya tetapi dapat menenangkan pikirannya. Guru Buddha melanjutkan, “Buddha mengajarkan bahwa segala perang di mana terjadi pembantaian terhadap saudara-saudara sendiri adalah sangat disayangkan sekali. Akan tetapi, Buddha tidak mengajarkan bahwa mereka yang terlibat perang untuk memelihara perdamaian dan ketentraman, setelah menggunakan berbagai cara untuk menghindari konfl ik, adalah pantas disalahkan.”

“Perjuangan tetap harus ada, karena pada hakikatnya hidup adalah perjuangan. Tetapi pastikan bahwa engkau tidak berjuang demi kepentingan pribadi hingga menentang kebenaran dan keadilan. Seseorang yang berjuang demi kepentingan pribadi untuk membesarkan dirinya sendiri atau memiliki kekuasaan atau kaya atau terkenal, tidak akan mendapatkan penghargaan. Tetapi, dia yang berjuang demi perdamaian dan kebenaran akan memperoleh penghargaan besar; bahkan kekalahannya akan dianggap sebagai kemenangan.”

“Kemudian Sinha, jika seseorang pergi berperang bahkan untuk alasan yang pantas, dia harus siap-siap untuk dibunuh musuhnya karena kematian adalah bagian dari resiko seorang prajurit. Dan jika karmanya itu mengikutinya, dia tidak memiliki alasan apapun untuk mengeluh. Tetapi jika dia yang menang, keberhasilannya akan dianggap besar, tetapi tidak peduli sebesar apapun itu, roda kehidupan akan berputar kembali dan membawa hidupnya hancur lebur seperti debu. Akan tetapi, apabila dia mampu berkompromi dengan dirinya sendiri dan melenyapkan semua kebencian di hatinya, dan jika dia dapat mengangkat musuhnya yang tertindas dan mengatakan pada mereka, ‘Marilah berdamai dan biarlah kita menjadi saudara,’ maka dia akan memperoleh kemenangan yang bukan keberhasilan sementara; dikarenakan buah kemenangan ini akan bertahan selamanya.”

 

“Seorang jenderal yang berhasil adalah seorang pemenang, Sinha, tetapi dia yang menaklukkan diri sendiri adalah pemenang sejati. Ajaran penaklukan diri sendiri ini, Sinha, tidaklah diajarkan untuk menghancurkan kehidupan orang lain, tetapi untuk melindungi mereka. Seseorang yang telah menaklukkan dirinya sendiri akan lebih siap menghadapi hidup, mengukir keberhasilan, dan meraih kemenangan daripada seseorang yang diperbudak diri sendiri. Seseorang yang pikirannya terbebas dari ilusi keakuan, akan lebih mampu bertahan dan tidak terjatuh dalam pertempuran hidup. Dia, yang tujuannya penuh kebenaran dan keadilan, tidak akan menemui kegagalan. Dia akan berhasil dalam usahanya dan keberhasilannya akan bertahan. Dia yang memiliki cinta akan kebenaran dalam hatinya akan hidup terus dan tidak akan menderita. Jadi, berjuanglah dengan berani dan bijaksana. Kemudian, engkau akan menjadi prajurit pembela kebenaran.”

Tidak ada keadilan dalam peperangan atau kekerasan. Ketika kita yang menyatakan perang, kita membenarkannya; namun ketika pihak lain menyatakan perang, kita menganggap itu tidak adil. Selanjutnya, siapa sebenarnya yang dapat membenarkan perang? Orang seharusnya tidak mengikuti hukum rimba untuk mengatasi masalah manusia. Namun ada kalanya perang terpaksa dilakukan untuk membela negara dan melindungi masyarakat. Maka dari itu dalam Arya-Bodhisattva-gocara-upavisaya-vikurvana-nirdesa Sutra dikatakan: “Seorang raja, yang benar-benar siap untuk berperang, setelah menggunakan tindakan yang terampil ini, meskipun ia membunuh ataupun melukai prajurit lawan, tindakannya itu hanya menimbulkan ketidakbajikan kecil… Mengapa bisa seperti itu? Ini disebabkan karena tindakan tersebut disertai oleh motivasi welas asih dan melindungi. Dengan basis mengorbankan dirinya dan kekayaannya untuk melindungi para makhluk hidup dan demi keluarganya, istri dan anak-anaknya, maka kebajikan yang tidak terbatas akan muncul, bahkan meningkat tajam.”

Dari kutipan-kutipan sabda Sang Buddha di atas, dapat disimpulkan bahwa Guan Gong pergi berperang tidak bisa dijadikan alasan untuk menilai bahwa beliau bukan seorang Bodhisattva. Guan Yu pergi berperang dengan tujuan dan motivasi yang mulia, maka dari itu beliau memperoleh buah karma kebajikan sehingga dapat berjodoh dengan Buddha Dharma, menjadi pelindung Dharma dan nama-Nya dikenal dan dihormati berjuta-juta orang di seantero negeri selama berabadabad lamanya. Walaupun sebelumnya beliau terlahir di alam peta karena bagaimanapun juga karma buruk membunuh itu tetap ada, tetapi kebajikan yang ditanamnya jauh lebih besar sehingga beliau mampu membangkitkan batin Bodhi dan menjadi Dewa Pelindung Dharma. Namun di atas semua itu, ajaran Buddha tidaklah pernah membenarkan perang dalam bentuk apapun juga dan seperti yang beliau ajarkan kepada Sinha, bahwa perdamaian adalah kemenangan yang sejati.

Clip_21

Penghormatan Guan Gong Di Kalangan Vajrayana

Penghormatan Guan Yu juga meluas sampai ke Tibet (terutama di aliran Gelugpa dan Nyingmapa). Altar beliau ada di vihara-vihara Tibet, seperti Mahavihara Tsurphu, sejak kunjungan Maha Ratna Dharmaraja Karmapa V ke Tiongkok atas undangan Kaisar Yong Le dari Dinasti Ming. Dulu di Tibet, Guan Yu sebagai Sangharama dikenal dengan nama Karma Hansheng (噶瑪漢神).

Thangka Tibetan Guan Di dengan 3 Lama Gelug, Zhou Cang dan Guan Ping

Thangka Tibetan Guan Di
dengan 3 Lama Gelug,
Zhou Cang dan Guan Ping

Dalam lukisan Thangka Buddhisme Vajrayana, biasanya Guan Gong didampingi oleh Zhou Chang, Guan Ping, Liu Bei, Zhao Yun, Chitu Ma (kuda kelinci merah Guan Gong) dan Ma She Ye (penjaga kuda Guan Gong). Di atas kepala Guan Gong terdapat figur Amitayus Buddha (mungkin disebabkan karena ada beberapa kalangan yang menganggap Guan Yu sebagai Pengawal Tanah Suci Sukhavati Amitabha Buddha ataupun mungkin karena kisah pertemuannya dengan Panchen Lama ke-5 yang dikenali sebagai emanasi Amitabha Buddha) dan terkadang figur Amitayus digantikan oleh figur seorang Guru dari sekte Gelug (Topi Kuning). Dalam novel Taois Bei You Ji bab 12, ada dikisahkan Guan Yu belajar ajaran Buddha di bawah bimbingan Amitabha Buddha di Alam Sukhavati. Di novel itu juga, yang sarat dengan percampuran Taois-Buddhis, juga mengatakan bahwa Xuantian Shangdi adalah tuan dari Guan Yu. Uniknya, Xuantian Shangdi di buku itu diidentifi kasikan dengan Amitabha Buddha.

Thangka Tibetan Guan Di dengan Buddha Amitayus

Thangka Tibetan Guan Di
dengan Buddha Amitayus

Di Tibet dan Mongolia, penghormatan Guan Di (Dewa Guan Yu) diasosiasikan sebagai Raja Gesar dari Ling yang dikenal merupakan emanasi Guru Padmasambhava. Pengasosiasian tersebut dimulai sejak zaman Dinasti Qing (Manchu). Lobsang Palden Yeshe, Panchen Lama ke-6 (1738 – 1780 M) adalah yang pertama kali mengatakan bahwa Guan Di adalah Gesar. Oleh karena itu Guan Di Miao (Kuil Guan Gong) di Gunung Mopan [Pemari], Lhasa disebut juga dengan nama Gesar Lhakhang / Kwonti Lhakhang. Gesar Lhakhang dibangun pada tahun 1792 atas nama Kaisar Qian Long. Pada waktu tersebut Kaisar Qian Long memerintahkan Jendral Fukang’an beserta 10.000 tentara untuk mengusir tentara Gurkha yang menginvasi Tibet. Jenderal Fukang’an percaya bahwa kemenangannya disebabkan berkah dari Jendral Guan Yu, oleh karena itulah ia berusaha mengumpulkan uang untuk membangun sebuah kuil untuk Guan Yu, dan akhirnya jadilah Gesar Lhakhang di Tibet untuk mengenang kemenangan tersebut. Kisah tersebut termuat dalam inskripsi batu di kuil tersebut pada tahun 1793.

Zhangjia Rolpay Dorje

Zhangjia Rolpay Dorje

Dalam Riwayat Guru Negara Zhangjia (章 嘉國師若必多吉傳) tercatat pula penghormatan pada Guan Gong sebagai Dharmapala. Pada tahun 1736 M, Rolpay Dorje (1717-1786 M), Zhangjia Khutughtu [Tulku] ke-3, meninggalkan Tibet hendak kembali ke Beijing. Dalam perjalanan melewati gunung besar Xiangling di wilayah Sichuan, beliau bermalam di kaki gunung. Malam harinya bermimpi seorang lelaki merah besar yang berkata, “Puncak gunung ini adalah rumahku, mohon untuk beristirahat di sana!” Seusai berucap, dalam satu langkah tiba di puncak gunung, Rolpay Dorje juga dengan seketika tiba di puncak itu. Beliau melihat di sana banyak sekali bangunan rumah yang indah. Lelaki merah besar itu mengajak Zhangjia memasuki rumah yang berada di tengah, lalu menyuguhkan berbagai makanan, pun memanggil istri dan anak-anaknya untuk memberi hormat pada Rolpay Dorje. Laki-laki itu berkata, “Dari tanah ini sampai seluruh bumi Tiongkok ada dalam kekuasaanKu, orang-orang Tibet yang berdana makanan padaKu juga tidak sedikit, terutama seorang Mahathera berusia lanjut di Tibet Belakang selalu mempersembahkan dana makanan dan minuman bagiKu. Mulai hari ini, Aku menjadi PelindungMu, besok Engkau dalam perjalanan akan menemui masalah kecil, Aku bisa membereskannya.”

Thangka Tibetan Guan Di

Thangka Tibetan Guan Di

Esok harinya sewaktu dalam perjalanan, ada seekor kera yang melemparkan sebuah batu besar dari dalam hutan, tepat mengenai kepala seorang pengiring Rolpay Dorje, namun hanya mengalami luka ringan yang tidak membahayakan.

Konon laki-laki merah besar tersebut adalah Guan Yu, yang dalam bahasa Tibet disebut sebagai Trinring Gyalpo (珍讓嘉布) yang artinya adalah Raja Negara Chang Yun (長雲國王), sedangkan yang dikatakan oleh Guan Yu: “Di Tibet Belakang ada yang memberi dana makanan” adalah menunjuk pada Panchen Lama yang memberi persembahan bagi Pelindung Dharma yang rambutnya berkuncir. Sebab itu ada yang mengatakan Guan Yu adalah satu jelmaan dari Pelindung Dharma di Tibet. (Dewa-Dewi di hilangkan oleh pengutip)

Ketika pergi ke Tibet, Zhangjia memberikan puja pada laki-laki merah besar tersebut di kaki Gunung Xiangling. Rolpay Dorje sendiri pernah berkata pada Thuhu-bkwan Khotokto, “Kemudian ketika pergi ke Tibet, di kaki gunung itu kami mempersembahkan arak sebagai tanda penghormatan dan puja, tak tahu dari mana muncul seekor harimau yang terus mengiringi kami hingga tiba di balik gunung. Kejadian waktu itu juga disaksikan oleh para pengiring.”

Altar Gesar - Guan DI

Altar Gesar – Guan DI

Suatu ketika di ibukota, Rolpay Dorje menderita penyakit semacam stroke, kaki dan tangan lumpuh, juga menderita penyakit mata. Penyakit ini diderita sangat lama, meski telah mengundang banyak tabib terkemuka untuk mengobatinya. Siswa pendamping mengadakan upacara Dharma memohon kesembuhan namun tidak banyak menolong, tidak kunjung membaik.

Kaisar Qian Long sangat khawatir, secara bergilir mengundang beberapa tabib suku Han yang terkemuka, Kaisar sendiri juga datang menjenguk, mendukung Rolpay Dorje dengan kebajikan balas budi yang tak terhingga. Saat itu Lama Palsang Choje mengadakan upacara memohon petunjuk dari Dakini, muncul penampakan bahwa tubuh Rinpoche dikelilingi oleh banyak sekali laba-laba raksasa yang hendak menyerang Rolpay Dorje. Kemudian muncul seorang lelaki Han berwajah merah dan membawa pedang mustika yang mengusir

Thangka Gesar - Guan DI

Thangka Gesar – Guan Di

semua laba-laba itu. Malam harinya Rolpay Dorje bermimpi lelaki berwajah merah itu mengatakan, “Hantu-hantu kecil yang melukai tubuhMu telah Kuusir.” Rolpay Dorje bertanya, “Anda tinggal di mana?” Lelaki itu menjawab, “Aku tinggal di sebelah kanan luar pintu gerbang utama di depan Istana Kaisar.” Keesokan harinya, Rolpay Dorje mengirim siswa pendamping untuk melihat tempat yang dikatakan dalam mimpi itu. Ternyata di luar gerbang istana terdapat sebuah kuil Guan Di yang memuja Guan Yu, yang ramai didatangi para umat sejak beberapa generasi. Pasti Guan Di ini yang melindungi Rolpay Dorje, maka diadakanlah upacara penghormatan yang megah. Kemudian atas dukungan dari Jedrung Khutukhtu, Rolpay Dorje menulis sebuah doa pujaan bagi Guan Yu. Tak heran kalau kemudian ditemukan altar Guan Yu di Vihara Yonghe Gong di Beijing yang beraliran Vajrayana Gelugpa.

Jodoh Guan Gong dengan Sekte Gelugpa bisa dilihat dari pengalaman Panchen Lama ke-5. Saat memasuki ibukota untuk menghadap Kaisar Qian Long, Panchen Lama ke-5 melihat seorang jenderal bermuka merah dan berjenggot panjang dengan membawa pasukan datang menyambut.

Namun sesampai di Balairung Istana Kaisar, jendral bermuka merah itu tidak terlihat. Panchen Lama lalu bertanya pada Kaisar Qianlong, Kaisar mengatakan, “Mungkin Guan Gong.” Sejak itulah Guan Gong dipandang sebagai Dharmapala dari Vajrayana Buddhis Sekte Gelugpa. Panchen Lama ke- 5 pernah mengatakan, “Siapa saja yang menjadi Guru Negara Tiongkok atau Hutukutu, hingga semua praktisi Sekte Gelugpa hendaknya memuja Dharmapala Guan Gong ini.”Clip_28

Guan Gong dipandang sebagai Dewa Pelindung Dinasti Qing, sedangkan Vajrayana Buddhis sekte Gelugpa adalah ajaran yang dianut anggota kerajaan Dinasti Qing. Demikianlah Guan Gong (Yang Mulia Guan Yu) dihormati baik oleh kalangan Mahayana maupun Vajrayana (Tantrayana) sebagai Bodhisattva Dharmapala (Pelindung Dharma). Bahkan dalam kepercayaan masyarakat, diyakini Guan Gong kelak akan menjadi seorang Buddha bernama Ge Tian (Ge Tian Gu Fo – 蓋天古佛).

Berbicara tentang hubungan Guan Gong dengan Dinasti Qing, ini bermula dari Nurhaci, pendiri Dinasti Qing. Nurhaci berasal dari Suku Nuchen yang waktu itu banyak tersebar di wilayah timur laut Tiongkok, kemudian nama Nuchen ini diubah menjadi Manchu oleh Hong Taiji, putra ke-4 Nurhaci. Nurhaci dan Hong Taiji menjadikan buku Clip_29Kisah Tiga Negara sebagai kitab perang mereka, tak heran jika mereka begitu mendewakan tokoh-tokoh seperti Guan Gong, Zhuge liang dan sebagainya. Jauh sebelum memusnahkan Dinasti Ming, saat masih berperang mempersatukan suku-suku di wilayah utara Tiongkok, mereka telah beranggapan bahwa Guan Gong adalah Dewa Pelindung Suku Manchu. Selain itu, ajaran asli orang Manchu adalah Shaman. Agar mendapat dukungan dari Suku Mongolia yang berada di wilayah utara, Nurhaci berubah menganut ajaran Buddha tradisi Vajrayana yang banyak dianut oleh orang Mongol. Nurhaci mengikat tali persaudaraan dengan suku-suku di Mongolia dengan menyebut Nuchen (Manchu) sebagai Liu Bei, sedang Mongolia sebagai Guan Gong.

Clip_30 Clip_31

Gesar Lhakhang - Guan Di Miao (Lhasa, Tibet)

Gesar Lhakhang – Guan Di Miao
(Lhasa, Tibet)

Vihara Yuquan Si Guan

Vihara Yuquan Si

Guan Miao di Yuquan Shan

Guan Miao di Yuquan Shan

Tempat Zhiyi bermeditasi di Yuquan Shan

Tempat Zhiyi bermeditasi di Yuquan Shan

Relief kisah Guan Yu di Yuquan Shan

Relief kisah Guan Yu di Yuquan Shan

Prasasti Guan Gong di Yuquan Shan

Prasasti Guan Gong di Yuquan
Shan

Pilar batu penanda tempat Guan Yu menampakkan diri kepada YM Zhiyi

Pilar batu penanda tempat Guan Yu
menampakkan diri kepada YM Zhiyi

Semasa pemerintahan Kaisar Kang Xi selama tahun 1661-1722, para bangsawan dari Suku Manchu masih memuja Guan Gong sebagai dewa pelindung mereka. Bahkan demi menetralisir para pejuang yang ingin memulihkan kekuasaan Dinasti Ming, Kangxi menyebut diri sebagai titisan Liu Bei, kaisar sejati rakyat Han Tiongkok, yang sudah tentu mendapat perlindungan dari Guan Gong.

Altar Sangharama di Vihara Chung Tai C’han, Taiwan

Altar Sangharama
di Vihara Chung Tai
C’han, Taiwan

Sekilas Penghormatan Guan Yu dan Sifat Keteladanan Guan Yu

Sekilas Penghormatan Guan Yu di Kalangan Tao dan Khonghuchu

Guan Yu dihormati oleh tiga ajaran: Buddha, Tao dan Konghucu. Dalam kitab Taois Guansheng Dijun Baogao (關聖帝君寶誥) – Alamar Titah Mulia Guansheng Dijun disebutkan bahwa Guan Gong, “Memegang Kekuasaan San Jiao (Tridharma) Konghucu, Buddha dan Tao”.

Clip_41Pemujaan Guan Yu di kalangan umat Tao dan Konghucu dikenal antara lain sebagai Guansheng Dijun (關聖帝君), Guan Gong (關公), dan Guan Di (關帝). Penghormatan ini tampak nyata sekali di banyak kelenteng. Sejak Dinasti Song para Taois mulai memuja Guan Yu sebagai Dewata Pelindung Malapetaka Peperangan, sedang umat Konghucu menghormati sebagai Dewa Kesusasteraan – Wenheng Dadi (文衡大帝). Di Guanling, terdapat tablet batu yang berisi “Ajaran Master Guan” yang menjelaskan Empat Kebajikan: membaca buku-buku kebajikan, berbicara kebajikan, berbuat kebajikan dan menjadi orang yang bajik, yang keempatnya bersifat Konfusian.

Clip_42Awal penghormatan Guanyu dalam Taoisme berlangsung pada masa Kaisar Song Zhenzong (968-1022). Konon pimpinan dari salah satu lima aliran Taoisme, Zhang Jixian (張繼先) dari Tianshi Dao, melakukan upacara spiritual mengundang Guan Gong untuk mengenyahkan siluman Chiyou yang mengganggu wilayah Yanchi. Inilah kisah yang membawa Guan Gong memasuki kalangan Taoisme. Pada masa Dinasti Ming, Patriark Tianshi Dao yang ke 42, Zhang Zhengchang (張正常) mencatat kejadian ini di bukunya.

Pada tahun 589 M, di Xiezhou Shanxi telah dibangun kuil untuk menghormati Guan Yu, namun kuil ini hanya berfungsi sebagai sebuah tempat penghormatan pada pahlawan / leluhur yang berjasa (memorial cult).

Namun seiring dengan kiprah Zhang Tianshi pada masa Dinasti Song, maka Guan Di Miao di Xiezhou diperbaiki dan dikembangkan hingga sampai dinasti-dinasti berikutnya yaitu Ming dan Qing. Mulai dari Dinasti Song, Guan Di Miao di Xienzhou diurus oleh para Taois dan menjadi bersifat Taois (religious cult). Aula utama kuil ini yaitu Aula Chongning juga dibangun pada masa pemerintahan Song Huizong yang mana beliau memberikan gelar “Chongning” pada Guan Yu. Dengan demikian pusat pemujaan Guan Yu oleh kaum Buddhis bertempat di Yuquan Shan, Dangyang dekat kuburan Guan Yu; sedangkan pusat penghormatan Guan Yu oleh kaum Taois bertempat di Xiezhou, kota kelahiran Guan Yu.

Guan Di Miao, Xiezhou

Guan Di Miao, Xiezhou

Penghormatan Guan Yu ini mulai popular pada masa Dinasti Ming seiring dengan munculnya novel Sanguo Yanyi (Romance of the Three Kingdoms). Guan Di dipuja karena kejujuran dan kesetiaannya, pun dipandang sebagai dewa pelindung perdagangan, dewa pelindung kesusasteraan dan dewa pelindung rakyat dari malapetaka peperangan yang mengerikan. Julukan dewa perang yang umumnya dialamatkan kepada Guan Di, harus diartikan sebagai dewa yang mencegah terjadinya peperangan dan segala akibatnya yang menyengsarakan rakyat, sesuai dengan watak Guan Yu yang budiman. Di kalangan rakyat, Guan Yu juga dianggap sebagai Dewa Rezeki – Wuchai Shen (武財神).

Rupang Guan Yu versi Buddhis Mahayana

Guan Di Miao, Xiezhou

Guan Di Miao, Xiezhou

Di kalangan Mahayana, Guan Yu kebanyakan ditampilkan berdiri sendirian, memegang janggutnya dan memakai “kain surgawi” serta mem bawa senjata. Ada 2 versi Buddhis dari Guan Yu (Sangharama) yaitu Guan Yu yang membawa pedang dan Guan Yu membawa golok naga hijau, tetapi diturunkan. Ketika ditempatkan di satu aula tersendiri dalam sebuah Vihara, Guan Yu digambarkan duduk dengan ditemani Guan Ping dan Zhou Cang. Rupang Guan Yu di Kuil Guan Miao, Vihara Yuquan, digambarkan memegang buku Chunqiu.

 

Lain-lain

Penghormatan pada Sangharama Maha Dewa Guan Gong

Penghormatan pada Sangharama Maha Dewa Guan Gong

Bagaimana mungkin Guan Yu sebagai seorang jenderal yang sering berperang dan membunuh akhirnya dihormati sebagai Bodhisattva? Meskipun tampak kontradiktif, namun semua ini tak lebih hanyalah masa lalu yang telah sirna setelah disadarkan oleh nasihat bhiksu suci. Penyadaran ini seperti halnya kisah kehidupan Angulimala di masa kehidupan Buddha.

Clip_46Namun satu hal yang harus kita ketahui, semasa hidupnya di zaman Tiga Negara, Guan Gong membunuh dalam tugas membela dan ingin memulihkan silsilah Dinasti Han, ini berbeda dengan pembunuhan yang dilakukan atas motif pribadi yang dilandaskan pada keserakahan, kebencian dan kebodohan batin.

YM Bhante Uttamo Mahathera dalam DVD ceramah beliau “Melaksanakan Tradisi Imlek Sesuai Dengan Buddha Dhamma” mengatakan kalau penghormatan Guan Gong sebenarnya berasal dari Buddhis dan gelar Bodhisattva diberikan padanya oleh seorang raja.

Clip_47Bahkan kitab utama Guan Gong yang bernapas Taois dan agama rakyat yaitu Guansheng Dijun Taoyuan Mingsheng Jing (關聖帝君桃園明聖經) menyebutkan, “Han Sou Ting Hou (Gelar Guan Gong) mengarang Bait kitab Taoyuan Jing secara singkat. Ditulisnya dalam Vihara Yuquan, disebarkan ke dalam mimpi kepada orang biasa.”

Sebagai tambahan, di buku 4 ajaran Liao Fan (了凡四訓), dikisahkan seorang bernama Ping Bao yang rela dan tulus mendanakan hartanya demi memperbaiki sebuah vihara agar rupang bodhisattva Avalokitesvara tidak rusak kehujanan. Malamnya, Bodhisattva Qielan (Sangharama) mendatanginya dalam mimpi dan berterima kasih padanya.

 

Sifat Keteladanan Guan Yu

Clip_48Meskipun penghormatan Guan Yu tersebar di berbagai kalangan, seperti lingkungan ibadah, kepolisian, bahkan hingga kalangan mafia yang konon dikatakan meneladani sikap kesetiakawanan Guan Yu, namun tidak berarti aspek negatif dari dunia mafia lalu dikaitkan dengan sosok Guan Yu. Ini hanyalah cermin kebebasan orang dalam memilih tokoh untuk dihormati. Terlepas dari hal ini, ada baiknya kita melihat sifat mulia yang tercermin dari sosok Guan Yu, yang bisa menjadi teladan bagi kita semua.

1. Patriotis

Clip_492. Menjaga norma susila

3. Tidak tergiur akan kesenangan/kenikmatan

4. Tidak silau akan nama dan harta

5. Tidak mengharap yang baru dan membuang yang lama

6. Tidak melupakan kesetiaan persaudaraan

7. Berjiwa altruis (mementingkan orang lain)

Guan Yu bukan saja telah menjadi sosok yang identik dengan pemujaan spiritual, pun adalah penyatu kultur masyarakat Tiongkok di manapun berada dan menjadi sebuah maskot tentang semangat pengabdian, kesetiaan dan sikap lurus.

 

Kisah-Kisah Supranatural Guan Gong

 

Clip_50Sebenarnya tak terhitung banyaknya kisah-kisah kesaktian/supranatural yang dipertunjukkan oleh Dewa Guan Gong, kali ini kita hanya mengambil tiga kisah berikut ini sebagai contoh.

1. Konon di Yuncheng, Shanxi, Tiongkok, semasa perang melawan invasi Jepang juga terjadi peristiwa Guan Gong mempertunjukkan kesaktian melawan imperialisme Jepang. Setelah Jepang menguasai wilayah Jiezhou, suatu hari komandan tentara Jepang pergi ke kelenteng Guan Gong memohon petunjuk qianshi (签诗 – ciamsi), bertanya dapatkah mereka (tentara Jepang) menyeberangi Sungai Huanghe untuk melangsungkan serangan terhadap Xi’an. Alhasil, qianshi mengatakan: “Menyeberangi sungai tidak sulit, tentara dan kuda akan mati.” Sang komandan gusar, lalu mencabut pedang menebas rupang Guan Gong. Seketika itu juga pedang baja itu terbelah menjadi dua. Komandan Jepang itu menjadi takut, kemudian berlari keluar, tapi baru berlari beberapa langkah ia terjatuh dan meninggal. Jelas sekali, Guan Gong menentang invasi, Guan Gong melindungi bangsa dan negara Tiongkok, dewa pelindung negara Tiongkok.

 

Relief di Guan Miao, Yuquan

Relief di Guan Miao, Yuquan

Kesimpulan: Semestinya bukan Dewa Guan Gong dalam kelenteng itu yang mengambil nyawa komandan Jepang, tapi karena rasa takut luar biasa akibat ulahnya sendiri yang tidak benar.

2. Chen Tie-er (陳鐵兒) di Hongkong dalam buku Wushengtang Ji (武聖堂集) mencantumkan:

Clip_52Tahun 1942. Angkatan udara Jepang membom Nanning, Guangxi. Ketika terdengar bunyi tanda bahaya, para wanita dan anak-anak penduduk kota banyak yang berlindung ke dalam gereja. Mereka mengira tentara Jepang tidak akan menyerang gereja orang asing. Namun tentara Jepang tidak mau tahu, mereka tetap menjatuhkan bom secara membabi buta.

Pastor gereja Katolik itu adalah orang barat. Melihat tentara Jepang membom secara membabi buta, pastor segera mengajak para orang tua dan anak-anak untuk berlari keluar menuju ke tanah kosong di daerah pinggiran. Namun tentara Jepang tetap mengejar terus, lalu menjatuhkan dua bom. Untungnya dua bom itu tersangkut di lampu jalan yang sudah usang dan berkarat, sehingga tidak terjadi ledakan.

Clip_53Setelah tanda bahaya dihentikan, orang-orang segera mengamankan dua bom yang bergoyang-goyang hendak jatuh itu sehingga tidak terjadi ledakan. Ketika tentara Jepang menjatuhkan bom itu, pastor barat yang membawa banyak orang menjauhkan diri dari gereja itu melihat di langit ada seorang berperawakan besar yang berwajah merah, berjanggut panjang dan menunggang kuda, tangan orang itu menadah dua bom itu agar tidak jatuh ke tanah, pastor tahu ini adalah kekuatan dewa.

Clip_55Kemudian di sebuah toko di pusat kota, pastor melihat gambar Guan Gong. Pastor merasa gambar itu sama persis dengan wajah orang besar berwajah merah berjanggut panjang yang menadah bom. Sebab itu sang pastor lalu memasang gambar Guan Gong di dalam gereja. Setiap kebaktian, sang pastor lebih dulu menghormat pada gambar Guan Gong, baru kemudian berdoa pada Tuhan.

 

Kesimpulan: Dewa Guan Gong tidak membedakan agama ataupun suku bangsa, inilah pernyataan sikap menjunjung keadilan yang menjadi salah satu ikon Guan Gong.

Clip_56Sebagai penutup, kita kutip sebuah sajak yang dilantunkan sebagai apresiasi terhadap Guan Yu dalam Penuntun Kebaktian Sore kalangan Mahayana Tiongkok:

“Pemimpin Sangharama, yang mempunyai wibawa dan keagungan menata seluruh vihara. Dengan penuh sujud dan kesetiaan menjalankan Buddha Dharma. Selalu melindungi dan mengayomi Dharma Raja Graha. Tempat Suci selalu damai tenteram selamanya. Namo Dharmapala Garbha Bodhisattva Mahasattva Mahaprajnaparamita.”

Kutipan dari : http://dhammacitta.org/perpustakaan/bodhisattva-sangharama-guan-yu-dalam-agama-buddha/

Clip_58

Clip_59

Komentar pengutip akan cerita,

Di kata/tulis bahwa Kwang Kong adalah Muslim (Islam), yang menjadi pertanyaan adalah,
– Muslim baru di perkenalkan sekitar 500 Tahun lalu berarti 1500 sm,
– Kitabnya belum ada,
– Kisah Kwang Kong adalah 2300 Tahun lalu atau 300 tahun sebelum masehi. (Bagaimana dapat bertema?)

Saya sebagai pengutip, tidak mengatakan bahwa perihal tersebut adalah salah, secara Logika tidak dapat di terima, belum termasuk banyak kebohongan yang terjadi dalam Bibel maupun Quran.

Silahkan membaca cerita tersebut di,

https://www.facebook.com/tjoaputra/media_set?set=a.10206105860674727.1073741844.1509000585&type=3

Cerita tersebut beberapa bagian yang membuktikan bahwa awal Dunia bukan akibat penciptaan.

* termasuk Khong Hoe Tjhoe yang tidak sepantasnya di sebut Nabi, Khong Hoe Tjhoe adalah seorang Pelajar berdasarkan Kehidupan dengan memberikan pelajaran melalui puisi sehingga di sebut sebagai Filsafat. Filsafat adalah Ilmu Pengetahuan berbentuk puisi yang harus di telaah/cerna secara mendalam.

Salam Saokses Salaloe.

Kaomentar :

Napae da katae Dawae, Akabat Sabab da Ahlam Raoha saelaloe da lahat Poeteh dagak Bajoe Poeteh.

Dawae Samoa Wajab dagak Safat “Banar” dalam bowat Walas Hasah padae Makhloek.

Advertisements

About Tjoapoetra

Suatu perbuatan yang menguntungkan makhluk lain dan diri sendiri maka perbanyak lakukanlah. Suatu perbuatan yang merugikan makhluk lain dan menguntungkan diri sendiri jangan dilakukan. Suatu perbuatan yang merugikan makhluk lain dan diri sendiri maka hindarilah dan jangan dilakukan. Fav : Bernapaslah dengan Cinta, Bernapaslah dengan Kasih, Bernapaslah dengan Kejujuran. Berjalanlah dengan Kebenaran, Berjalanlah dengan Kedamaian, Berjalanlah dengan Kesetiaan. Berusahalah dengan Giat, Berusahalah yang Terbaik, Berusahalah setiap Waktu. Harapan Semua Makhluk Bahagia, Harapan Semua Makhluk Sejahtera, Harapan Semua Makhluk Terlepas dari Penderitaan Dan Sukses Selalu dalam Kebajikan. Pada Tiap Kehidupan : Lakukanlah yang terbaik untuk kebaikan dalam kebenaran apapun yang terjadi pada diri sendiri. Tetap fokus pada Kebajikan sehingga menciptakan Kedamaian, Kebahagian dan Kesejahteraan bagi semua Makhluk.

Posted on September 21, 2013, in History Profile. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Dewa Kwan Kong, panglima perang yang sangat terkenal dengan keberanian dan kesetiaanya. Kami perajin patung kayu dari daerah Jepara memproduksi patung untuk keperluan pemujaan anda. Untuk referensi silahkan kunjungi website kami di http://www.jayaantikafurniture.com/ kami juga menerima pesanan pembuatan patung dari gambar atau desain anda, silahkan kontak kami di jeparacarving@yahoo.com atau Hp di 081390433160 dan pin BB di 76606632

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: